Grid.ID - Terungkap kronologi cekcok Gusti Moeng vs Bupati Estri Ana di Keraton Solo jelang acara Wilujengan. Permasalahan diketahui berawal dari hal ini.
Dalam sebuah video viral terlihat adanya insiden adu mulut yang terjadi di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat atau Keraton Solo, pada Minggu (5/7/2026). Dua tokoh yang berkonflik yaitu ada Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA), GKR Moertiya Wandasari atau Gusti Moeng dengan Bupati Estri PB XIV Purbaya, KMT Ana Rahayuning Tyas.
Insiden ini diketahui terjadi saat persiapan upacara adat Wilujengan Hajad Dalem Labuhan Parangkusumo yang digelar kubu Pakubuwono (PB) XIV Purbaya. Juru Bicara PB XIV Purbaya, KPA Singonagoro kemudian membenarkan adanya ketegangan tersebut.
Singonagoro menjelaskan, awalnya periapan Wilujengan Hajad Dalem Labuhan Parangkusumo berlangsung di Sasana Parasdya Keraton Solo sekitar pukul 09.30 WIB. Saat itu, Bupati Estri Ana sedang menata sesajen dan perlengkapan upacara, namun sebelum prosesi dimulai, sudah ada kabar bahwa Pintu Kamandungan tak akan dibuka untuk rombongan utusan dalem PB XIV Purbaya.
"Sebetulnya dari pagi sudah ada slentingan-slentingan bahwa termasuk salah satunya Gusti Moeng itu tidak akan membukakan pintu Kamandungan. Akhirnya puncaknya sekira pukul 09.30 WIB, Mbak Anna, Bupati Estri-nya Sinuhun itu mau menata sajen dan juga tempat untuk Wilujengan Hajad Dalem Parangkusumo," ujar Singonagoro, dikutip dari Tribun Solo.com.
Menurutnya, ketegangan mulai terasa saat Gusti Moeng datang ke lokasi persiapan upacara. Singonagoro mengatakan bahwa Gusti Moeng sempat melontarkan kata-kata kepada Bupati Estri Ana dan menggeser karpet yang telah disiapkan untuk prosesi adat.
"Di situ Mbak Ana ketemu dengan Gusti Moeng. Gusti Moeng ya sempat, sesuai dengan di video itu sempat ngata-ngatain segala macam itu. Terus sempat ngosak-asik karpet yang mau dipakai Wilujengan di Sasana Parasdya," lanjutnya.
Merasa jengkel, Bupati Estri Ana kemudian membalas perkataan Gusti Moeng hingga terjadilah adu mulut. Dalam video yang beredar, keduanya juga tampak saling menarik karpet merah yang akan digunakan sebagai prosesi adat.
"Memang dari pihak kita itu tidak pernah ngrusuhi mereka atau menghalang-halangi acara mereka. Lha tiba-tiba Gusti Moeng kembali berulah seperti itu akhirnya Mbak Ana juga jengkel dan sempat adu mulut berdebat di situ," jelas Singonagoro.
Adapun, ketegangan juga datang dari kakak perempuan PB XIV Purbaya, GKR Sekarjati atau Gusti Devi Lelyana Dewi yang juga ikut adu mulut dengan Gusti Moeng. Selain itu, dia juga terlihat merekam jalannya peristiwa di ruangan tersebut.
"Iya tadi Gusti Kanjeng Ratu Sekarjati ada di situ. Memang bersama-sama dengan Mbak Anna mengurusi itu, dan tadi sempat adu mulut," tuturnya.
Usai situasi semakin memanas, Bupati Estri Ana lalu memanggil Ketua Eksekutif LDA, KPH Eddy Wirabhumi. Melansir dari Kompas.com, KPH Eddy kemudian datang dan berupaya untuk menenangkan situasi serta mengajak Gusti Moeng meninggalkan lokasi.
"Terus akhirnya Mbak Ana sempat manggil Kanjeng Wiro untuk nuturi istrinya agar tidak melakukan hal-hal seperti itu. Akhirnya terus Gusti Moeng sama Kanjeng Wiro diajak turun itu," ungkap Singonagoro.
Dalam kronologi cekcok Gusti Moeng vs Bupati Estri Ana ini, persiapan prosesi jadi terkendala karena rombongan utusan dalem PB XIV Purbaya tak dapat melewati Pintu Kamandungan seperti pelaksanaan upacara sebelumnya. Lantaran tak bisa lewat tengah, rombongan akhirnya memilih melewati pintu samping agar prosesi tetap bisa dilanjutkan.
"Kami tidak dibukakan pintu Kamandungan tengah, seperti yang sudah-sudah itu kan kami biasanya kalau utusan dalem harus lewat pintu yang tengah. Akhirnya kita lewat samping, karena pada prinsipnya kita ingin menjaga marwah Keraton," katanya.
Berbagai insiden tersebut kemudian mengakibatkan keberangkatan rombongan menuju Pantai Parangkusumo tertunda sekitar satu jam dari jadwal semula. Singonagoro mengatakan bahwa pihak PB XIV Purbaya meyayangkan insiden cekcok tersebut karena dinilai mengganggu jalannya upacara adat.
"Kami menyayangkan sikap Gusti Moeng yang seperti itu terus, dan semoga ini juga menjadi catatan pemerintah atas mitra yang digandeng di keraton. Dengan sikap yang seperti itu tentu tidak mencerminkan sosok tokoh adat dan berbudaya," tutup Singonagoro.
Setelah insiden ini viral, belum ada tanggapan resmi dari GKR Moertiyah Wandasari atau Gusti Moeng. Sementara itu, Ketua Eksekutif LDA Keraton Solo, KPH Eddy Wirabhumi, menyatakan masih akan menunggu keterangan resmi dari pihak PB XIV Purbaya sebelum memberikan komentar lebih lanjut. (*)
Artikel Asli




