JAKARTA, KOMPAS.com - Gedung sederhana berlantai dua dengan cat berwarna merah mencolok berdiri kokoh dalam gang dekat dengan pesisir di Jalan Rekreasi Nomor 3, Cilincing, Jakarta Utara.
Bangunan itu merupakan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) 03 Jakarta, satuan pendidikan nonformal negeri atau yang lebih dikenal sebagai sekolah paket yang dibangun Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta.
Di Jakarta terdapat sekitar 39 SKB yang tersebar di lima wilayah kota administrasi. SKB 03 Cilincing menjadi satu-satunya SKB negeri yang berada di Jakarta Utara.
Baca juga: Tim Hukum Ahli Waris Lahan Arjuna HyperBowling Ngaku Diteror, Drone Jatuhkan Benda Mirip Granat
"Di pendidikan kesetaraan itu ada SKB dan PKBM (Pusat Kegaiatan Belajar Masyarakat). SKB adalah versi negerinya, sedangkan PKBM versi swastanya," ucap Kepala Seksi (Kasi) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus (PMPK) Suku Dinas Pendidikan Wilayah II Kota Administrasi Jakarta Utara, Meliyati, ketika ditemui di lokasi, Jumat (3/7/2026).
Angka anak putus sekolah tinggiMeliyati mengatakan, berdasarkan data terakhir terdapat sekitar 22.000 anak tidak sekolah (ATS) di Jakarta Utara.
Kategori ATS mencakup tiga kelompok, yakni anak yang putus sekolah, anak yang belum pernah bersekolah, serta anak yang tidak melanjutkan pendidikan.
Namun, data tersebut masih terus diverifikasi oleh Suku Dinas Pendidikan Jakarta Utara melalui kerja sama dengan pihak kelurahan dan kecamatan untuk memastikan keberadaan anak-anak tersebut.
Hingga saat ini, proses verifikasi telah mencapai sekitar 60 persen. Dari hasil sementara, jumlah anak yang benar-benar putus sekolah diperkirakan sekitar 7.000 orang.
Menurut Meliyati, ada sejumlah faktor yang menyebabkan tingginya angka putus sekolah di Jakarta Utara, terutama di wilayah pesisir seperti Cilincing.
Salah satunya adalah perundungan di sekolah formal. Banyak anak mengalami tekanan fisik maupun psikis akibat perundungan, tetapi memilih tidak melapor hingga akhirnya memutuskan berhenti bersekolah.
Selain itu, ada pula anak yang terpaksa putus sekolah karena mengidap penyakit berat, salah satunya thalassemia, sehingga harus menjalani cuci darah dua kali dalam sepekan.
Baca juga: Pelaku Curanmor di Tangsel Ditangkap di Rumah Pacar, Sempat Sembunyi di Plafon lalu Jatuh
Kondisi tersebut membuat mereka kesulitan mengikuti kegiatan belajar di sekolah formal hingga akhirnya memilih keluar.
"Selain itu, ada faktor hamil di luar nikah, hingga kondisi orangtua yang sering berpindah-pindah atau kesulitan transportasi. Padahal Pemerintah DKI Jakarta berkomitmen bahwa tidak boleh ada anak yang tidak sekolah karena alasan ekonomi," jelas Meliyati.
SKB jadi harapan baruKepala Sekolah SKB 03 Cilincing Susarah Lobo (55) mengatakan, Cilincing menjadi salah satu wilayah di Jakarta Utara dengan angka ATS cukup tinggi.
Hadirnya SKB di tengah masyarakat menjadi harapan baru untuk anak-anak pesisir yang terkendala mengakses pendidikan formal agar tetap bisa bersekolah dan mengejar cita-cita.





