Memperkuat Kecakapan Mengajar Guru dan Dosen di Era AI

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Pengajaran guru dan dosen menjadi aspek strategis yang penting dalam membentuk kompetensi peserta didik yang berkualitas di sekolah hingga perguruan tinggi. Untuk itu, para pendidik harus memperkuat kompetensi pengajaran dan mengeksplorasi pendekatan yang lebih kontekstual dan responsif terhadap perkembangan kebutuhan pendidikan di era kecerdasan buatan ini.

Apalagi pendidikan tetap diyakini memainkan peran penting dalam mendefinisikan kembali makna mengetahui, berpikir kritis, dan berimajinasi secara berbeda di era kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI). Namun, seiring semakin mampunya sistem AI dalam menyusun, menghitung, dan menghasilkan pengetahuan, risiko bahwa peserta didik semakin menyerahkan pemikiran mereka kepada sistem-sistem ini tetap menjadi perhatian kritis.

Untuk mengatasi tantangan ini, pendidik harus membina peserta didik yang mengembangkan kemampuan mereka untuk berpikir kritis, berkreasi tanpa batas, dan berimajinasi secara luas. Dengan demikian, pendidikan dapat memastikan bahwa AI digunakan sebagai alat untuk memperluas kemampuan manusia, bukan sebagai pengganti pemikiran manusia.

Baca JugaAI Mengetuk Pintu Kampus, Masa Depan Pendidikan Dipertaruhkan
Baca JugaPendidikan Tak Hanya Hasilkan Anak Cerdas seperti Habibie atau Einstein

Pro Vice-Chancellor & President Monash University, Indonesia, Matthew Nicholson, menyampaikan kualitas pendidikan berawal dari kualitas para pengajarnya. Dukungan bagi para pengajar dalam mengembangkan praktik pengajaran yang reflektif, adaptif, dan relevan, termasuk dalam merespons pesatnya perkembangan AI, terus diperkuat.

Monash University, Indonesia, melalui Teaching Excellence Program (TEP) 2026, mendorong pengajar untuk mengevaluasi metode yang digunakan dan merancang pengalaman belajar sesuai beragamnya kebutuhan mahasiswa. Pengajar juga didorong untuk memanfaatkan AI sebagai sarana untuk memperkaya proses berpikir, logika, dan integritas akademik.

”Pengajaran tidak hanya sekadar proses pengetahuan, tetapi juga sebagai upaya membangun cara berpikir kritis serta menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi mahasiswa,” kata Nicholson melalui siaran pers Monash University, Indonesia, Jumat (3/7/2026).

Kualitas pengajaran

Menurut Nicholson, Monash University, Indonesia, terus membangun ekosistem pendidikan tinggi yang menempatkan kualitas pengajaran sebagai fondasi utama melalui teaching that transforms. Pendekatan ini diharapkan dapat membekali lulusan tidak hanya dengan pengetahuan akademik, keterampilan berpikir kritis, kemampuan beradaptasi, dan kepercayaan diri dalam menghadapi tantangan di tingkat nasional maupun global. ”Tetapi juga dengan kemampuan untuk memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan industri,” ucapnya.

Para dosen atau pengajar kini tidak hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator yang menginspirasi rasa ingin tahu dan kemampuan pemecahan masalah. Selain itu, pengajar juga membantu mahasiswa mengembangkan kompetensinya untuk berkembang dan berhasil di dunia nyata.

Mahasiswa diajak untuk memahami pengetahuan akademik yang dapat diterapkan agar memberikan dampak nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.

Metode seperti asesmen otentik diterapkan untuk memastikan pembelajaran tetap relevan dengan dunia kerja dan kehidupan sehari-hari. Sementara itu, masukan interaktif mendorong interaksi dua arah yang memperdalam pemahaman, membangun kepercayaan diri, dan menjadikan proses belajar sebagai dialog yang memperkaya proses belajar, bukan sekedar transfer pengetahuan satu arah.  

Associate Professor Claudia Stoicescu di bidang kesehatan masyarakat Monash University, Indonesia, mengatakan mahasiswa  diajak untuk memahami pengetahuan akademik yang dapat diterapkan agar memberikan dampak nyata yang bermanfaat bagi masyarakat. Di ruang kelas, ia mengintegrasikan pengalaman penelitian dan praktik kesehatan masyarakat melalui proses pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning), simulasi tantangan dunia nyata, serta pendekatan yang menempatkan isu kesetaraan dan keadilan sosial sebagai inti dari proses pendidikan.

Baca JugaAI, Kemalasan Berpikir, dan Kesepian

Secara terpisah, Carlos Vargas, Kepala Seksi Pengembangan Guru UNESCO dan Kepala Sekretariat Gugus Tugas Internasional tentang Guru untuk Pendidikan 2030, mengatakan ada keyakinan peran pendidik (guru dan dosen) tetap tak tergantikan. Alasannya, AI tidak dapat meniru pemahaman manusia tentang emosi atau sosialisasi.

”Namun, karena AI akan membentuk kehidupan kita sehari-hari, pendidik harus belajar menggunakannya secara efektif dan etis,” kata Vargas seperti dikutip dari laman Unesco.org.

Memberdayakan pendidik

Oleh karena itu, lanjut Vargas, pengembangan profesional yang komprehensif kepada pendidik perlu diberikan agar mereka tahu kapan harus mengandalkan AI dan kapan tidak. ”Penyalahgunaan dapat memperkuat bias dan stereotip sehingga pendidik harus diberdayakan untuk membentuk AI daripada dibentuk olehnya,” ujar Vargas.

Ann-Louise Davidson, pengajar di Departmen Pendidikan di Concordia University yang juga anggota International Observatory on the Societal Impacts of AI and Digital Technologies, mengingatkan bahaya ketergantungan berlebihan pada AI generatif dalam pendidikan. Hal ini dapat menyebabkan hilangnya otonomi, isolasi, dan kelelahan kreativitas.

Menurut Ann-Louise, ketergantungan untuk menyelesaikan tugas-tugas sederhana pada AI mendorong penerimaan tanpa kritik terhadap konten yang bias atau tidak akurat. Namun, jika digunakan dengan bijak, AI dapat mengurangi pekerjaan berulang dan meningkatkan materi pengajaran.

”Melewatkan seluruh proses penulisan esai memang menghilangkan ketidaknyamanan dalam belajar, tetapi ketika alat tersebut tidak tersedia, Anda tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya sendiri. Siswa harus memahami kebutuhan untuk menjadi protagonis atau tokoh utama sejati, satu-satunya yang diberkahi dengan pemikiran kreatif, agar tidak membatasi diri pada peran sebagai penyunting semata,” kata Ann-Louise.

Penelitian oleh Meaghan MacNutt, pengajar etika profesional di Sekolah Ilmu Kesehatan dan Olahraga Universitas British Columbia (UBC) Okanagan di Kanada, lewat publikasi di jurnal Advances in Physiology Education, mengemukakan mahasiswa dapat menggunakan kecerdasan buatan generatif (GenAI) secara bertanggung jawab. Mahasiswa lebih banyak memanfaatkan AI untuk membantu dalam mempercepat tugas, bukan hanya untuk meningkatkan nilai.

Baca JugaEtika Akademik di Tengah Badai AI

”Di sinilah peran pendidik untuk mampu mengadopsi pendekatan yang mewujudkan kolaborasi dengan daripada ’pengawasan terhadap’ mahasiswa,” katanya.

MacNutt mengatakan, UBC memberikan panduan kepada mahasiswa dan fakultas tentang risiko dan manfaat penggunaan GenAI. Namun, kebijakan mengenai penggunaannya dalam perkuliahan sepenuhnya bergantung pada kebijakan setiap pengajar.

”Seiring kita melangkah maju dengan kebijakan kita, atau bagaimana kita mengajari mahasiswa cara menggunakannya, kita harus ingat bahwa mahasiswa berasal dari latar belakang yang sangat berbeda. Mereka juga memiliki cara yang berbeda untuk mendapatkan manfaat atau dirugikan oleh teknologi ini,” kata MacNutt.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Andi Azwan Menilai Upaya Praperadilan Roy Suryo untuk Ulur Waktu dan Intip Sidang Dokter Tifa
• 19 jam lalukompas.tv
thumb
KLH: Penyelidikan Penyebab Kebakaran TPA Jatiwaringin Dilakukan Setelah Pemadaman Selesai
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Brasil vs Norwegia: Ancelotti Santai Hadapi Haaland, Pede Tim Samba Bisa Lolos ke Perempat Final Piala Dunia 2026
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
Berani Keluar dari Zona Nyaman Bawa Ryu Kintaro Melangkah ke Korea Selatan
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
China luncurkan kelompok satelit baru untuk Konstelasi Spacesail
• 9 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.