Transdisiplin, Menembus Sekat Ilmu dalam Menjawab Persoalan

kompas.id
13 jam lalu
Cover Berita

Rekam jejak Purnomo Yusgiantoro tidak dapat dilepaskan dari tiga dunia yang dijalaninya, yakni sebagai pembelajar dan pendidik atau dosen di dunia akademik, serta praktisi dalam dunia non-akademik.

Perjalanan sebagai akademisi dan non-akademisi sebagai pegawai negeri sipil dengan pangkat tertinggi Pembina Utama (IV/E), Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) periode 2000-2009, Menteri Pertahanan periode 2009-2014, hingga kini mengemban amanah Penasihat Khusus Presiden Bidang Energi Kabinet Merah Putih menjadi laboratorium hidup Purnomo. Pengalaman tersebut memperdalam kemampuannya menarik benang merah tentang bagaimana pendekatan monodisiplin, multidisiplin, interdisiplin, hingga transdisiplin ilmu dapat diterapkan untuk menjawab berbagai persoalan.

Purnomo menyampaikan hal itu dalam orasi ilmiah bertajuk ”Rekam Jejak dari Monodisiplin Ilmu ke Transdisiplin Ilmu” pada penganugerahan gelar Profesor Emeritus kepadanya di Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Jawa Barat, Jumat (3/7/2026). Dekan Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB Syafrizal menyerahkan Surat Keputusan Profesor Emeritus kepada Purnomo disaksikan antara lain Rektor ITB Tatacipta Dirgantara, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Ibu Negara ke-4 RI Nyonya Sinta Nuriyah Wahid, Subakat Hadi (ParagonCorp), Dato’ Low Tuck Kwong (Bayan Grup), Komisaris Utama Medco Grup Yani Panigoro, serta alumnus ITB dan Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL).

Purnomo menjelaskan konsep disiplin ilmu yang bermuara pada tujuan yang sama, yakni menyelesaikan persoalan dan mencari solusi atas suatu permasalahan. Pendekatan itu dimulai dari monodisiplin ilmu yang hanya melibatkan satu disiplin ilmu akademis, kemudian berkembang menjadi multidisiplin ilmu yang melibatkan dua atau lebih disiplin ilmu secara bersamaan.

Selanjutnya, ia menerapkan interdisiplin ilmu, yakni pendekatan yang melibatkan transfer pengetahuan antardisiplin untuk mengembangkan metode baru dalam mengatasi persoalan yang lebih kompleks. Tahap berikutnya adalah transdisiplin ilmu, yang memadukan berbagai disiplin ilmu dalam pendekatan interdisiplin dengan pengalaman praktis non-akademis.

”Pendekatan transdisiplin ilmu dilakukan untuk mencari solusi berbagai masalah dalam konteks makro, seperti kebijakan publik. Aktualisasinya tidak bersifat kaku dan merupakan perpaduan berbagai ilmu yang sifatnya komprehensif integral,” ujar Purnomo.

Baca JugaPurnomo Yusgiantoro Dianugerahi Profesor Emeritus dari ITB

Dengan fondasi ilmu teknik perminyakan, Purnomo sama sekali tidak canggung menggabungkan berbagai disiplin ilmu dalam perjalanan hidupnya selama 50 tahun ini. Sebaliknya, pendekatan tersebut justru semakin memperkaya pemahamannya di berbagai bidang sehingga terbiasa melihat suatu persoalan secara lebih utuh. Bekal itulah yang membantunya ketika dihadapkan pada tuntutan mengambil berbagai kebijakan selama mengabdi kepada bangsa dan negara.

Cara pandangnya dalam mengatasi persoalan semakin terbentuk saat mengikuti pendidikan Lemhannas. Purnomo tercatat sebagai lulusan terbaik Kursus Reguler Angkatan (KRA) XXV pada 1992. ”Saya melihat sesuatu dari depan, belakang, kiri, kanan, atas, dan bawah. Jadi, melihatnya secara komprehensif integral,” kata Purnomo.

Menurut Purnomo, pendekatan transdisiplin juga relevan di tengah dinamika perubahan global, kemajuan teknologi, meningkatnya transparansi, serta perkembangan geopolitik dan geoekonomi. Pendekatan tersebut dinilai mampu menjawab tantangan yang lahir dari kondisi volatilitas, ketidakpastian, kompleksitas, dan ambiguitas (VUCA) yang diperkenalkan oleh US Army War College pada 1990-an. Pendekatan ini juga dinilai sesuai untuk menghadapi kondisi yang rapuh, penuh kecemasan, tidak linear, dan sulit dipahami (BANI) yang diperkenalkan Jamais Cascio pada 2020.

Dalam menghadapi VUCA dan BANI, Purnomo menilai diperlukan perpaduan antara pendekatan akademis dan pengalaman praktis nonakademis. Menurut dia, perpaduan tersebut berfokus pada pengembangan diri yang ditempa melalui pengalaman langsung di lapangan, pendidikan karakter, pembentukan disiplin, manajemen waktu, dan penguatan ketangguhan mental.

Baca JugaPurnomo Yusgiantoro Jabat Ketua Umum Ikatan Alumni Lemhannas
Lintas pemerintahan

Dalam lebih dari 50 tahun perjalanan kariernya, Purnomo mengawali langkah sebagai mahasiswa S-1 Teknik Perminyakan ITB. Setelah lulus pada 1974, ia berhadapan dengan industri hulu minyak dan gas bumi yang saat itu tengah berkembang pesat di Indonesia. Pengalaman ini mendorongnya untuk terus mendalami bidang tersebut hingga kemudian melanjutkan dua studi S-2 bidang berbeda di Amerika Serikat sekaligus bekerja di sana.

Purnomo menempuh pendidikan S-2 dua bidang berbeda, yakni teknik perminyakan Colorado School of Mines (CSM), Golden, serta ekonomi University of Colorado (UC) Boulder. Adapun gelar doktor (PhD) diraihnya dalam bidang ekonomi mineral dari CSM Golden.

Pendidikan dan pengalaman bekerja di AS turut membuka wawasan Purnomo tentang pentingnya pendekatan multidisiplin. Tak ingin hanya berkutat dalam bidang perminyakan dan energi, Purnomo memilih mendalami ilmu ekonomi. Bekal keilmuan lintas disiplin tersebut kemudian turut mengantarkannya mengabdi kepada negara.

Bekal pengalaman sebagai profesional, dosen, hingga konsultan kebijakan energi di Amerika Serikat menuntun Purnomo kembali ke Indonesia. Ia kemudian dipercaya menjadi Penasihat Menteri Pertambangan dan Energi pada 1993–1997, Wakil Gubernur Lemhannas era Presiden BJ Habibie, sebelum mengemban jabatan di era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Secara keseluruhan, Purnomo menjabat sebagai Menteri ESDM tiga era kepresidenan. Ia lalu dipercaya menjadi Menteri Pertahanan oleh Presiden SBY pada 2009-2014. Adapun pada 2019-2024, di masa Presiden Joko Widodo, ia menjabat sebagai Penasihat Senior Kepala Staf Kepresidenan (KSP), sebelum kemudian menjadi Penasihat Khusus Presiden RI Bidang Energi sejak 2024 pada era Presiden Prabowo Subianto.

Pengalaman panjang dalam industri perminyakan dan gas global juga membawa Purnomo pernah menjabat sebagai Gubernur, Sekretaris Jenderal, dan Presiden Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada 1996-1998 dan 2004. Selain itu, ia merupakan salah satu pionir Universitas Pertahanan Indonesia (Unhan), dosen ITB, pendiri lembaga think tank Purnomo Yusgiantoro Center (PYC), serta Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL) 2026-2031.

Perjalanan panjang karier Purnomo, bahkan setelah pensiun sebagai dosen, tak menghentikan langkahnya untuk terus berbagi pengalaman dan ilmu, baik di dalam maupun di luar kampus. Baginya, peran tersebut merupakan amanah yang selalu dipegang sejak mendapat pesan dari orangtuanya saat masih bersekolah

”Sebagai pendidik atau dosen ini sebetulnya amanah dari orangtua saya, yang mengatakan, ’Pur, nanti kamu jadi guru. Karena guru itu pahlawan tanpa tanda jasa,’” ujar Purnomo.

Baca JugaPurnomo Yusgiantoro, Hilirisasi sejak Masa Sulit

Dalam perjalanan kariernya, Purnomo yang lahir di Semarang, Jawa Tengah, 16 Juni 1951, mendapat dukungan penuh dari sang istri, Sri Murniati Sachro, serta ketiga anaknya, Luky A Yusgiantoro, Inka B Yusgiantoro, dan Filda C Yusgiantoro. Keputusan keluarga untuk menempuh pendidikan, bekerja, dan membesarkan anak-anak secara mandiri, disiplin, dan berintegritas tinggi turut membentuk cara pandang mereka terhadap pentingnya pendekatan lintas disiplin.

Nilai itu kemudian mewarnai perjalanan karier ketiga anak Purnomo dan Sri Murniati Sachro. Saat ini, Luky, yang berpengalaman di bidang hulu migas, menjabat sebagai Sekretaris Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Inka, yang memiliki latar belakang bidang ekonomi dan keuangan, menjabat sebagai Direktur Eksekutif Unit Khusus Transformasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Adapun Filda merupakan Ketua Umum Purnomo Yusgiantoro Center (PYC) sekaligus Tenaga Ahli Utama Deputi Bidang Geoekonomi Dewan Pertahanan Nasional (DPN).

Dalam kesempatan ini, Purnomo meluncurkan dua buku. Buku bertajuk Purnomo Yusgiantoro: Tujuh Presiden Satu Pengabdian ditulis ketiga anaknya mengisahkan perjalanan pengabdian Purnomo dalam menerapkan keilmuan teknik, politik, ESDM, hingga pertahanan negara selama berkarya di bawah kepemimpinan tujuh presiden. Adapun buku baru lain berjudul Kepemimpinan Strategis sebagai saripati pengalaman panjang pembelajaran hidup Purnomo terkait kepemimpinan diri sendiri dan kepemimpinan melayani.

Melepas sekat ilmu

Rektor ITB Tatacipta Dirgantara menuturkan, konsep multidisiplin hingga transdisiplin ilmu yang dijalankan Purnomo sangat relevan dengan kondisi saat ini. Di tengah berbagai persoalan, baik domestik maupun global, yang semakin kompleks, setiap orang tidak bisa lagi hidup dan bekerja dalam silo-silo atau kecenderungan bekerja secara masing-masing.

”Kalau mau tuntas, kita harus bekerja sama dan melepas sekat-sekat ilmu kita. Contoh paling sederhana ialah persoalan tentang sampah. Dalam monodisiplin ilmu itu pada teknik lingkungan, tetapi sebenarnya itu juga berkait dengan teknik sipil, teknik mesin, teknik kimia, seni rupa, sampai bisnis masuk semua untuk mengatasi masalah itu. Bahkan juga hukum, sosiologi, dan antropologi,” kata Tatacipta.

Baca JugaPurnomo Yusgiantoro Center Luncurkan Pusat Data ESDM

Menurut Tatacipta, upaya mengatasi berbagai persoalan bangsa melalui pendekatan lintas disiplin ilmu juga penting dipahami oleh generasi muda yang akan menjadi tumpuan bangsa di masa depan.

”Saat ini, perubahan terjadi sedemikian cepat. Jadi, anak muda harus mau terus belajar dan meningkatkan kompetensi diri supaya dapat mengikuti perkembangan serta menyelesaikan masalah yang mungkin hari ini belum ada,” katanya.

Gubernur Lemhannas periode 2011–2016 Budi Susilo Soepandji merasakan betul konsep monodisiplin hingga transdisiplin yang diterapkan Purnomo. Saat menempuh pendidikan S-1 Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI), misalnya, ia mempelajari mekanika dan aljabar yang memang penting dalam bidang tersebut. Namun, setelah lulus dan mulai bekerja, ia baru memahami pentingnya pendekatan lintas disiplin.

”Tetapi saat bekerja, serta ikut membuat masterplan Pulau Batam, benar yang disampaikan Pak Purnomo. Tidak mungkin bekerja hanya monodisiplin, tetapi harus multidisiplin. Di dalam pendekatan multidisiplin itulah kita dapat menyusun kebijakan publik secara komprehensif dan integral. Saya menemukan itu pada 2004-2006 saat sekolah di Lemhannas,” ujar mantan Dekan Fakultas Teknik Universitas Indonesia itu.

Lebih jauh, ia juga meresapi istilah dalam bahasa Jawa bahwa segala sesuatu harus dijalani dengan hati. Sebab, saat melihat orang miskin, orang kaya, orang senang, maupun orang susah, semuanya tidak bisa diterjemahkan hanya dengan ilmu matematika. Pendekatan itu bahkan tidak cukup hanya bersifat multidisiplin, tetapi harus lebih menyeluruh hingga mencapai ranah transdisiplin.

Ia mencontohkan bagaimana setiap orang dapat memiliki preferensi warna yang berbeda. ”Ada yang menyukai hijau, ada yang menyukai kuning. Namun, secara umum kita tetap perlu melihat kecenderungan mayoritas. Di situlah letak prinsip-prinsip kebahagiaan. Apalagi jika berbicara tentang seni, musik, dan sebagainya. Itu sudah masuk ke ranah transdisiplin,” lanjutnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menteri PPPA Kawal Kasus Dugaan Penganiayaan Perempuan Cirebon, Korban Dapat Pendampingan Menyeluruh
• 2 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Bos BEI Beberkan Alasan Rombak Kriteria Papan Pemantauan Khusus
• 8 jam lalubisnis.com
thumb
Prediksi Portugal vs Spanyol di Babak 16 Besar Piala Dunia 2026: Mampukah Ronaldo Hancurkan Tembok Kokoh La Roja?
• 40 menit lalutvonenews.com
thumb
Kostrad Run 2026 Digelar di Monumen Nasional, Libatkan 10 Ribu Peserta
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Profil Vozinha, Kiper Cape Verde yang Curi Perhatian di Piala Dunia 2026
• 7 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.