BANDUNG, KOMPAS - Bencana kekeringan karena musim kemarau berkepanjangan terus meluas ke enam kabupaten dan satu kota di Jawa Barat. Hingga awal Juli 2026, lebih dari 10.000 warga mengalami krisis air bersih akibat bencana alam tersebut.
Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jabar, bencana kekeringan melanda Kabupaten Garut, Kabupten Bogor, Kabupten Bekasi, Kabupaten Karawang, Kabupaten Karawang, Kabupaten Tasikmalaya, dan Kota Sukabumi.
Data BPBD Jabar juga mencatat, sampai saat ini, tidak ada lahan yang mengalami kebakaran akibat kekeringan. Namun, masyarakat di daerah yang terdampak bencana itu mengalami krisis air bersih.
Hadi Rahmat Hardjasasmita selaku Pranata Humas Ahli Muda BPBD Jabar, Minggu (5/7/2026), di Bandung, menyatakan, bencana kekeringan melanda sejumlah desa di tujuh daerah tersebut sejak Mei 2026.
Peristiwa kekeringan pertama dilaporkan pada 24 Mei 2026 di Desa Linggamukti, Kecamatan Sucinaraja, Garut. Sebanyak 350 keluarga terdampak kekeringan di lokasi tersebut.
Kemudian, pada 9 Juni 2026, ada dua bencana kekeringan. Pertama, di enam desa yang tersebar di Bogor, yakni Gunungsari, Parakanmuncang, Kalongliud, Karangtengah, Sukajaya, dan Harkatjaya. Sebanyak 3.092 jiwa di enam desa ini terdampak.
Peristiwa kedua terjadi kekeringan di Desa Nagasari di Kecamatan Serang Baru dan Desa Ridogalih, Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi. Sebanyak 2.834 jiwa di dua desa ini terdampak.
Peristiwa berikutnya terjadi pada 11 Juni 2026 di Desa Kutalanggeng, Kecamatan Tegalwaru, serta Desa Mulyasejati dan Desa Kutanegara di Kecamatan Ciampel, Karawang. Sebanyak 1.973 jiwa terdampak di dua desa tersebut.
Sementara itu, satu kelurahan di Kota Sukabumi dilaporkan dilanda bencana kekeringan pada 29 Juni 2026. Data BPBD setempat menyebut, sebanyak 150 keluarga terdampak.
Bencana kekeringan juga melanda satu desa di Kabupaten Pangandaran pada Jumat (3/7/2026). Sebanyak 480 jiwa yang terdampak telah mendapatkan bantuan 5.000 liter air bersih dari BPBD setempat.
Terakhir, bencana kekeringan melanda Desa Kertanegla, Kabupaten Tasikmalaya. Kejadian itu dilaporkan BPBD setempat pada Sabtu (4/7/2026) kemarin. Sebanyak 450 keluarga atau 1.200 jiwa terdampak.
“Lebih dari 10.000 warga yang mengalami krisis air bersih akibat terdampak bencana kekeringan di tujuh daerah tersebut,” kata Hadi.
Ia menuturkan, kekeringan terjadi akibat cuaca kemarau berkepanjangan dan menurunnya intensitas hujan. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), menurut Hadi, musim kemarau di Jabar diperkirakan terjadi hingga September 2026.
Hadi pun mengimbau masyarakat agar menghemat air karena potensi kekeringan di Jabar bisa terus meluas. Masyarakat juga diminta tidak membakar lahan dan sampah secara sembarangan karena berpotensi memicu kebakaran lahan.
”Jajaran BPBD di daerah yang terdampak telah menerjunkan bantuan air bersih demi memenuhi kebutuhan masyarakat yang terdampak bencana kekeringan. Total bantuan air bersih yang disalurkan kepada masyarakat lebih dari 155.000 liter,” tuturnya.
Lebih dari 10.000 warga yang mengalami krisis air bersih akibat terdampak bencana kekeringan di tujuh daerah tersebut
Sementara itu, Prakirawan Stasiun Klimatologi Jabar Vivi Indhira memaparkan, BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Jabar akan mengalami musim kemarau yang lebih kering dibandingkan kondisi klimatologis normal pada 2026.
Sebanyak 93 persen wilayah Jabar diperkirakan memiliki sifat hujan di bawah normal. Sementara itu, 93 wilayah, terutama di bagian utara Jabar, mengalami kondisi hujan normal.
Puncak musim kemarau di Jabar diprediksi terjadi pada Agustus 2026 dan mencakup sekitar 90 persen wilayah. Sementara itu 8 persen wilayah di bagian timur dan utara mengalami puncak kemarau pada Juli dan 2 persen wilayah di bagian utara pada September.
“Dari sisi waktu, BMKG memperkirakan puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Jabar atau sekitar 90 persen akan berlangsung sesuai pola klimatologisnya,” paparnya.





