Bisnis.com, JAKARTA — PT Esa Medika Mandiri Tbk. (EMMI) menyebut aksi penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) sebagai pijakan untuk mempercepat pertumbuhan jangka panjang.
Direktur Utama Esa Medika Mandiri Florian Chris Widjaja mengatakan IPO bukan sekadar upaya menghimpun dana dari publik, tetapi menjadi bagian dari transformasi perusahaan agar memiliki tata kelola yang lebih baik dan kapasitas bisnis yang lebih besar.
"Bagi saya IPO bukan sekadar langkah penghimpunan dana, melainkan bagian dari transformasi jangka panjang menuju perusahaan yang lebih transparan, memiliki tata kelola yang kuat, serta mampu menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan," ujarnya baru-baru ini, mengutip harian Bisnis Indonesia.
Florian mengatakan penguatan struktur permodalan akan menopang pengembangan kapasitas usaha sekaligus memperluas kontribusi perseroan dalam mendukung peningkatan layanan kesehatan dan memperkuat kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Saat ini, EMMI bergerak di bidang perdagangan besar alat laboratorium, alat farmasi, dan alat kedokteran untuk manusia. Perseroan memiliki 1 kantor pusat, 2 fasilitas manufaktur, 4 kantor perwakilan, serta jaringan pemasaran yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Portofolio bisnis EMMI berfokus pada penyediaan peralatan medis capital equipment yang digunakan rumah sakit dan fasilitas kesehatan dalam jangka panjang.
Baca Juga
- Rangkuman Data dan Fakta IPO RANS, BACH, EMMI, JELI, JECX hingga PRDL
- Esa Medika (EMMI) Pasang Harga IPO Rp470, Incar Dana Segar Rp245,74 Miliar
- Bedah Prospek Emiten IPO: RANS, EMMI, JELI hingga PRDL
Produk yang dipasarkan mencakup peralatan ruang operasi, intensive care unit (ICU), instalasi gawat darurat (IGD), sistem sterilisasi, hingga berbagai perangkat medis penunjang keselamatan pasien dan efisiensi operasional rumah sakit.
Selain memperkuat distribusi produk dari berbagai prinsipal global, perseroan juga mengembangkan kemampuan manufaktur lokal melalui fasilitas produksi di Cikupa dan Solo sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
Menurutnya, IPO menjadi awal fase pertumbuhan baru bagi perusahaan.
"IPO ini bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari fase pertumbuhan baru. Melalui IPO ini, kami optimistis dapat mendorong EMMI menjadi perusahaan alat kesehatan nasional yang lebih kuat dan semakin relevan dalam mendukung peningkatan layanan kesehatan di Indonesia," ujarnya.
EMMI menetapkan harga IPO sebesar Rp470 per saham. Perseroan menawarkan sebanyak 522,86 juta saham baru atau setara 30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO, sehingga berpotensi menghimpun dana sekitar Rp245,74 miliar.
Masa penawaran umum berlangsung pada 2–6 Juli 2026, dilanjutkan penjatahan pada 6 Juli 2026, distribusi saham secara elektronik pada 7 Juli 2026, dan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia dijadwalkan pada 8 Juli 2026.
Dalam aksi korporasi tersebut, PT BRI Danareksa Sekuritas dan PT INA Sekuritas Indonesia bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek dengan skema full commitment. Adapun PT Yulie Sekuritas Indonesia Tbk. dan PT Investindo Nusantara Sekuritas menjadi penjamin emisi efek.
Berdasarkan prospektus, sekitar Rp50 miliar dana hasil IPO akan digunakan untuk membayar sebagian pokok pinjaman perseroan. Selanjutnya, sekitar 6,4% dialokasikan untuk belanja modal pembangunan gedung pabrik di Cikupa.
Selanjutnya, mayoritas dana IPO sekitar 72,3% digunakan sebagai modal kerja, termasuk pembelian barang untuk proyek soft loan dan bahan baku.
"Kami melihat kebutuhan alat kesehatan nasional masih memiliki ruang pertumbuhan yang luas, didorong oleh modernisasi rumah sakit, peningkatan kapasitas layanan kesehatan, serta penguatan industri alat kesehatan dalam negeri," kata Florian.
Dari sisi kinerja, EMMI membukukan pertumbuhan yang konsisten dalam tiga tahun terakhir. Penjualan bersih meningkat dari Rp172,98 miliar pada 2023 menjadi Rp384,93 miliar pada 2024, kemudian kembali naik menjadi Rp454,64 miliar pada 2025.
Laba bersih perseroan juga melonjak dari Rp939,42 juta pada 2023 menjadi Rp11,01 miliar pada 2024, sebelum meningkat menjadi Rp34,13 miliar pada 2025.
Setelah IPO dan pelaksanaan program ESA, kepemilikan saham publik diperkirakan mencapai sekitar 29,7%. Surya Gunawan Widjaja tetap menjadi pemegang saham terbesar dengan kepemilikan 21,1%, diikuti Andrew Ignatius Widjaja 16,4%, Florian Chris Widjaja 11,2%, Andrian Matthew Widjaja 11,2%, serta Eddy Lie 10,2%.
Perseroan menyebut saat ini telah melayani lebih dari 200 rumah sakit dan fasilitas kesehatan di seluruh Indonesia.
PROSPEK SAHAMAnalis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai di antara saham emiten IPO sekarang ini, EMMI memiliki growth story yang solid. Menurutnya, perusahaan didukung ekspansi diagnostik dan penetrasi pasar yang masih luas.
Secara keseluruhan, Abida menilai momentum IPO di semester kedua 2026 ini berpeluang membaik seiring dengan meredanya geopolitik, kepastian pasca MSCI, dan rebound IHSG yang menciptakan window of opportunity yang lebih kondusif.
“Antrean IPO yang mulai ramai adalah sinyal pemulihan kepercayaan pasar modal dengan kualitas emiten sebagai penentu keberlanjutan momentum,” jelas Abida.
Gelombang IPO di sisa tahun ini juga didukung oleh kondisi lingkungan suku bunga yang sedang tinggi. Menurutnya, IPO justru menjadi alternatif pendanaan yang lebih menarik di lingkungan BI Rate 5,75% karena tidak menambah beban bunga seperti pinjaman bank.
“Bagi perusahaan dengan growth story kuat, equity financing menawarkan fleksibilitas lebih baik dibanding utang berbunga tinggi saat ini,” pungkasnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





