REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON — Pemerintah Kabupaten Cirebon mulai mengalihkan strategi penanganan sampah dari pola angkut-buang menuju pengelolaan mandiri berbasis desa. Langkah itu diambil menyusul tingginya volume timbunan sampah harian yang mencapai 1.261 ton.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon, Dede Sudiono, menyebutkan, dari volume sampah harian 1.261 ton itu, saat ini baru sekitar 389 ton sampah yang tertangani. “Otomatis dari 1.261 ton, ada 872 ton sampah yang masih berkeliaran di antara kita semua. Makanya jangan heran, kalau masih banyak sampah yang ada di pinggir-pinggir jalan,” ujar Dede, kemarin.
Baca Juga
Sekolah Rakyat di Cirebon Segera Beroperasi, 270 Siswa Mulai Masuk Asrama
Setiap Hari 800 Ton Sampah di Cirebon tak Terangkut
DPRD Jabar Setuju Nama Provinsi Jawa Barat Diganti Jadi Tatar Sunda
Dede menegaskan, paradigma pengelolaan sampah ke depan harus berubah total. TPA yang ada saat ini ditargetkan bertransformasi menjadi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), di mana sampah dipilah dan diolah, sehingga hanya residu akhir yang dibuang.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Cirebon, Dangi, mengungkapkan, ketergantungan pada penambahan armada truk sampah bukan solusi utama. Ia menilai, orientasi “angkut-buang” hanya akan menjadikan pemerintah sebagai pebisnis transportasi sampah, bukan pengolah sampah.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
“Kalau orientasinya hanya angkut-buang, kita hanya jadi pebisnis angkutan sampah. Yang dibutuhkan adalah bagaimana sampah tuntas di desa,” tegas Dangi.