Pantau - Paus Leo XIV mengunjungi Pulau Lampedusa di Laut Mediterania, Sabtu (4/7), untuk mendesak para pemimpin Eropa dan Amerika Serikat agar menangani persoalan migrasi dengan mengedepankan solidaritas dan kemanusiaan, bukan semata-mata pencegahan dan pendekatan keamanan.
Kunjungan Paus pertama asal Amerika Serikat itu dilakukan bertepatan dengan peringatan 250 tahun Kemerdekaan AS di lokasi yang selama ini dikenal sebagai salah satu gerbang utama kedatangan migran menuju Eropa.
Paus Serukan Kebijakan Migrasi yang Lebih ManusiawiPaus Leo XIV menegaskan bahwa para migran harus diperlakukan sebagai individu yang membutuhkan perlindungan.
Ia menyampaikan pesan tersebut di tengah kebijakan migrasi baru Uni Eropa yang memperluas kewenangan penahanan dan mengizinkan pembentukan pusat deportasi di luar kawasan.
"Dari sudut terpencil Eropa di Laut Mediterania ini, kita dapat lebih jelas memahami tantangan besar yang ditimbulkan oleh fenomena migrasi bagi masyarakat Eropa," ungkap Paus Leo XIV.
Ia menambahkan bahwa Eropa mampu menghadapi persoalan tersebut melalui kebijakan yang "menerima, melindungi, mendukung, dan mengintegrasikan migran" sekaligus membantu negara asal "agar tidak ada yang dipaksa untuk beremigrasi."
Kunjungan tersebut juga berlangsung setelah Paus Leo XIV selama beberapa bulan terakhir mengkritik berbagai kebijakan imigrasi yang dinilai keras, termasuk yang diterapkan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Lampedusa Kembali Menjadi Simbol Krisis MigrasiDalam kunjungan sehari itu, Paus Leo XIV memulai agenda dengan berdoa di makam para migran yang meninggal saat berusaha menyeberangi Laut Mediterania dari Afrika Utara menuju Eropa.
Ia kemudian mengunjungi Monumen Gerbang Menuju Eropa serta bertemu dengan sebuah keluarga migran yang berada di pulau tersebut.
Saat memimpin misa terbuka, Paus membandingkan penderitaan para migran dengan kisah Orang Samaria yang Baik Hati dalam Injil.
"Di sini, Anda telah melihat bukan hanya satu, tetapi ribuan manusia jatuh ke tangan perampok yang telah mengambil segalanya dari mereka, memukuli mereka dengan brutal dan pergi begitu saja, meninggalkan mereka dalam kondisi setengah mati," katanya.
Paus Leo XIV juga memberikan penghormatan kepada para korban yang meninggal di laut dan menilai keberadaan mereka menjadi pengingat bagi hati nurani masyarakat Eropa.
Lampedusa yang berjarak sekitar 145 kilometer dari Tunisia selama bertahun-tahun menjadi titik utama kedatangan migran ke Italia.
Berdasarkan data badan pengungsi PBB, lebih dari 14.000 migran tiba di Italia sepanjang paruh pertama tahun 2026 dan hampir 60 persen di antaranya mendarat di Pulau Lampedusa dengan sebagian besar berangkat dari Libya.
Paus Leo XIV turut mengapresiasi warga Lampedusa yang selama ini membantu proses penyelamatan dan menerima para migran.
Ia menyebut tindakan masyarakat setempat sebagai "mukjizat belas kasih."




