Bisnis.com, JAKARTA — PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) menawarkan Obligasi Berkelanjutan V Tahap III Tahun 2026 senilai Rp2,25 triliun dengan kupon hingga 10%.
Di tengah aksi penghimpunan dana tersebut, perusahaan milik konglomerat Prajogo Pangestu tersebut memastikan pembangunan pabrik Chlor Alkali-Ethylene Dichloride (CA-EDC) tetap berjalan dan ditargetkan rampung pada 2027.
Berdasarkan prospektus tambahan, Obligasi Berkelanjutan V Tahap III Tahun 2026 senilai Rp2,25 triliun terdiri atas empat seri.
Seri A senilai Rp1,32 triliun bertenor 370 hari dengan kupon tetap 8,5%, Seri B Rp532,2 miliar bertenor 3 tahun dengan kupon 9%, Seri C Rp177,5 miliar bertenor 5 tahun dengan kupon 9,5%, serta Seri D Rp221,8 miliar bertenor 7 tahun dengan kupon 10%.
"Obligasi tersebut telah memperoleh peringkat idAA- dari Pefindo," seperti dikutip dari prospektus, Senin (6/7/2026).
Masa penawaran umum berlangsung pada 6—9 Juli 2026, dengan penjatahan pada 10 Juli 2026. Obligasi akan diterbitkan secara elektronik pada 14 Juli 2026 dan dijadwalkan tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 15 Juli 2026.
Baca Juga
- Chandra Asri (TPIA) Rampungkan Obligasi Rp6 Triliun, Tahap III Oversubscription
- Di Balik Manuver Emiten Prajogo TPIA Masuk ke PRDA Jelang IPO PRDL
- Baritono, Putra Prajogo Pangestu Belanja Saham Chandra Asri (TPIA)
Perseroan menyampaikan seluruh dana bersih hasil penerbitan obligasi, setelah dikurangi biaya emisi, akan digunakan untuk modal kerja, termasuk pembelian bahan baku produksi guna mendukung kegiatan operasional.
Di sisi lain, Chandra Asri tetap melanjutkan pembangunan pabrik CA-EDC yang telah memasuki tahap konstruksi sejak 2025. Perseroan menargetkan proyek tersebut selesai pada 2027.
Hingga September 2025, progres pembangunan telah mencapai 33%, meliputi pekerjaan perataan lahan, pemadatan tanah, serta persiapan pembangunan fasilitas jetty.
Perseroan menjelaskan pembangunan pabrik CA-EDC hingga saat ini masih dibiayai menggunakan kas internal dan nantinya akan dioperasikan oleh anak usaha, PT Chandra Asri Alkali (CAA).
Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan memperkuat ketahanan industri petrokimia nasional sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan kimia.
Dengan kapasitas produksi mencapai 400.000 ton chlor alkali padat per tahun dan 500.000 ton ethylene dichloride (EDC) per tahun, pabrik tersebut diperkirakan mampu menekan impor chlor alkali hingga sekitar Rp4,9 triliun per tahun.
Seluruh produksi EDC juga ditargetkan untuk pasar ekspor sehingga berpotensi menghasilkan devisa sekitar Rp5 triliun per tahun.
Selain memasok kebutuhan internal grup, produk CA-EDC akan menjadi bahan baku bagi berbagai industri hilir, termasuk pengolahan air, pulp dan kertas, deterjen, alumina, hingga pemurnian nikel yang menjadi bagian penting dalam rantai pasok industri kendaraan listrik.
Chandra Asri menilai proyek ini akan mendukung program hilirisasi pemerintah sekaligus memperkuat daya saing industri kimia nasional.
Meski industri petrokimia masih menghadapi tekanan akibat kelebihan pasokan regional dan ketidakpastian ekonomi global, manajemen tetap optimistis terhadap prospek permintaan domestik.
Perseroan meyakini diversifikasi bisnis ke sektor energi dan infrastruktur, serta pengembangan kapasitas melalui proyek CA-EDC, akan memperkuat ketahanan operasional dan rantai pasok dalam jangka panjang.





