Keberadaan 'salju abadi' di Puncak Jaya, Papua Tengah, terus menyusut dari tahun ke tahun. Gletser tropis yang menjadi satu-satunya di Indonesia itu kini berada dalam kondisi kritis akibat perubahan iklim yang terjadi secara global.
Kondisi tersebut menjadi perhatian setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) merilis perkembangan terbaru mengenai penyusutan gletser di Puncak Jaya.
Lantas, seperti apa kondisi terkini salju di Puncak Jaya, apa penyebabnya terus mencair, dan apa dampaknya? Berikut penjelasannya.
Merujuk pada laporan yang disampaikan BMKG, luas gletser di Puncak Jaya terus mengalami penyusutan. Pada 1988, luasnya masih sekitar 4,3 kilometer persegi, sedangkan hingga September 2025 tersisa sekitar 0,09 kilometer persegi atau sekitar 2 persen saja.
"Pada 1988, luas es masih sekitar 4,3 km², namun hingga September 2025 luasnya tinggal sekitar 0,09 km², atau hanya sekitar 2% dari luas yang tercatat pada tahun 1988," jelas BMKG dalam pernyataan resminya, seperti dilihat Senin (6/7/2026).
Dalam pernyataan resminya itu, BMKG juga menyebut, "Tidak lama lagi, Indonesia mungkin akan kehilangan es abadinya untuk selamanya." BMKG pun memperkirakan es abadi tersebut dapat hilang sepenuhnya pada akhir 2026 atau awal 2027.
Penyusutan juga terlihat dari ketebalan es. BMKG mencatat ketebalan gletser yang pada 2010 masih sekitar 32 meter menyusut menjadi sekitar 4 meter pada 2023. Bahkan, hasil pemantauan terbaru menunjukkan es di titik pengamatan tersebut telah mencair sepenuhnya. Sejak 2006, laju penipisan es diperkirakan mencapai 2 hingga 2,5 meter per tahun.
BMKG menjelaskan pencairan gletser dipicu oleh kombinasi perubahan iklim global dan fenomena El Nino yang membuat suhu semakin panas serta kondisi cuaca lebih kering di Indonesia. Dalam keterangannya, BMKG juga menyebut, "Banyak peneliti memperkirakan es abadi di Papua hanya tinggal hitungan bulan sebelum benar-benar hilang."
Senada dengan itu, Peneliti Astronomi BRIN Prof. Thomas Djamaluddin mengatakan peningkatan temperatur global membuat lapisan es di Puncak Jaya sulit terbentuk kembali. "Kalau es menghilang di Puncak Jaya tidak mungkin lagi kembali karena temperatur global terus meningkat, jadi makin panas," ujarnya saat dihubungi, Sabtu (4/7/2026).
Thomas menambahkan bahwa pencairan gletser tidak hanya terjadi di Papua. "Es abadi di Puncak Jaya, Papua, juga terdampak pemanasan global sehingga lapisan es terus mencair dan makin berkurang luas dan ketebalannya," katanya.
Apa Dampaknya jika Gletser Puncak Jaya Hilang?Menurut BMKG, Puncak Jaya memiliki arti penting bagi masyarakat adat Papua. Gunung tersebut dipandang sebagai simbol budaya dan spiritual sehingga hilangnya lapisan es juga berarti hilangnya bagian dari warisan alam yang telah ada selama ribuan tahun.
BMKG juga mengingatkan bahwa pencairan gletser dapat memengaruhi lingkungan sekitar. "Es pegunungan menjaga keseimbangan air di Papua. Jika mencair, maka ekosistem, habitat satwa, dan lahan pertanian masyarakat bisa ikut terdampak," tulis BMKG dalam keterangan resminya.
Sementara itu, Prof. Thomas Djamaluddin menjelaskan bahwa pencairan es di Puncak Jaya tidak menimbulkan dampak signifikan secara langsung di tingkat lokal karena prosesnya berlangsung secara bertahap. Namun, secara global pencairan gletser tetap berkontribusi terhadap kenaikan permukaan air laut.
BMKG menyebut kondisi di Puncak Jaya menjadi salah satu bukti nyata dampak perubahan iklim. Bahkan, dalam unggahannya BMKG menyatakan, "Sulit dipercaya, tapi mungkin kita adalah generasi terakhir yang masih sempat melihat es abadi di Indonesia."
Karena itu, BMKG mengajak masyarakat ikut berkontribusi melalui berbagai langkah sederhana, seperti menggunakan transportasi umum, menghemat energi dan air, menanam pohon, mendaur ulang sampah, serta memilih produk yang lebih ramah lingkungan. Berbagai upaya tersebut diharapkan dapat membantu memperlambat dampak perubahan iklim dan menjaga kelestarian bumi.
(wia/zap)





