Oleh: Muthia Latifah Ibrahim
Perkuliahan adalah tempat kita berbuat salah dan belajar dari kesalahan itu. Begitulah prinsip dari seorang mahasiswi bernama Julia Syanina Lasimpala, yang tengah menempuh pendidikan jurusan Hubungan Internasional di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Mahasiswi berdarah Gorontalo ini memang sudah aktif berkegiatan sejak ia duduk di bangku SMA, seperti mengikuti lomba debat, karya tulis ilmiah, hingga Duta Siswa Indonesia.
Bagi saya, sebagai teman dekat yang mengamati proses perjuangannya, Julia adalah tokoh inspiratif dan sosok yang wajib kalian kenal. Rasanya tidak akan cukup satu artikel untuk menjabarkan semua alasannya, dan siapa pun yang kenal dia pasti setuju. Tapi kalau kalian butuh bukti, rekam jejak dan deretan pengalamannya sudah lebih dari cukup untuk menceritakan segalanya.
Prestasi Julia tidak pernah berhenti di masa putih abu-abu. Di masa perkuliahan, ia rutin mencicipi berbagai pengalaman baru. Misalnya, Julia pernah memenangkan juara 2 lomba debat ilmiah British Parliamentary yang diadakan oleh UKM debat di kampus.
Selanjutnya, Julia juga terpilih menjadi Google Student Ambassador 2025. Dari 12.000 peserta yang mendaftar se-Indonsia, hanya 800 peserta yang lolos. Bahkan di antara ratusan peserta itu, ia terpilih menjadi bagian dari 100 peserta GSA yang berangkat ke Jakarta untuk menghadiri acara inagurasi tersebut. Tidak berhenti sampai di situ, bayangin lagi-lagi Julia terpilih sebagai salah satu dari lima peserta eksklusif Google Education Immersion yang diberi kesempatan berdiskusi dengan tim Google Deep Mind dari berbagai negara.
Hebatnya, di sela-sela magangnya, rutinitas magang itu sama sekali tidak membuat Julia kehabisan energi. Ketika kesibukan melahap hidupnya, ia malah asyik wara-wiri menjadi relawan untuk berbagai komunitas di Makassar, mulai dari mendampingi Teman Tuli, hingga berhasil menembus seleksi superketat untuk menjadi relawan di Makassar International Writers Festival (MIWF). Momen-momen bermakna ini juga rajin ia bagikan di media sosial, sukses membuat siapa pun yang melihatnya ikutan ketularan semangat positif.
Menariknya, dengan jadwal harian yang padat merayap, urusan kampus tetap jadi prioritas. Di kelas, bukan Julia namanya kalau cuma duduk manis mengamati fenomena. Ia adalah sosok yang selalu menghidupkan suasana di kelas dengan aktif berdiskusi, melempar pertanyaan-pertanyaan kritis, dan pada akhirnya, sukses bikin teman-teman sekelasnya ikutan mikir keras.
Pada akhirnya, Julia membuktikan bahwa masa kuliah terlalu berharga jika hanya dihabiskan di dalam kelas. Melalui rentetan prestasi dan aksi sosial, ia adalah definisi sebenarnya dari mahasiswa yang berdampak. Tulisan ini mungkin belum cukup untuk merangkum seluruh kehebatannya, tapi satu hal yang pasti, yakni dunia butuh lebih banyak energi positif seperti Julia. Kita memang bukan Julia, tapi kita juga bisa menjadi tokoh inspiratif terhadap lingkungan sekitar kita.
Semoga setelah membaca artikel ini, orang-orang bisa mengenal Julia sebagai sosok inspiratif mereka.





