Harga Minyak Diperkirakan Masih Tertekan Pekan Ini, OPEC+ Tambah Produksi

idxchannel.com
5 jam lalu
Cover Berita

Harga minyak dunia diperkirakan masih berada di bawah tekanan pada pekan ini setelah OPEC+ menyepakati kenaikan produksi mulai Agustus.

Harga Minyak Diperkirakan Masih Tertekan Pekan Ini, OPEC+ Tambah Produksi. (Foto: Magnific)

IDXChannel – Harga minyak dunia diperkirakan masih berada di bawah tekanan pada pekan ini setelah OPEC+ menyepakati kenaikan produksi mulai Agustus.

Di saat yang sama, pelaku pasar juga mencermati kelanjutan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi memperlancar kembali ekspor minyak melalui Selat Hormuz.

Baca Juga:
DSI hingga Royalti Bayangi Prospek Saham Batu Bara

Pada perdagangan Jumat (3/7/2026) pekan lalu, kontrak Brent naik tipis 0,19 persen menjadi USD71,94 per barel.

Secara mingguan, Brent hanya turun 5 sen dibanding penutupan pekan sebelumnya.

Baca Juga:
Raksasa Minyak AS Diprediksi Cetak Laba Tertinggi Sejak 2022

Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,13 persen menjadi USD68,78 per barel.

Volume perdagangan relatif tipis karena pasar keuangan Amerika Serikat (AS) tutup menjelang libur Hari Kemerdekaan AS.

Baca Juga:
JPMorgan Pangkas Proyeksi Harga Emas Jadi USD4.500 di Akhir Tahun

Sehari sebelumnya, kedua acuan harga minyak tersebut sempat menyentuh level terendah sejak sebelum pecahnya perang antara AS dan Israel melawan Iran pada akhir Februari.

Sentimen pasar pada pekan ini diperkirakan dipengaruhi keputusan OPEC+ yang pada Minggu (5/7), seperti dikutip Reuters, menyepakati kenaikan kuota produksi sebesar 188.000 barel per hari mulai Agustus.

Kenaikan tersebut menyusul tambahan produksi dengan besaran yang sama pada Juni dan Juli.

Sejak April hingga Juli, tujuh anggota inti OPEC+, yang terdiri atas negara-negara OPEC dan sekutunya termasuk Rusia, telah menaikkan kuota produksi hampir 800.000 barel per hari.

Namun, sebagian besar tambahan produksi tersebut belum sepenuhnya mengalir ke pasar akibat perang antara AS dan Israel melawan Iran yang sempat mengganggu lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, jalur ekspor utama bagi Arab Saudi, Kuwait, dan Irak.

Analis Commerzbank mengatakan optimisme investor terhadap pembukaan penuh Selat Hormuz menjadi salah satu faktor yang menekan harga minyak.

Prospek tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran dinilai dapat memperlancar kembali arus ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah.

UBS memangkas proyeksi harga Brent setelah aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz pulih lebih cepat dari perkiraan. Meski demikian, bank tersebut masih memperkirakan Brent rata-rata berada di kisaran USD80 per barel pada kuartal III-2026 dan IV-2026.

Di sisi lain, HSBC mengambil pandangan yang lebih positif.

Menurut bank tersebut, tambahan pasokan minyak dari Timur Tengah diperkirakan dapat diserap pasar melalui peningkatan persediaan secara bertahap setelah pelepasan cadangan strategis darurat berakhir pada akhir bulan ini. HSBC juga memperkirakan Brent kembali menuju kisaran USD80 per barel setelah kelebihan pasokan saat ini mereda.

Perbedaan pandangan kedua bank terutama terletak pada apakah kelebihan pasokan saat ini akan menjadi kondisi permanen atau hanya bersifat sementara.

Namun, keduanya sama-sama menilai permintaan dari China akan menjadi faktor penentu arah harga minyak.

Hingga kini, konsumsi di negara tersebut belum menunjukkan pemulihan sesuai harapan sehingga pasar masih memiliki pasokan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan.

Dari sisi teknikal, analis FXEmpire James Hyerczyk mengatakan tren harga minyak masih cenderung menurun.

Kontrak WTI pengiriman Agustus sedang menguji area gap di kisaran USD66,96 hingga USD66,29 per barel yang berpotensi memicu rebound teknikal.

Namun, jika area tersebut gagal bertahan, harga berisiko melanjutkan penurunan menuju level terendah Desember di USD55,40 per barel.

Menurut Hyerczyk, level resistance utama WTI berada pada rata-rata pergerakan (moving average) 200 hari di USD70,15 per barel.

Sementara itu, Brent perlu menembus rata-rata pergerakan 200 hari (MA-200) di USD74,06 per barel untuk memberikan sinyal bahwa tekanan jual mulai mereda.

Dalam waktu dekat, pelaku pasar akan mencermati perkembangan diplomasi antara Washington dan Teheran setelah perundingan dijadwalkan kembali berlangsung usai 9 Juli, sekaligus memantau implementasi kenaikan produksi OPEC+.

Selama negosiasi tidak mengalami kebuntuan dan tidak muncul gangguan pasokan baru, harga minyak diperkirakan masih bergerak dalam tren melemah pada pekan ini. (Aldo Fernando)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ada Desakan Agar Muktamar NU Digelar di Jakarta Saja
• 21 jam lalujpnn.com
thumb
Komnas HAM dorong investigasi kasus ibu hamil tewas tertembak di Papua
• 11 jam laluantaranews.com
thumb
Baca Arsip Lama, Pria Ini Temukan 100 Batang Emas di Laut Riau
• 14 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Dua Helikopter Water Bombing Bakal Ditambah ke Lokasi Kebakaran TPA Jatiwaringin
• 10 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kesempatan Borong Emas Pekan Depan, Harga Diprediksi Naik Akhir Tahun
• 22 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.