Bisnis.com, JAKARTA - Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) angkat bicara terkait penyebab kinerja ekspor besi dan baja nasional yang masih tertekan sepanjang awal 2026.
Direktur Eksekutif Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Harry Warganegara mengatakan penurunan ekspor dipengaruhi kombinasi sejumlah faktor eksternal yang masih membayangi industri baja global. Salah satu penyebab utama adalah tingkat permintaan yang belum pulih secara optimal.
"Permintaan baja global masih belum pulih sepenuhnya, khususnya dari sektor konstruksi dan manufaktur di sejumlah negara tujuan ekspor," kata Harry kepada Bisnis, dikutip Minggu (5/7/2026).
Pada saat yang sama, kelebihan kapasitas produksi baja dunia, terutama dari China, masih menekan pasar internasional. Kondisi tersebut membuat persaingan ekspor semakin ketat di tengah harga baja global yang masih berada pada level rendah.
Harry menjelaskan, situasi tersebut berdampak langsung terhadap penurunan nilai ekspor akibat melemahnya harga jual. Selain itu, volume ekspor juga ikut terpengaruh karena produk baja Indonesia harus bersaing lebih keras di pasar global.
Tekanan terhadap ekspor juga datang dari berbagai kebijakan perdagangan yang diterapkan negara tujuan. Penerapan instrumen pengamanan perdagangan atau trade remedies, persyaratan standar teknis yang semakin ketat, hingga meningkatnya proteksionisme di sejumlah negara dinilai membatasi akses pasar bagi produk baja Indonesia.
Baca Juga
- Membaca Peluang Pemulihan Ekspor Besi-Baja RI di Paruh Kedua 2026
- Baja Lapis dan Produk Hilir Berpotensi jadi Motor Ekspor Manufaktur
- Ekspor Batu Bara dan Besi Baja Loyo, CPO Masih Moncer
Di sisi lain, industri baja nasional juga mulai mencermati perlambatan aktivitas manufaktur domestik. Meski belum memiliki data terkonsolidasi dari seluruh anggota terkait dampak penurunan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur pada Juni 2026, IISIA menilai kondisi tersebut berpotensi memengaruhi permintaan baja ke depan.
Harry mengatakan PMI yang berada di zona kontraksi secara umum mencerminkan perlambatan aktivitas manufaktur yang dapat berdampak pada penerimaan order baru, utilisasi kapasitas pabrik, hingga volume produksi industri baja nasional apabila berlangsung dalam beberapa bulan mendatang.
IISIA berharap berbagai kebijakan pemerintah untuk memperkuat daya saing industri dan menjaga pasar domestik dapat segera memberikan dampak positif sehingga aktivitas manufaktur kembali meningkat.
Untuk memperbaiki kinerja industri dan mendukung pemulihan harga baja, IISIA menilai fokus utama bukan menaikkan harga melalui kebijakan tertentu, melainkan menciptakan keseimbangan antara permintaan dan pasokan sekaligus memperkuat daya saing industri nasional.
Sejumlah langkah yang dinilai perlu dilakukan antara lain memperluas akses ke pasar ekspor nontradisional melalui penguatan kerja sama perdagangan dan promosi ekspor, memperkuat pengamanan perdagangan terhadap praktik dumping dan impor tidak fair, serta mempercepat proyek infrastruktur dan program hilirisasi guna meningkatkan permintaan baja domestik.
Selain itu, industri juga mendorong pemerintah menjaga daya saing biaya produksi melalui kepastian pasokan gas bumi dengan harga yang kompetitif dan peningkatan efisiensi logistik.
Pengembangan produk baja bernilai tambah tinggi juga dinilai penting agar ekspor Indonesia lebih kompetitif dan tidak terlalu bergantung pada produk yang sensitif terhadap fluktuasi harga komoditas.
"Dengan dukungan kebijakan yang tepat dan membaiknya kondisi ekonomi global, industri berharap permintaan serta harga baja dapat pulih secara bertahap sehingga kinerja ekspor dan daya saing industri baja nasional kembali meningkat," jelasnya.
Sebelumnya, Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan besi dan baja masih menjadi tiga besar komoditas nonmigas unggulan dengan kontribusi 10,37% terhadap total nilai ekspor nonmigas Indonesia sepanjang Januari—Mei 2026.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, kontribusi sektor besi dan baja hanya berada di bawah lemak dan minyak nabati/hewani (12,76%) serta bahan bakar mineral (11,96%) pada segmen nonmigas.
Namun, kontribusi tersebut dibayangi penurunan volume maupun nilai ekspor. Ateng memaparkan volume ekspor besi dan baja mencapai 8,89 juta ton pada Januari—Mei 2026, turun 5,58% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 9,42 juta ton.
"Sementara itu, nilai ekspor untuk besi-baja tersebut turun 1,61% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi US$11,42 miliar pada Januari-Mei 2026, dari US$11,61 miliar pada periode yang sama tahun lalu," katanya.





