PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) mulai menggarap potensi Coalbed Methane (CBM) di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, yang diperkirakan mencapai 9,7 triliun kaki kubik (TCF) Original Gas in Place (OGIP). Potensi gas non-konvensional tersebut diperkirakan memiliki nilai ekonomi sekitar US$15,4 miliar dan dinilai dapat menjadi sumber pasokan baru untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Pengembangan CBM menjadi bagian dari strategi PGN dalam mendiversifikasi pasokan gas bumi domestik di tengah meningkatnya kebutuhan energi nasional. Perseroan juga telah menyiapkan skema pemanfaatan gas dengan target penyaluran secara bertahap, mulai dari 1 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) hingga mencapai 25 MMSCFD.
Bagi PGN, proyek ini membuka peluang monetisasi sumber daya gas non-konvensional yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Pasokan gas dari CBM diharapkan dapat memperkuat pemenuhan kebutuhan sektor industri maupun pembangkit listrik.
Direktur Utama PGN, Arief K. Risdianto, mengatakan selain mengembangkan CBM, perusahaan juga memetakan potensi pasokan dari biomethane berbasis limbah kelapa sawit dan Synthetic Natural Gas (SNG). Ketiga sumber energi tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung pasokan gas di Sumatera Selatan.
“Dalam upaya menjaga kestabilan pasokan sekaligus memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia di Sumatera Selatan, PGN melaksanakan pengembangan infrastruktur injection point. Infrastruktur ini sebagai titik pengumpul gas, di mana gas yang bersumber dari tiga pasokan, baik dari coalbed methane, dari biomethane ataupun juga sumber lainnya akan dikumpulkan yang kemudian akan masukkan ke dalam pipa transmisi yang sudah ada,” jelas Arief.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur tersebut akan mengintegrasikan pasokan gas dari berbagai sumber ke jaringan transmisi PGN sehingga distribusi gas dapat dilakukan secara lebih efisien dan optimal.
Upaya percepatan pengembangan CBM turut mendapat perhatian pemerintah. Pada Jumat (3/7/2026), Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. Dudung Abdurachman bersama jajaran mengunjungi Stasiun Penerima Gas (SPG) dan Stasiun Kompresor Gas (SKG) Pagardewa untuk meninjau kesiapan proyek tersebut.
Dalam kunjungan tersebut, Kantor Staf Presiden (KSP) menegaskan komitmennya mengawal pelaksanaan program prioritas nasional, khususnya yang berkaitan dengan ketahanan energi, peningkatan kapasitas produksi energi domestik, serta pengurangan ketergantungan terhadap impor energi.
Baca Juga: PGN Kaji Dampak Kebijakan Harga LNG US$13/MMBTU terhadap Kinerja Keuangan
Baca Juga: PGN Siap Jalankan Kebijakan Harga LNG US$13/MMBTU, Suplai ke Industri Dijamin Tetap Andal
Kepala Staf Kepresidenan menyampaikan percepatan proyek pengembangan CBM memiliki nilai strategis bagi kepentingan nasional. Meski masih terdapat sejumlah aspek administratif yang perlu diselesaikan, termasuk penyesuaian Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), pemerintah mendorong penyelesaiannya agar proyek dapat segera memasuki tahap komersialisasi sesuai ketentuan yang berlaku.
Arief turut mengapresiasi dukungan KSP dalam membantu percepatan pengembangan infrastruktur gas bumi di Pagardewa dan sekitarnya.
“PGN menegaskan komitmen jangka panjangnya untuk terus mengawal kebijakan Pemerintah. Dari wilayah Muara Enim dan Pagardewa, PGN bertekad menghadirkan solusi energi domestik yang bersih, andal, dan memberikan multiplier effect yang luas bagi masyarakat dan berkontribusi pada perekonomian daerah,” tutup Arief.





