Aksi penawaran saham perdana publik atau initial public offering (IPO) oleh sejumlah calon emiten bakal menyemarakkan Bursa Efek Indonesia (BEI) pekan ini. Dari enam kandidat perusahaan tercatat yang akan melantai, tiga di antaranya berasal dari sektor kesehatan.
Ketiga emiten tersebut adalah perusahaan perakitan alat medis diagnostic PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), perusahaan rumah sakit spesialisasi mata PT Nitrasanata Dharma Tbk (JEXC), serta perusahaan perdagangan alat laboratorium PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI).
Dalam prospektus masing-masing, ketiga perusahaan sama-sama menilai prospek industri kesehatan masih ditopang kebijakan pemerintah yang terus meningkatkan akses dan kualitas layanan kesehatan.
Pemerintah mengalokasikan anggaran kesehatan sebesar Rp 244 triliun dalam APBN 2026, naik dari Rp 218,5 triliun pada 2025. Anggaran tersebut antara lain digunakan untuk memperkuat Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), menjalankan Program Cek Kesehatan Gratis, mengendalikan penyakit menular dan penyakit prioritas, serta meningkatkan fasilitas dan layanan kesehatan.
Dalam IPO kali ini, EMMI dan JECX memilih harga di kisaran tengah. EMMI menetapkan harga IPO Rp 470 per saham dari rentang penawaran Rp 446–515 per saham, sedangkan JECX mematok harga Rp 1.250 per saham dari kisaran Rp 1.200–1.400 per saham.
Adapun PRDL, anak usaha PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA), menetapkan harga IPO di batas atas, yakni Rp 120 per saham dari rentang penawaran Rp 100–120 per saham.
PRDL dinilai menarik dalam IPO ini. Emiten alat kesehatan diagnostik itu mencatatkan pendapatan Rp 74 miliar, laba bersih Rp 17 miliar, ROE sekitar 20%, serta PER 7–9 kali. Adapun kapitalisasi pasarnya setelah IPO sekitar Rp 174–Rp 209 miliar. Namun, kinerja pendapatan perseroan masih tergolong volatil.
“Valuasi termurah dan merek Prodia. Catatan: topline volatil, emisi terkecil (Rp 63 M) sehingga berisiko tidak likuid,” tulis Henan Putihrai Sekuritas dalam analisisnya, dikutip pada Senin (6/7).
Henan juga menilai EMMI layak dicermati. Tahun lalu, perusahaan yang bergerak di bidang distribusi alat kesehatan itu mencatatkan pendapatan Rp 455 miliar atau naik 18% dan laba bersih sekitar Rp 33 miliar atau melonjak 188%.
ROE perusahaan sekitar 22% dan PER 24–28 kali dan kapitalisasi pasarnya sekitar Rp 777–Rp 898 miliar. Namun, valuasi EMMI dinilai sudah relatif mahal dan masih memiliki risiko konsentrasi pelanggan.
Untuk JECX, Henan Putihrai Sekuritas menilai emiten yang mengelola rumah sakit mata JEC memiliki aset berkualitas. Namun, IPO emiten tersebut dinilai kurang menarik karena diperdagangkan dengan valuasi PER 55–64 kali dan ROE yang relatif rendah, yakni 8,9%.
Selain itu, laba bersih turun menjadi Rp 71 miliar dari sebelumnya Rp 124 miliar, meski pendapatan masih tumbuh 4% menjadi Rp 927 miliar. Kapitalisai pasar setelah IPO diperkirakan Rp 3,90 triluun–Rp 4,55 triliun.
Kinerja Sektor Kesehatan Anjlok 31% YtdJika mengacu pada indeks sektor kesehatan (IDXHealth), indeks ini sudah turun 31% sejak awal tahun atau year to date (ytd) dari 2.052,40 poin ke 1.414,72 poin per Jumat (3/7).
Investment Specialist Korea Investment Sekuritas Indonesia, Azharys Hardian, menilai sektor kesehatan berpeluang bangkit pada paruh kedua 2026. Menurut dia, kehadiran sejumlah emiten baru dapat meningkatkan likuiditas sekaligus mengembalikan perhatian investor terhadap sektor tersebut.
"Bisnis rumah sakit dan layanan kesehatan pada dasarnya bersifat defensif serta memiliki daya tahan yang tinggi terhadap gejolak makroekonomi," kata Azharys kepada Katadata, Senin (6/7).
Dia mengakui pelemahan nilai tukar rupiah masih menjadi tantangan karena sebagian besar alat kesehatan di Indonesia masih bergantung pada impor. Namun, menurut dia, aksi akumulasi saham PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) oleh PT Astra International Tbk (ASII) menunjukkan investor institusi masih melihat prospek jangka panjang sektor kesehatan.
Pandangan serupa disampaikan analis Panin Sekuritas Cabang Pondok Indah, Elandry Pratama. Dia melihat koreksi IDXHealth lebih dipengaruhi sentimen pasar, rotasi sektor, dan valuasi emiten kesehatan yang sebelumnya sudah cukup tinggi.
Di sisi lain, fundamental industri masih ditopang meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap layanan kesehatan, bertambahnya peserta JKN, populasi lanjut usia (aging population), pertumbuhan kelas menengah, serta ekspansi rumah sakit dan layanan diagnostik.
"Secara bisnis prospeknya masih menarik. Namun pemulihan harga saham kemungkinan berlangsung secara bertahap seiring membaiknya pertumbuhan laba dan sentimen pasar," ujarnya.
Saham Kesehatan yang Menarik DicermatiDi antara emiten kesehatan yang telah tercatat di BEI, Azharys menilai saham HEAL memiliki peluang teknikal paling menarik. Menurut dia, pergerakan saham perusahaan tengah mengonfirmasi pola cup and handle yang berpotensi membuka ruang kenaikan lebih lanjut, dengan target harga di kisaran Rp 980.
Sementara itu, saham PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) masih berada dalam tren penurunan (downtrend) dan berpotensi menguji area support di level 2.110 dalam jangka pendek.
Untuk PT Kimia Farma Tbk (KAEF), harga saham masih bergerak dalam fase konsolidasi. Azharys menilai saham ini berpeluang menguat menuju level 466 apabila mampu menembus area resistance di 458.
Adapun saham PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) masih menghadapi tekanan di area resistance psikologis sekitar level 1.735. Sementara PT Metro Healthcare Indonesia Tbk (CARE) diperkirakan masih bergerak dalam fase konsolidasi dengan potensi menguji area support di level 410.
Dari sisi fundamental, Elandry menjagokan HEAL dan MIKA sebagai pilihan utama. Menurut dia, HEAL memiliki prospek yang didukung ekspansi rumah sakit dan pertumbuhan jumlah pasien, sedangkan MIKA tetap menjadi salah satu saham defensif dengan fundamental yang konsisten.
SILO juga dinilai masih memiliki prospek bisnis yang baik, meski ruang kenaikan harga saham relatif terbatas karena valuasinya masih premium.
Sementara itu, CARE dinilai menarik untuk investasi jangka panjang apabila ekspansi laboratorium dan layanan diagnostik berjalan sesuai rencana. Berbeda dengan emiten lainnya, KAEF diperkirakan masih membutuhkan waktu untuk menyelesaikan proses transformasi bisnis dan meningkatkan efisiensi sehingga proses turnaround belum akan berlangsung dalam waktu dekat.
*Penafian:
Keputusan investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab investor. Artikel ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.




