Rehabilitasi lahan di Indonesia telah dilakukan sejak sebelum berdirinya Departemen Kehutanan pada 1984. Namun, upaya tersebut masih menghadapi paradoks ekologis. Meski jutaan bibit telah ditanam, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat luas lahan terdegradasi masih mencapai sekitar 14 juta hektar pada 2023.
Sebagai negara dengan hutan hujan tropis terluas ketiga di dunia, Indonesia memegang peran strategis dalam upaya mitigasi perubahan iklim global. Melalui rencana aksi iklim nyata atau nationally determined contribution (NDC), Indonesia menargetkan penurunan emisi 29 persen dengan kemampuan sendiri dan hingga 41 persen dengan dukungan internasional pada 2030.
Pencapaian target tersebut bertumpu pada sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya yang menjadi fondasi agenda FOLU Net Sink 2030. Oleh karena itu, rehabilitasi hutan dan restorasi lahan terdegradasi menjadi langkah penting untuk mewujudkan target FOLU Net Sink 2030 sekaligus menjaga keseimbangan neraca karbon nasional.
Profesor Riset Ilmu Kehutanan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Enny Widyawati mengemukakan, sejumlah program rehabilitasi lahan di Indonesia menunjukkan pola kegagalan yang konsisten. Rendahnya keberhasilan rehabilitasi ini disebabkan oleh tidak optimalnya pemulihan kondisi tanah pada tahap awal restorasi.
”Pemilihan jenis tidak sesuai dengan kondisi biofisik tapak dan belum melibatkan konsorsium mikroba. Secara kelembagaan, desain rehabilitasi tidak ditopang oleh alokasi biaya yang memadai serta minimnya pelibatan masyarakat,” ujarnya saat memberikan orasi ilmiah pengukuhan profesor riset BRIN di kantor BRIN, Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Guna mengatasi masalah restorasi lahan yang belum optimal, Enny merumuskan kerangka ilmiah bernama rekayasa ekosistem tanah berbasis mikroba (rekkosmik). Kerangka rekkosmik menempatkan optimasi fungsi komunitas mikroba tanah sebagai fondasi utama restorasi lahan terdegradasi.
Enny menjelaskan, mikroba tanah menjalankan sedikitnya tiga fungsi strategis, yaitu sebagai agen bioremediasi tanah tercemar, penyangga ketahanan bibit pada kondisi ekstrem, serta penguat efektivitas fitoremediasi (pemanfaatan tanaman untuk pemulihan lahan).
Pembenahan atau ameliorasi tanah dan inokulasi bibit dengan mikroba adaptif terbukti meningkatkan keberhasilan revegetasi, mempercepat pemulihan tutupan lahan. Kemampuan ini juga dapat meningkatkan serapan dan simpanan karbon tanah dalam kerangka FOLU Net Sink 2030.
Menurut Enny, teori relasi tumbuhan mikroba sebagai holobion menegaskan bahwa keberhasilan penanaman bukan semata-mata memindahkan tanaman ke suatu areal. Namun, keberhasilan penanaman ini juga melibatkan komunitas mikroba rizosfer sebagai sistem pertahanan dan pendukung adaptasi.
Penebangan pohon karena aktivitas deforestasi juga menurunkan populasi mikroba akibat terputusnya suplai karbon dan meningkatnya kemasaman rizosfer. Pada sistem monokultur, sumber karbon yang seragam membuat banyak mikroba gagal beradaptasi.
Kerusakan mencapai puncaknya pada pertambangan terbuka saat seluruh lapisan vegetasi disingkirkan. ”Oksidasi mineral sulfidik mengubah komunitas mikroba tanah menjadi didominasi oleh bakteri pengoksidasi sulfur, asidi, teobasilus, ferrooksidan,” tuturnya.
Salah satu pilar yang menopang kerangka rekkosmik yaitu inovasi bioremediasi air asam tambang. Oksidasi mineral sulfida memacu terbentuknya air asam tambang yang menurunkan derajat keasaman (pH) secara drastis serta meningkatkan kelarutan logam dan logam berat. Intervensi bioremediasi mampu memperbaiki kondisi tanah secara simultan.
Metode ini bekerja melalui dua cara untuk mempercepat pemulihan lahan. Kandungan bahan organik dalam sludge menghambat aktivitas bakteri penyebab terbentuknya air asam. Kemudian bakteri baik yang hidup di dalam sludge membantu mengikat logam berbahaya menjadi senyawa yang lebih stabil sehingga tidak mudah mencemari tanah dan air.
”Inovasi ini terbukti meningkatkan pH, mereduksi sulfat dan logam berat secara signifikan, serta biaya lebih rendah dan dampak jangka panjang lebih baik. Pendekatan ini mengoreksi metode penetralan yang selama ini bersifat sementara dan belum menyelesaikan masalah pada sumbernya,” kata Enny.
Rekkosmik juga dapat dilakukan dengan model restorasi produktif 3F (food, feed, dan fuel). Model ini dikembangkan melalui sistem agroforestri yang memadukan tanaman kayu energi dengan tanaman pangan serta tanaman pakan ternak. Pendekatan ini juga diperkuat dengan pemanfaatan mikroba fungsional untuk membantu memulihkan kualitas tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman.
Melalui restorasi berbasis mikrobioma dan lanskap produktif, upaya pemulihan ekosistem tidak hanya berfokus pada perbaikan lingkungan, tetapi juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan. Dengan demikian, restorasi lahan diharapkan mampu memberikan manfaat ekologis sekaligus manfaat ekonomi secara berkelanjutan.
Tanpa pendekatan sistemik, inovasi mikrobiologi tanah sulit diimplementasikan secara luas.
”Seluruh novelti tersebut memiliki relevansi langsung dan strategis terhadap pencapaian FOLU Net Sink 2030. Rekayasa konsorsium mikroba meningkatkan keberhasilan revegetasi pada tapak ekstrem. Integrasi tanaman dan mikroba memungkinkan restorasi lahan tercemar lebih efektif,” ungkap Enny.
Selain itu, kata Enny, model restorasi produktif 3F membuktikan bahwa peningkatan serapan karbon dan kesejahteraan masyarakat dapat dicapai secara simultan. Pada akhirnya, restorasi berbasis mikrobiologi tanah dan lanskap produktif merupakan kunci untuk menjamin sektor kehutanan Indonesia berfungsi sebagai net carbon sink pada tahun 2030.
Meski memiliki potensi besar, Enny menyebut pemanfaatan mikroba tanah untuk restorasi lahan pada skala operasional tidaklah mudah. Keragaman kondisi biofisik lahan Indonesia menuntut mikroba spesifik tapak. Di sisi lain, ketersediaan bank mikroba nasional belum memadai.
”Inokulan sering tidak berfungsi optimal karena gagal beradaptasi dan bersaing dengan mikroba tempatan. Secara teknis, formulasi dan sistem aplikasi belum adaptif. Secara regulasi belum selaras dengan kebutuhan pencapaian FOLU Net Sink. Tanpa pendekatan sistemik, inovasi mikrobiologi tanah sulit diimplementasikan secara luas,” katanya.
Guna mempercepat operasionalisasi Rekkosmik dalam mendukung FOLU Net Sink diperlukan strategi terpadu. Beberapa di antaranya yakni pengembangan strain yang adaptif bahan cekaman, inokulasi konsorsium mikroba pada sistem restorasi produktif, serta inovasi formulasi dan sistem aplikasi berbasis kondisi tapak.
Ke depan, riset restorasi ekosistem juga perlu diarahkan pada pengembangan rekosmik dengan konsorsium mikroba presisi berbasis zona ekologi. Integrasi teknologi geospasial, metagenomik, bioinformatika, internet of things, dan kecerdasan buatan menjadi kunci untuk memahami dinamika mikrobioma tanah sekaligus mengoptimalkan fungsinya.
Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki menyatakan, pemulihan lahan bukan hanya tentang menanam pohon, melainkan juga menumbuhkan kepedulian, memperkuat gotong royong, dan memastikan bahwa manfaat pemulihan lingkungan dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat.
“Sebab pada akhirnya, lahan yang sehat akan menghadirkan lingkungan yang sehat, ekonomi yang kuat, dan kehidupan yang lebih baik bagi generasi yang akan datang,” katanya dalam acara puncak Peringatan Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia (Desertification and Drought Day/DDD) 2026 di Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Sebagai upaya mempercepat pemulihan lahan kritis di dalam dan luar kawasan hutan, Kemenhut mengadopsi pendekatan modern dengan mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan dan penggunaan drone untuk tabur benih dari udara. Kemenhut juga secara aktif memberikan ruang bagi inovasi sains, seperti penggunaan mikoriza untuk reklamasi lahan bekas tambang.





