BEKASI, KOMPAS.com – Usulan kenaikan tarif layanan Transjabodetabek menjadi Rp 10.000 menuai beragam tanggapan dari masyarakat Kota Bekasi, khususnya pengguna rute Harapan Indah–Pulo Gadung.
Bagi sebagian besar penumpang, biaya transportasi telah menjadi pos pengeluaran tetap yang diatur secara ketat setiap bulan, sehingga berdampak langsung terhadap anggaran rumah tangga jika tarif Transjabodetabek dinaikkan.
Nilam (43), warga Harapan Indah yang setiap hari menggunakan Transjabodetabek menuju wilayah Pulo Gadung, mengaku keberatan apabila tarif langsung dinaikkan menjadi Rp 10.000.
Baca juga: BNPB Akan Lakukan Modifikasi Cuaca untuk Tuntaskan Kebakaran TPA Jatiwaringin Tangerang
"Kalau langsung naik Rp 10.000 saya keberatan. Sekarang semua kebutuhan juga naik, sementara fasilitas Transjabodetabek sendiri masih belum memadai," ujar Nilam saat ditemui Kompas.com di Halte Kota Harapan Indah, Minggu (5/7/2026).
KOMPAS.com/NURPINI AULIA RAPIKA Bus Transjabodetabek rute Harapan Indah–Pulo Gadung bersiap mengangkut penumpang di Halte Kota Harapan Indah, Kota Bekasi, Minggu (5/7/2026).
Ia menilai pemerintah seharusnya lebih dulu membenahi berbagai fasilitas pendukung, mulai dari halte atau bus stop, penambahan armada, hingga waktu tunggu bus yang dinilai masih terlalu lama.
"Kalau bisa armada yang enggak layak, disetop aja. Terus tempat tunggunya dibuat lebih nyaman. Kadang kalau jam sibuk itu sampai antre panjang, pastiin juga tepat waktu," kata dia.
Nilam memilih menggunakan Transjabodetabek karena lokasi rumahnya lebih jauh dari Stasiun Bekasi maupun stasiun yang berada di dekat tempat kerjanya.
Karena itu, ia berharap setiap rencana kenaikan tarif dibarengi peningkatan kualitas layanan serta disosialisasikan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat.
Selama ini, Nilam mengalokasikan biaya transportasi sekitar Rp 350.000 hingga Rp 400.000 setiap bulan.
Jika kenaikan tarif Transjabodetabek membuat pengeluarannya melampaui anggaran tersebut, ia mengaku akan mempertimbangkan beralih menggunakan kereta meski harus menempuh jarak yang lebih jauh menuju stasiun.
"Soalnya sekarang harus hemat pengeluaran," ujarnya.
Baca juga: 210 Warga Mengungsi akibat Kebakaran TPA Jatiwaringin Tangerang, 72 Alami ISPA
Hal senada disampaikan Rasyid (26), karyawan swasta yang setiap hari menggunakan Transjabodetabek dari Harapan Indah menuju Cakung, Jakarta Timur.
Ia mengaku terkejut mendengar usulan tarif Rp 10.000 karena dinilai cukup membebani pekerja yang mengandalkan transportasi umum setiap hari.
"Kalau sampai Rp 10.000 cukup berat. Biaya transportasi bulanan bisa semakin besar," ujar Rasyid.
Selama ini ia menganggarkan biaya transportasi sekitar Rp 300.000 hingga Rp 400.000 per bulan. Seluruh pengeluarannya, mulai dari kebutuhan hidup hingga transportasi, telah disesuaikan dengan kemampuan finansialnya.