Yogyakarta: Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengapresiasi warga Muhammadiyah yang membiayai 100 persen pembangunan gedung baru Muhammadiyah Sapen Universal School (MSUS) secara mandiri. Pembiayaan mandiri tersebut sebagai wujud partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia.
"Berdirinya MSUS 100 persen dibiayai oleh Muhammadiyah tanpa pengajuan revitalisasi, ini menunjukkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan," kata Abdul Mu'ti saat menghadiri acara di MSUS, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dilansir dari Antara, Minggu, 5 Juli 2026.
Menurut dia, kehadiran MSUS merupakan salah satu bentuk komitmen Muhammadiyah dalam menyediakan layanan pendidikan yang unggul dan berkualitas bagi masyarakat.
"Sesuai dengan visi kami yakni pendidikan bermutu untuk semua dengan partisipasi semesta dan sesuai dengan Asta Cita Presiden nomor empat," ujar Abdul Mu’ti.
Abdul Mu'ti mengatakan pihaknya memperoleh informasi MSUS akan dikembangkan dengan mengombinasikan kurikulum nasional dan berbagai muatan internasional tanpa meninggalkan akar budaya masyarakat Yogyakarta.
"Ini bisa menjadi model penyelenggaraan pendidikan yang sesuai dengan sistem yang ada di Indonesia karena memenuhi standar nasional, tidak meninggalkan kekuatan dan budaya lokal, tapi siap memasuki global," kata Abdul Mu’ti.
Ilustrasi. Dok. Medcom
Baca Juga :
Haedar Nashir Tegaskan UMM Jadi Pelopor Kemajuan PTMADia juga menyoroti tantangan dunia pendidikan di tingkat nasional yang masih dihadapkan pada kesenjangan mutu antarsatuan pendidikan, baik negeri maupun swasta.
Menurut dia, Kemendikdasmen akan terus berupaya mempertahankan kualitas penyelenggara pendidikan yang telah memiliki mutu baik, sekaligus memberikan afirmasi kepada satuan pendidikan yang kualitasnya perlu ditingkatkan.
"Itu menjadi perhatian kami, problem kami di tingkat nasional tidak hanya di Muhammadiyah, termasuk negeri juga masih adanya kesenjangan mutu pendidikan antara satu daerah dengan lainnya," ujar Abdul Mu’ti.
Sebagai upaya mengatasi persoalan tersebut, Kemendikdasmen telah membentuk direktorat serta menugaskan staf khusus yang fokus menangani layanan pendidikan, terutama di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) serta sekolah-sekolah yang fasilitasnya masih jauh dari ideal.
"Tahun ini kami prioritaskan sekolah di daerah bencana, 3T, dan sekolah yang rusak berat, sehingga persoalan kesenjangan bisa diatasi secara bertahap," kata Abdul Mu’ti.




