Ketika Financial FOMO Mendorong Generasi Muda ke Jurang Gali Lubang Tutup Lubang

kumparan.com
13 jam lalu
Cover Berita

Panik liat teman sebaya pamer aset, nekat beli tiket konser pakai PayLater, sampai terjebak investasi bodong karena takut dibilang gak gaul? Hati-hati, kamu mungkin sedang terkena Financial FOMO.

Di era digital, ketakutan tertinggal tren kini bermutasi menjadi kecemasan finansial yang akut. Demi terlihat "setara" di media sosial, banyak anak muda rela menggadaikan masa depan keuangan mereka lewat jalan pintas yang destruktif.

Mengapa kita begitu mudah terprovokasi oleh potongan kebahagiaan orang lain di linimasa? Saatnya berhenti ikut balapan semu dan mulai pakai ukuran sepatu sendiri.

Pernahkah Anda merasa "gagal" saat melihat unggahan teman sebaya yang berhasil membeli mobil baru, berlibur ke luar negeri, atau memamerkan portofolio investasi dengan keuntungan ratusan persen? Ketakutan bahwa orang lain bersenang-senang dan meraih kesuksesan sementara kita hanya jalan di tempat yang memiliki sebuah nama populer: FOMO (Fear of Missing Out).

Namun, di era digital hari ini, FOMO telah bermutasi menjadi sesuatu yang jauh lebih merugikan, yaitu Financial FOMO (FOMO Finansial) dalam pandangan negatif. Fenomena ini bukan lagi sekadar urusan psikologis takut ketinggalan gosip atau tren baju, melainkan kecemasan finansial akut yang memaksa seseorang mengambil keputusan ekonomi yang tidak rasional bahkan berbahaya demi terlihat setara dengan apa yang mereka lihat di layar kaca.

Di sinilah lingkaran setan itu memasuki kalangan generasi muda: banyak anak muda yang melakukan langkah impulsif dengan nekat menguras tabungan, terjebak investasi bodong, hingga terjerat pinjaman online (pinjol) ilegal, hanya karena panik melihat ilusi kesuksesan orang lain yang tampil di layar kaca.

Salah satu manifestasi paling mengerikan dari Financial FOMO adalah bagaimana generasi muda memperlakukan instrumen keuangan. Paparan konten dari para influencer finansial (finfluencer) yang memamerkan kekayaan secara instan menciptakan ekspektasi yang keliru.

Muncul kepanikan massal bahwa jika tidak mulai "bermain" aset kripto, saham gorengan, atau skema titip modal hari ini, mereka akan menjadi generasi yang tertinggal dan miskin selamanya. Keputusan investasi tidak lagi diambil berdasarkan analisis fundamental atau profil risiko personal, melainkan karena rasa takut dikucilkan dari obrolan tongkrongan.

Celakanya, celah psikologis ini dimanfaatkan secara agresif oleh para pelaku kejahatan. Ketika platform investasi legal dirasa terlalu lambat menghasilkan uang, Financial FOMO menggiring mereka ke jalan pintas yang lebih gelap: judi online yang berkedok permainan atau aplikasi trading ilegal. Logika mereka telah lumpuh oleh ambisi mengejar ketertinggalan yang sebenarnya semu.

Tidak hanya di sektor investasi, Financial FOMO juga merusak pola konsumsi sehari-hari. Media sosial mengubah perilaku konsumtif masyarakat bergeser dari esensi pemenuhan kebutuhan menjadi ajang pamer status sosiaL.

Ketika sebuah konser musisi internasional diumumkan, atau sebuah gawai model terbaru dirilis, lini masa langsung dipenuhi oleh narasi "Setidaknya sekali seumur hidup" atau "Kapan lagi?" ataupun "Hidup cuma sekali". Kalimat-kalimat pembelaan diri ini adalah gejala nyata dari FOMO.

Bagi mereka yang tidak memiliki bantalan finansial yang cukup, fitur PayLater dan pinjol hadir sebagai "pahlawan" kesiangan. Mereka rela menggadaikan pendapatan bulan depan demi validasi beberapa jam di ruang konser atau beberapa unggahan foto estetik di Instagram. Mereka lupa bahwa dopamin dari tombol like akan hilang dalam waktu 24 jam, sementara tagihan pinjol dengan bunga mencekik akan setia meneror selama berbulan-bulan.

Financial FOMO pada dasarnya adalah krisis identitas yang terjadi karena kita terlalu sering membandingkan langkah awal kehidupan kita dengan langkah kehidupan orang lain yang belum tentu langkah awalnya sama dengan kita dan sudah disaring lewat filter media sosial. Kita lupa bahwa apa yang ditampilkan di ruang digital hanyalah lembar terbaik dari kehidupan seseorang, bukan realitas seutuhnya.

Untuk menyelamatkan generasi muda dari jurang kebangkrutan struktural, literasi keuangan saja tidak lagi cukup. Kita membutuhkan literasi emosional. Generasi muda harus mulai melatih JOMO (Joy of Missing Out) merasa bahagia dan tenang meskipun tidak ikut serta dalam setiap tren yang sedang viral, tren yang mungkin dapat merugikan.

Orang tua, institusi pendidikan, dan regulator siber juga harus lebih tegas dalam mengawasi promosi gaya hidup yang tidak sehat dan iklan pinjaman instan yang mengeksploitasi kecemasan anak muda.

Pada akhirnya, ekonomi personal adalah tentang ketahanan jangka panjang, bukan kejar mengejar kesuksesan di media sosial. Nilai diri kita tidak pernah ditentukan oleh seberapa mirip gaya hidup kita dengan para influencer atau teman di daftar pengikut kita.

Masa depan finansial yang aman tidak dibangun dari keputusan-keputusan impulsif yang lahir dari rasa takut tertinggal. Sudah saatnya kita menundukkan kepala, melihat isi dompet sendiri dengan jujur, dan mulai melangkah dengan porsi kemampuan kita sendiri, bukan porsi kemampuan orang lain yang kita lihat di layar ponsel. Karena sejatinya, stabilitas ekonomi yang sesungguhnya bukanlah mereka yang gengsi dan paling cepat mengikuti tren, melainkan mereka yang paling tenang tidurnya tanpa beban utang di masa tua.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
HSL All-Stars jadi panggung seleksi pemain Timnas Putri U-16
• 9 jam laluantaranews.com
thumb
Oknum Polisi Pelaku Penyekapan dan Penganiayaan Istri Siri Ditangkap | SAPA MALAM
• 9 jam lalukompas.tv
thumb
Real Madrid Umumkan Kedatangan Bek Kanan Denzel Dumfries
• 8 jam lalurepublika.co.id
thumb
Viral Cara China Lawan Cuaca Panas Ekstrem, Gedung-Gedung Semburkan Kabut Air
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
Persebaya Perpanjang Kontrak Catur Pamungkas Sampai 2030
• 19 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.