JAKARTA - Letnan Jenderal (Purn) TNI Soegito dikenal dan dihormati dalam jajaran TNI Angkatan Darat, khususnya di Korps Baret Merah Kopassus. Berbagai operasi tempur pernah diembannya.
Salah satunya saat memimpin langsung penerjunan pasukan Kopassus ke Kota Dili pada 7 Desember 1975. Ia terjun bersama pasukannya dan terlibat dalam pertempuran sengit melawan kelompok bersenjata Fretilin, hingga Kota Dili berhasil dikuasai sepenuhnya.
Melansir buku biografi “Letjen (Purn) Soegito, Bakti Seorang Prajurit Stoottroepen”, Minggu (5/7/2026), keberanian Soegito di medan perang diakui oleh kawan maupun lawan.
Momen yang menegaskan keberaniannya terjadi ketika kelompok bersenjata yang dipimpin Paolino Gamma alias Mauk Muruk, yang sebelumnya berafiliasi dengan Fretilin, menyatakan niat untuk berdamai dan menyerahkan senjata kepada TNI.
Baca Juga:Kasus Dadan Cs, Saut Situmorang: Semua hingga Eselon Terkecil Harus Bertanggung JawabNamun, mereka hanya bersedia bertemu dengan Soegito. Saat pertemuan berlangsung di Markas Koopskam, situasi menjadi tegang karena kelompok Mauk Muruk datang dengan senjata lengkap dan menolak untuk melucuti senjatanya sebelum bertemu Soegito.
Menyadari potensi bahaya, Soegito memberikan perintah tegas kepada staf pribadinya, Sertu Pardi. “Kalau terjadi apa-apa, kamu tembak ke tempat duduk saya,” ujar Soegito.
Saat Sertu Pardi bertanya tentang kemungkinan Soegito terkena tembakan, perintahnya tetap sama, “Tidak peduli, tembak, habiskan saja.”
Meskipun situasi saat itu sangat menegangkan, Soegito selamat dari pertemuan tersebut. Setelah pertemuan, senjata-senjata yang diserahkan diperiksa, dan ditemukan satu senjata yang masih berisi peluru siap tembak.
Namun pada akhirnya, Soegito berhasil meyakinkan Mauk Muruk untuk mengajak kelompok bersenjata lainnya menyerahkan diri.




