Sering Burnout? Healing Forest Terbukti Ilmiah Ampuh Atasi Stres

medcom.id
3 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Tuntutan hidup kaum urban di perkotaan yang serba cepat rentan memicu stres hingga burnout. Belum lagi, masyarakat kini dihantui ancaman triple planetary crisis (perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi).
 
Di tengah situasi jenuh ini, lari ke hutan ternyata bukan sekadar pelarian sesaat, melainkan bentuk terapi kesehatan yang terbukti secara ilmiah. Guru Besar IPB University, Prof. Siti Badriyah Rushayati, membedah fungsi hutan yang melampaui batas tradisionalnya sebagai penyerap karbon. Menurutnya, kawasan hijau ini menyumbang manfaat langsung bagi fisik dan mental manusia lewat metode healing forest atau terapi hutan. Keajaiban Phytoncide: Dari Usir Stres hingga Lawan Kanker Bukan sekadar sugesti, ketenangan yang didapat saat masuk ke hutan memiliki penjelasan medis. Siti menyebut jasa lingkungan hutan sangat krusial dalam mendongkrak pertahanan tubuh manusia.
 
“Paparan udara hutan dapat meningkatkan aktivitas natural killer cells yang berperan melawan infeksi dan sel kanker. Selain itu, terapi hutan juga terbukti mampu menurunkan tingkat stres dan meningkatkan kesehatan mental,” ungkap Prof. Siti dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University, dikutip Minggu, 5 Juli 2026.

Rahasia di balik terapi ini adalah senyawa phytoncide, sebuah zat volatil alami yang dilepaskan tumbuhan untuk melindungi diri dari ancaman serangga atau tekanan lingkungan. Hebatnya, senyawa pertahanan pohon ini menjadi "obat" yang mujarab bagi manusia.
 
“Phytoncide memiliki sifat antioksidan yang dapat melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Paparan senyawa ini secara teratur juga dapat membantu menurunkan tekanan darah, mengurangi stres, dan meningkatkan kesejahteraan mental,” jelasnya. Syarat Wajib Terapi Hutan Meski berkhasiat tinggi, healing forest tidak bisa dilakukan di sembarang lahan yang ada pohonnya. Siti mengingatkan bahwa lokasi terapi mensyaratkan kriteria ketat, yakni bebas polusi suara, udara bersih, medan yang aman, dan vibes yang mendamaikan.
 
“Dalam healing forest, seluruh panca indera harus dapat menyatu dengan alam. Jika tingkat kebisingan terlalu tinggi, proses relaksasi tidak akan berjalan optimal,” katanya.
 
Potensi healing ini ternyata turut membuka peluang green economy melalui ekowisata. Praktik ini sudah mulai berjalan di Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda, yang mengemas healing forest menjadi paket wisata lengkap dengan jalur khusus dan pemandu tersertifikasi.
 
“Ini bisa menjadi sumber ekonomi baru sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga hutan,” ujarnya.
 
Pada akhirnya, menata keseimbangan antara pembangunan kota dan kelestarian alam adalah kunci. Menghadapi krisis iklim global menuntut restorasi ekosistem yang serius dan kolaborasi multi-pihak.
 
“Ketahanan iklim, ketahanan ekosistem, dan kesehatan masyarakat hanya dapat tercapai apabila pembangunan berjalan selaras dengan fungsi jasa lingkungan hutan,” pungkasnya.

Baca Juga :

80 Persen Penderita Autoimun Ternyata Wanita, Ini Penjelasan Pakar IPB

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sempat Menghilang Saat Gerebek Bandar Sabu, Jenazah Anggota Polres Katingan Ditemukan Mengapung di Sungai
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
Kebakaran Lahan di Ogan Ilir Meluas, Kencangnya Angin Hambat Proses Pemadaman
• 21 jam lalurepublika.co.id
thumb
Trump Ingin Tetap Berpidato meski Badai Hambat Perayaan 250 Tahun Kemerdekaan AS
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Warga Temukan Mayat Bayi Terbungkus Plastik di Kelurahan Kerten, Solo
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
IWF Soroti Pentingnya Akses Pendanaan untuk Perempuan Bangun Bisnis
• 6 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.