Toy Story 5 kembali menghadirkan Woody, Buzz, Jessie, dan para mainan kesayangan Bonnie. Film ini tidak hanya membawa nostalgia, tetapi juga mengangkat isu yang dekat dengan kehidupan anak masa kini, terutama soal gadget dan pertemanan.
Secara cerita, Toy Story 5 berfokus pada Bonnie yang berusia 8 tahun dan mulai kesulitan berteman karena teman-temannya sudah menggunakan LilyPad, sebuah tablet yang populer di lingkungan mereka.
Untuk membantu anaknya, orang tua Bonnie akhirnya memberikan perangkat tersebut agar ia tidak merasa tertinggal. Namun, keputusan ini justru membawa tantangan baru dalam kehidupannya.
Di sisi lain, Woody, Buzz, Jessie, dan para mainan mulai merasa peran mereka tergeser oleh kehadiran teknologi. Film ini menggambarkan bagaimana anak menghadapi perubahan zaman, tekanan sosial, serta rasa takut tertinggal dari teman sebaya.
Setiap Karakter di Toy Story 5 Punya Pesan ParentingNah, Moms, selain asik nonton keseruan film, karakter-karakter ini juga bisa menjadi bahan diskusi orang tua bersama anak di rumah nanti. Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari masing-masing karakter seperti:
Jessie digambarkan sebagai sosok yang penuh semangat, tetapi mudah panik karena takut Bonnie melupakan mainan kesayangannya. Dari Jessie, anak bisa belajar bahwa emosi seperti marah sering muncul dari rasa sayang dan takut kehilangan.
Buzz menjadi karakter yang selalu hadir membantu teman-temannya. Ia menunjukkan arti kesetiaan dan pentingnya menjadi teman yang dapat diandalkan dalam situasi sulit.
Woody hadir sebagai sosok yang tenang dan rasional. Ia tidak terburu-buru mengambil keputusan, tetapi terlebih dahulu memahami situasi yang terjadi.
Sementara LilyPad menjadi simbol teknologi dalam cerita ini. Film ini tidak menempatkan gadget sebagai musuh, tetapi menekankan pentingnya pendampingan orang tua dalam penggunaan teknologi oleh anak.
Karakter Blaze menunjukkan bahwa bermain dengan mainan klasik tetap relevan dan tidak membuat anak tertinggal zaman.
Blaze tetap percaya diri berimajinasi meski dunia sekitarnya dipenuhi gadget. Dari sini, Bonnie belajar bahwa bermain sesuai usia bukan sesuatu yang harus dianggap memalukan.
Menariknya, pertemanan Bonnie dan Blaze justru berawal dari game online, lalu berkembang menjadi interaksi di dunia nyata. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi bisa menjadi jembatan pertemanan, selama tetap diimbangi dengan pengalaman sosial langsung.
Belajar dari kesalahan yang terjadi, karakter ayah dan ibu di akhir film menunjukkan sikap tegasnya dan berani meminta maaf atas kejadian yang menimpa Bonnie. Film ini dikemas dengan sangat rapi dan ada banyak moral value yang bisa diambil setelahnya, Moms.
Psikolog: Jadikan Momen Ini sebagai Bahan Diskusi, Bukan Hal yang DihindariDi tengah ceritanya, ada beberapa adegan yang mungkin akan membuat orang tua berhenti sejenak atau bahkan mendapat pertanyaan dari anak, terutama di bagian akhir ketika muncul momen ciuman dan pernikahan antara Buzz dan Jessie. Tapi, justru di titik inilah orang tua bisa mengambil peran penting, untuk menjadikannya bahan diskusi bersama anak di rumah nanti.
Psikolog Klinis Gita Aulia Nurani, M.Psi, Psikolog, menekankan bahwa orang tua tidak perlu buru-buru mengalihkan perhatian anak jika muncul pertanyaan terkait adegan mesra ciuman antara Buzz dan Jessie di akhir film ini.
"Jika anak bertanya, jawaban sebaiknya sederhana dan sesuai usia anak. Orang tua bisa mengatakan bahwa ciuman dalam konteks itu adalah cara orang dewasa menunjukkan kasih sayang," ujarnya kepada kumparanMOM, Minggu (5/7).
Ia juga menyarankan agar orang tua mulai mengenalkan konsep body boundaries, bahwa tidak semua orang boleh menyentuh atau mencium tubuh kita, dan anak berhak mengatakan tidak jika merasa tidak nyaman.
Selain itu, adegan pernikahan dan baju adat juga bisa dijelaskan secara sederhana sebagai bentuk komitmen dua orang dewasa dan memperkenalkan kultur negara lain.
"Pernikahan adalah komitmen dua orang dewasa yang saling menyayangi dan bertanggung jawab satu sama lain. Penjelasan cukup disesuaikan dengan usia anak," tambahnya.





