REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan video yang beredar di media sosial dan diklaim memperlihatkan erupsi Gunung Anak Krakatau merupakan informasi tidak benar atau hoaks. Hasil verifikasi menunjukkan video tersebut bukan rekaman aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi saat ini.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengatakan masyarakat diminta tidak mudah mempercayai maupun menyebarluaskan video atau informasi yang belum terverifikasi. Seluruh informasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau hanya disampaikan melalui kanal resmi Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), serta MAGMA Indonesia.
- Kapal Wisata Dilarang Dekati Kawasan Perairan Gunung Anak Krakatau
- Aktivitas Vulkanik Gunung Anak Krakatau Meningkat, Warga di Sekitar Selat Sunda Diminta Waspada
- Perdana, Menteri Israel Akui UEA Bantu Tangkal Rudal Balistik Iran
"Setelah dilakukan verifikasi, video tersebut bukan merupakan rekaman erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi saat ini sehingga informasi tersebut merupakan hoaks atau tidak benar," kata Lana dalam laporan khusus Badan Geologi, dikutip Senin (6/7/2026).
Badan Geologi menjelaskan Gunung Anak Krakatau memang masih menunjukkan aktivitas magmatik berenergi rendah. Berdasarkan hasil pemantauan, gunung api yang berada di Selat Sunda itu mengalami dua kali erupsi sejak 2 Juli 2026.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Erupsi pertama terjadi pada 2 Juli 2026 pukul 14.05 WIB dengan tinggi kolom abu sekitar 200 meter di atas puncak. Kolom abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan condong ke arah barat laut.
Erupsi berikutnya terjadi pada 3 Juli 2026 pukul 11.50 WIB. Tinggi kolom abu juga teramati sekitar 200 meter di atas puncak dengan warna kelabu hingga cokelat serta intensitas sedang hingga tebal ke arah barat dan barat laut. Aktivitas tersebut terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 65 milimeter dan durasi 32 detik.
Lana menegaskan masyarakat perlu mengacu pada informasi resmi yang diterbitkan Badan Geologi agar tidak terpengaruh kabar yang beredar tanpa sumber yang jelas.
"Masyarakat diimbau untuk tidak mempercayai maupun menyebarluaskan video yang belum terverifikasi. Seluruh informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau hanya disampaikan melalui kanal resmi Badan Geologi, PVMBG, dan MAGMA Indonesia," ujarnya.
Badan Geologi juga meluruskan informasi lain yang beredar mengenai radius rekomendasi Gunung Anak Krakatau. Informasi yang menyebut radius bahaya mencapai 5 kilometer dipastikan tidak benar. Rekomendasi yang berlaku saat ini tetap menetapkan masyarakat, wisatawan, dan nelayan dilarang beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat erupsi Gunung Anak Krakatau. Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, dan hujan abu lebat.
Badan Geologi turut mengimbau masyarakat di wilayah pesisir Provinsi Banten dan Lampung agar tetap tenang serta tidak mempercayai isu yang mengaitkan aktivitas Gunung Anak Krakatau dengan potensi tsunami. Warga diminta tetap beraktivitas seperti biasa dengan mengikuti arahan pemerintah daerah dan BPBD setempat. Perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dapat dipantau melalui situs PVMBG, MAGMA Indonesia, laman Badan Geologi, maupun akun media sosial resmi Badan Geologi.




