Larangan Penjualan Motor Bensin Dimulai 2028

viva.co.id
12 jam lalu
Cover Berita

New Delhi, VIVA – Motor berbahan bakar bensin selama puluhan tahun menjadi tulang punggung mobilitas di banyak kota besar. Selain digunakan masyarakat untuk aktivitas sehari-hari, kendaraan roda dua juga menjadi sumber penghasilan bagi jutaan orang yang bekerja sebagai pengemudi ojek, kurir, hingga pengemudi becak motor.

Namun, kondisi itu perlahan akan berubah di Delhi, India. Pemerintah setempat mengumumkan rencana menghentikan penjualan motor dan skuter berbahan bakar bensin mulai 2028 sebagai bagian dari upaya mengurangi polusi udara yang selama ini menjadi persoalan serius di ibu kota India.

Baca Juga :
Pemotor Ngaku Anggota TNI Saat Ditegur Naik Trotoar dan Lawan Arus, Kodim Depok: Pekerjaannya Karyawan Swasta
Motor Klasik Naik Daun, Perawatan Jadi Tantangan

Disadur VIVA Otomotif dari Rideapart, Minggu 5 Juli 2026, kebijakan tersebut merupakan bagian dari peta jalan elektrifikasi kendaraan. Sebelum menyasar motor, pemerintah Delhi akan lebih dulu mewajibkan kendaraan roda tiga dan truk ringan baru menggunakan tenaga listrik mulai 2027.

Target akhirnya adalah meningkatkan populasi kendaraan listrik hingga sedikitnya 30 persen dari seluruh kendaraan yang beroperasi di Delhi pada 2030. Pemerintah juga berencana menambah lebih dari 30 ribu titik pengisian daya publik untuk mendukung percepatan penggunaan kendaraan listrik.

Meski bertujuan memperbaiki kualitas udara, kebijakan itu memunculkan kekhawatiran di kalangan pekerja yang bergantung pada kendaraan bermotor. Mereka menilai proses transisi tidak hanya soal mengganti kendaraan, tetapi juga menyangkut biaya operasional dan waktu kerja.

Sejumlah pengemudi becak motor listrik (e-rickshaw) mengaku masih ragu karena kendaraan listrik dinilai membutuhkan waktu pengisian baterai yang cukup lama. Kondisi tersebut dikhawatirkan mengurangi jam operasional sehingga berpotensi memangkas pendapatan harian.

Selain itu, muncul pula kekhawatiran mengenai biaya perawatan, umur baterai, hingga risiko pencurian baterai. Bagi sebagian pekerja, aspek tersebut dianggap sama pentingnya dengan harga kendaraan saat memutuskan beralih ke kendaraan listrik.

Di sisi lain, kalangan pemerhati lingkungan menilai pengurangan emisi memang perlu dilakukan mengingat Delhi termasuk salah satu kota dengan tingkat polusi udara tertinggi di dunia. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa elektrifikasi kendaraan sebaiknya diimbangi dengan peningkatan layanan transportasi umum agar masyarakat memiliki alternatif mobilitas yang memadai.

Perdebatan mengenai kebijakan ini pun terus bergulir. Sebagian mendukung langkah pemerintah demi kualitas udara yang lebih baik, sementara yang lain berharap proses transisi dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan kesiapan infrastruktur dan kondisi ekonomi masyarakat yang bergantung pada kendaraan bermotor sebagai sumber penghasilan.

Baca Juga :
Suzuki Burgman Street Baru Mejeng di Jakarta Fair 2026
Batman Beraksi di Meksiko, Lakban Maling Motor ke Tiang Lampu
Ada yang Baru dari Motor Rp80 Jutaan Honda

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menegangkan! Pesawat Delta Airlines Kena Kembang Api saat Mendarat
• 7 jam lalubisnis.com
thumb
Cak Imin: Pemerintah Harus Fokus Membuka Akses Global untuk Brand Lokal
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
BRIN Buka Kesempatan Magang bagi Mahasiswa S1 hingga S3, Simak Informasi Selengkapnya!
• 17 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Murnita Sempat Ngeles Saat Kepergok Robohkan Rumah Dinas Pakai Ekskavator
• 7 jam laludetik.com
thumb
Bencana Kekeringan Meluas ke Tujuh Daerah di Jabar, 10.000 Lebih Warga Alami Krisis Air
• 12 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.