OPEC+ mencapai kesepakatan awal untuk kembali menaikkan kuota produksi minyak secara moderat pada Agustus. Langkah ini membuka peluang bertambahnya pasokan minyak ke pasar apabila kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran sepenuhnya terwujud.
Dikutip dari Bloomberg, menurut para delegasi, jika disahkan dalam konferensi lewat video yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu (5/7), tujuh negara utama yang dipimpin Arab Saudi dan Rusia akan menambah target produksi sebesar 188.000 barel per hari.
Kenaikan tersebut sejalan dengan rencana OPEC+ untuk menyelesaikan pembalikan kebijakan pemangkasan produksi yang diberlakukan beberapa tahun lalu. Dengan tambahan itu, sejak perang dimulai, kelompok tersebut telah meningkatkan kuota produksi hingga 940.000 barel per hari, setara dengan hampir 1 persen dari total permintaan minyak global.
Sejauh ini, peningkatan kuota tersebut sebagian besar masih bersifat teoritis karena perang sempat menghambat lalu lintas di Selat Hormuz, sehingga negara-negara anggota OPEC di kawasan Teluk Persia tidak dapat meningkatkan ekspor dan produksi minyak.
Namun, setelah tercapainya kesepakatan damai sementara antara Teheran dan Washington, Arab Saudi dan negara-negara tetangganya mulai memulihkan pengiriman minyak, yang turut menciptakan kelebihan pasokan di pasar utama Asia, menghapus reli harga minyak yang terjadi selama masa perang, hingga berpotensi memicu persaingan antarnegara anggota OPEC dalam memperebutkan pembeli.
Di sisi lain, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) juga tengah menghadapi tantangan terhadap soliditas internalnya. Bulan lalu, Irak yang merupakan salah satu anggota pendiri OPEC menyatakan dapat mempertimbangkan keluar dari organisasi apabila tidak diberikan batas produksi yang lebih tinggi. Keluhan serupa sebelumnya mendorong Uni Emirat Arab keluar dari OPEC pada Mei lalu.
Berdasarkan data pelacakan kapal tanker, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab telah memulihkan ekspor minyak mereka hingga mendekati tingkat sebelum perang. Pemulihan tersebut didukung oleh kesepakatan damai serta keberhasilan kedua negara mengirimkan kargo melalui Selat Hormuz. Meski demikian, data yang dihimpun Bloomberg menunjukkan tingkat produksi minyak keduanya masih berada jauh di bawah kapasitas normal.
Apabila kenaikan kuota produksi untuk Agustus disetujui, langkah tersebut akan menjadi bulan kedua terakhir dalam proses pemulihan dua lapis pemangkasan produksi yang diterapkan sejak 2023.
Pemangkasan itu sebelumnya dilakukan untuk mencegah kelebihan pasokan sekaligus menopang harga minyak. Satu kali kenaikan lagi yang direncanakan pada September akan menuntaskan rangkaian pemulihan tersebut.
Di sisi lain, lapisan ketiga dan terakhir dari kebijakan pemangkasan produksi dijadwalkan tetap berlaku hingga akhir tahun. Bahkan sebelum Selat Hormuz ditutup akibat konflik, banyak negara anggota OPEC+ sudah kesulitan memproduksi minyak sesuai kuota yang diizinkan karena keterbatasan kapasitas produksi. Akibatnya, hanya sebagian dari pemulihan pada tahap ketiga tersebut yang diperkirakan benar-benar dapat direalisasikan.





