Erling Braut Haaland Membangunkan Viking

medcom.id
4 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Selama hampir tiga dekade, satu generasi anak-anak Norwegia tumbuh tanpa pernah melihat negaranya bermain di Piala Dunia. Mereka mengenal turnamen terbesar sepak bola itu dari layar televisi. Mereka menghafal nama-nama pahlawan dari negara lain. Mereka ikut bersorak. Tetapi bukan untuk negaranya sendiri.
 
Lalu lahirlah seorang anak dari kota kecil Bryne bernama Erling Braut Haaland. Dunia mengenalnya sebagai The Terminator. Saya justru melihatnya sebagai sesuatu yang lain, bukan sekadar pencetak gol. Melainkan pengingat, bahwa darah Viking ternyata belum berhenti mengalir.
 
Ironisnya, dunia mengenal Mesin Gol Norwegia itu karena gol-golnya. Padahal menurut saya, gol bukanlah karya terbesarnya. Karya terbesar Haaland adalah membuat bangsanya kembali percaya kepada dirinya sendiri.

Nama besar bukan sesuatu yang asing bagi keluarga Haaland. Ayahnya pernah bermain di level tertinggi sepak bola Inggris. Ibunya pernah menjadi atlet nasional Norwegia. Namun The Cyborg tidak pernah hidup di bawah bayang-bayang nama besar keluarganya.
 
Haaland juga tidak pernah merasa harus meninggalkan kota kecil yang membesarkannya. Semakin besar namanya dikenal dunia, semakin erat ia menggenggam Bryne.
 
Di zaman ketika banyak orang berlomba meninggalkan tempat asalnya demi terlihat lebih besar, Bomber Skandinavia itu justru mengajarkan sesuatu yang berbeda. Bahwa seseorang tidak menjadi besar karena melupakan tempat asalnya. Dan Haaland menjadi besar karena tidak pernah malu mengakuinya. Mungkin karena itu, ketika dunia melihat seorang superstar, rakyat Norwegia justru melihat seorang anak Bryne yang tidak pernah lupa jalan pulang.
 
Piala Dunia 2026 menjadi panggung yang telah lama ditunggu Tim Viking. Hampir tiga puluh tahun Norwegia hanya menjadi penonton. Kini mereka kembali. Dan di garis paling depan berdiri Sang Predator Kotak Penalti. Gol-gol mulai lahir. Rekor mulai tercipta. Dunia kembali membicarakan Norwegia. Namun saya merasa ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada semua statistik itu.
 
Laga demi laga membuat dunia mulai memahami mengapa The Terminator begitu ditakuti. Haaland tidak selalu menjadi pemain yang paling sering menyentuh bola. Bahkan, dalam beberapa pertandingan, namanya nyaris tenggelam di tengah dominasi lawan. Namun justru ketika pertandingan memasuki saat-saat yang paling menentukan, Sang Predator Kotak Penalti seolah selalu mengetahui di mana bola akan jatuh beberapa detik lebih awal daripada bek yang menjaganya.
 
Puncaknya terjadi ketika Tim Viking berhadapan dengan Tim Samba, Brasil, di babak 16 besar. Lima kali juara dunia itu datang dengan nama-nama besar dan pengalaman yang jauh lebih panjang di panggung Piala Dunia. Brasil bahkan memperoleh hadiah penalti yang berpotensi mengubah arah pertandingan. Namun penyelamatan Ørjan Nyland menjaga harapan Norwegia tetap hidup.
 
Ketika banyak orang mengira sejarah akan kembali berpihak kepada Brasil, Haaland justru menulis sejarah yang baru. Dua golnya memastikan kemenangan Norwegia. Dua gol itu bukan sekadar menyingkirkan salah satu raksasa sepak bola dunia. Dua gol itu mengantar Norwegia melangkah ke perempat final Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah.
 
Pada momen itulah saya merasa, yang sedang kita saksikan bukan hanya kemenangan sebuah tim. Melainkan lahirnya kembali keyakinan sebuah bangsa. Kala peluit panjang berbunyi, puluhan ribu pendukung Norwegia tetap bertahan di tribun. Perlahan mereka mulai mengayunkan kedua tangan dengan serempak ke depan dan ke belakang. Gerakannya seperti sedang mendayung sebuah kapal Viking.
 
Dari atas stadion, gerakan itu tampak seperti ombak yang sedang menggerakkan kapal raksasa menuju cakrawala. Semula hanya dilakukan oleh para suporter. Tidak lama kemudian para pemain ikut melakukannya. Lalu ritual itu keluar dari stadion. Di jalan-jalan kota tuan rumah. Di Times Square. Di kereta bawah tanah New York. Di berbagai sudut Amerika Serikat. Orang-orang yang bahkan tidak saling mengenal mendadak mendayung bersama. Apa yang semula hanya selebrasi sepak bola perlahan berubah menjadi sebuah gerakan.
 
Banyak media dunia menyebut Viking Row sebagai simbol persatuan sekaligus kebangkitan identitas Norwegia. Tetapi menurut saya, maknanya jauh lebih dalam. Mereka tidak sedang menirukan para Viking. Mereka sedang mengingat bahwa mereka memang bangsa Viking.
 
Berabad-abad silam, leluhur mereka dikenang bukan karena selalu pulang membawa kemenangan. Mereka dikenang karena selalu berani berlayar menuju lautan yang belum pernah dipetakan. Maka ketika puluhan ribu orang mendayung bersama di stadion-stadion Amerika Serikat, saya tidak lagi melihat sebuah koreografi. Saya melihat sebuah bangsa yang sedang pulang. Pulang kepada sejarah. Pulang kepada keberanian. Dan muaranya, pulang kepada identitas.
 
Saya melihat Norwegia berkata kepada dunia, "Kami masih ada." Menariknya, selepas kemenangan bersejarah itu, pelatih Ståle Solbakken tidak hanya berbicara tentang Haaland. Solbakken justru memuji budaya tim yang saling menjaga dan saling menguatkan.
 
Barangkali di situlah letak kekuatan Norwegia yang sesungguhnya. Haaland memang menjadi wajahnya. Tetapi wajah itu hanya mungkin bersinar karena berdiri di atas fondasi kebersamaan. Mungkin Erling Braut Haaland tidak pernah berniat menjadi simbol. Melainkan hanya tidak pernah lupa dari mana asalnya. Dari kota kecil bernama Bryne.
 
Dan sering kali, satu orang yang tidak melupakan akarnya sudah cukup untuk membuat sebuah bangsa mengingat kembali siapa dirinya. Di situlah saya menyadari bahwa pelajaran terbesar dari Erling Braut Haaland bukanlah tentang mencetak gol. Melainkan tentang menghidupkan kembali keyakinan. Bangsa besar tidak selalu lahir ketika menemukan seorang pahlawan. Kadang-kadang sebuah bangsa kembali besar ketika berhasil mengingat siapa dirinya.
 
Barangkali hidup kita pun demikian. Ada saat-saat ketika kita merasa kehilangan arah. Merasa tidak lagi mengenali diri sendiri. Merasa terlalu lama menjadi penonton bagi mimpi-mimpi orang lain. Mungkin yang kita butuhkan bukanlah kehidupan yang baru. Melainkan keberanian untuk mengingat kembali siapa diri kita sebenarnya.
 
Saya kemudian memahami mengapa Viking Row begitu mudah menyatukan puluhan ribu orang. Sebab gerakan itu bukan hanya tentang mendayung namun sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap perjalanan selalu dimulai dari tempat yang sama. Dari rumah, dari akar, dan dari identitas.
 
Banyak orang akan mengingat gol-gol The Terminator. Mereka akan mengingat rekor-rekornya. Saya justru akan mengingat pemandangan yang lain. Puluhan ribu orang mendayung bersama. Anak-anak kecil menirukannya. Para pemain melakukannya dengan penuh kebanggaan.
 
Dan sebuah bangsa yang perlahan menemukan kembali keberanian untuk bermimpi. Sebab, gol-gol Haaland mungkin hanya mengubah papan skor. Tetapi Viking Row mengubah cara sebuah bangsa memandang dirinya sendiri.
 
Kelak, orang mungkin lupa berapa gol yang dicetak Erling Braut Haaland di Piala Dunia 2026. Mereka mungkin lupa kepada siapa gol-gol itu bersarang. Tetapi rakyat Norwegia akan selalu mengingat bahwa pernah ada seorang anak dari Bryne yang membuat mereka berhenti bertanya, "Apakah Norwegia bisa?". Lalu mulai berkata, "Mengapa tidak?".
 
Karena tidak semua legenda membangun kejayaan dengan mahkota. Sebagian membangunnya dengan harapan.
 
Lalu bagaimana dengan Sang Pangeran Samba yang tak pernah bermahkota? Ikuti kisahnya.
 
Oleh: N.D. Santoso
 
Halo sobat Medcom, buat kalian yang suka nonton bola dan nebak skor pertandingan, yuk ikutan lomba tebak skor Medcom.id yang akan hadir setiap hari dari fase grup hingga final. Nah, kita udah siapin hadiah menarik senilai jutaan rupiah buat kalian yang paling banyak menebak skor pertandingan dengan benar. So, tunggu apa lagi, yuk, daftar di sini.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ASM)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tujuh bangunan liar di Kampung Bali Jakpus segera ditertibkan
• 4 jam laluantaranews.com
thumb
6 Motor Dilaporkan Hilang ke Radio Suara Surabaya pada Hari Ini
• 18 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Ternyata Tiga Makanan Ini Bagus Buat Ginjal
• 17 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Menko PM: Pemerintah Harus Mulai Fokus Buka Akses Global untuk Brand Lokal
• 21 jam laludetik.com
thumb
Alyssa Daguise Dikomentari Gendutan, Begini Perubahan Tubuh Ibu usai Melahirka
• 1 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.