Eks Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei ternyata memiliki alasan yang kuat untuk dibunuh oleh Israel dan Amerika Serikat (AS). Ia diketahui menjadi salah satu korban serangan dari kedua negara dalam perang dengan Iran.
Tokoh Senior Gerakan Ansarullah Yaman Mohammed al-Bukhaiti mengatakan bahwa politikus itu dibunuh karena menyuarakan dukungan tanpa kompromi terhadap perjuangan dari Palestina. Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri rangkaian upacara penghormatan terakhir bagi Ayatollah Ali Khamenei di Teheran.
Baca Juga: Generasi Muda Amerika Ternyata Semakin Membenci Israel, Netanyahu Sampai Dibuat Prihatin
Al-Bukhaiti menilai sosok ternama itu telah melampaui batas-batas geografis dan menjadi simbol perjuangan bagi banyak bangsa yang ingin terbebas dari dominasi Amerika Serikat dan Israel.
"Dia akan selalu menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat di seluruh dunia," ujar Al-Bukhaiti, dikutip Senin (6/7).
Menurutnya, Amerika Serikat dan Israel menyoroti pemikiran politik dan ideologi dari sang politikus yang menyebar ke berbagai negara muslim dan komitmennya mendukung pembebasan Palestina. Dua hal itu sudah menjadi faktor utama yang mendorong kedua negara melakukan pembunuhan terhadapnya di Iran..
"Pemikiran politik dan ideologinya di dunia islam, bersama upayanya mendukung pembebasan, merupakan salah satu faktor utama yang mendorong dua negara itu membunuhnya," kata Al-Bukhaiti.
Pengaruh Khamenei menurutnya tidak hanya dirasakan di Iran. Menurutnya, Khamenei telah menjadi inspirasi bagi berbagai gerakan perlawanan yang menentang dominasi dari Barat di Timur Tengah.
Diketahui, Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan udara yang menghantam kantor sekaligus kediamannya di Teheran, 28 Februari 2026. Hari itu bertepatan dengan hari pertama perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Dalam serangan tersebut, sejumlah anggota keluarganya juga dilaporkan menjadi korban, termasuk cucunya yang masih berusia 14 bulan.
Pemerintah Iran kini menggelar rangkaian upacara penghormatan terakhir yang berlangsung sejak akhir pekan dan akan berlanjut hingga prosesi pemakaman di Mashhad, 9 Juli 2026.
Sebelumnya, puluhan delegasi dari berbagai negara juga menghadiri acara penghormatan bagi Khamenei di Teheran. Hal itu dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada pemimpin yang memimpin negara selama lebih dari tiga dekade.
Baca Juga: Jokowi Ditantang Buktikan Kerugian Akibat Tuduhan Soal Ijazah, Dokter Tifa: Jangan-jangan Hanya...
Pernyataan Ansarullah tersebut menambah narasi bahwa konflik yang terjadi tidak hanya berkaitan dengan program nuklir, tetapi juga dipicu oleh posisi mendukung perjuangan dan kelompok-kelompok perlawanan di Timur Tengah.





