Bisnis.com, JAKARTA — Harga emas dunia diproyeksi kembali melanjutkan tren penguatan pada pekan depan seiring kenaikan ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat atau The Fed.
Direktur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memperkirakan secara teknikal, harga emas dunia yang terakhir ditutup di sekitar US$4.174 per troy ounce akan memiliki support pertama di US$4.100 dan support kedua di US$4.000 per troy ounce pada pekan depan.
"Sementara pada sisi atas, resistance pertama berada di US$4.248 per troy ounce, sedangkan resistance berikutnya di US$4.348 per troy ounce," ujarnya, Minggu (5/7/2026).
Dia menilai arah pergerakan emas masih ditentukan oleh tiga faktor utama, yakni perkembangan geopolitik Timur Tengah, kebijakan moneter Amerika Serikat, serta permintaan emas fisik dari bank sentral global.
Turunnya harga minyak dunia diperkirakan akan membantu menekan inflasi di Amerika Serikat. Kondisi tersebut membuka peluang bagi bank sentral AS untuk mulai mempertimbangkan penurunan suku bunga apabila tekanan inflasi terus mereda.
Menurutnya, peluang The Fed menurunkan suku bunga semakin terbuka. Jika inflasi AS terus bergerak menuju target 2%, bank sentral Amerika diperkirakan tidak akan mempertahankan suku bunga, melainkan mulai memasuki siklus pelonggaran moneter.
Ekspektasi penurunan suku bunga biasanya menjadi sentimen positif bagi harga emas.
"Kalau melihat kondisi harga minyak mentah terus mengalami penurunan, ada kemungkinan bank sentral Amerika akan menurunkan suku bunga. Nah ini akan membuat harga emas kembali terbang," imbuhnya.
Selain itu, pembelian emas secara agresif oleh berbagai bank sentral dunia juga diperkirakan akan menjaga keseimbangan permintaan global.
Dengan kombinasi faktor tersebut, harga emas dunia dinilai masih memiliki ruang kenaikan yang cukup besar hingga akhir tahun.
Bahkan, apabila skenario penurunan suku bunga AS terealisasi dan pembelian emas oleh bank sentral tetap berlanjut, Ibrahim memproyeksikan harga emas dunia berpeluang kembali menembus level US$5.000 per troy ounce sebelum akhir 2026.





