Bisnis.com, JAKARTA — Pemulihan konsumsi masyarakat Indonesia dinilai masih berlangsung secara bertahap dan belum merata. Di tengah daya beli yang belum sepenuhnya pulih, perusahaan barang konsumsi yang menjual produk kebutuhan pokok diperkirakan masih menjadi pihak yang paling diuntungkan.
Equity Research Analyst Sinarmas Sekuritas, Vita Lestari menilai konsumsi domestik sejauh ini masih cukup tangguh meski kondisi ekonomi makro masih menghadapi sejumlah tantangan. Namun, menurutnya, kondisi tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan permintaan masyarakat.
"Permintaan masyarakat sebenarnya belum sekuat yang terlihat pada indikator utama. Pertumbuhan upah riil masih terbatas, pelemahan rupiah dan kenaikan harga pangan masih menekan daya beli rumah tangga, terutama kelompok berpendapatan rendah," tulisnya dalam riset yang dikutip Minggu (5/7/2026).
Vita menjelaskan, konsumen masih menunjukkan perilaku yang sangat sensitif terhadap harga. Hal itu tercermin dari tingginya promosi yang dilakukan produsen, meningkatnya tren masyarakat beralih ke produk yang lebih murah atau downtrading, hingga meningkatnya permintaan terhadap produk berukuran kecil dengan harga lebih terjangkau.
Menurut dia, konsumsi rumah tangga saat ini juga masih banyak ditopang oleh berbagai kebijakan pemerintah, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG), bantuan sosial, subsidi energi, hingga penundaan sejumlah kebijakan yang berpotensi mendorong inflasi.
Berbagai stimulus tersebut dinilai berhasil menjaga aktivitas konsumsi. Namun, di sisi lain, kondisi itu membuat kekuatan permintaan dari sektor swasta menjadi lebih sulit diukur secara riil.
"Ketahanan konsumsi saat ini masih banyak ditopang oleh kebijakan pemerintah, bukan karena daya beli masyarakat telah pulih sepenuhnya," imbuhnya.





