Perang Rusia-Ukraina kini telah memasuki tahun kelima. Di tengah konflik yang terus berlanjut, fasilitas penyimpanan minyak di wilayah belakang dan kota-kota strategis di garis depan menjadi sasaran utama kedua belah pihak. Ukraina kini hampir setiap hari melancarkan serangan jarak jauh terhadap fasilitas energi Rusia, yang tidak hanya memicu gangguan pasokan bahan bakar di beberapa wilayah, tetapi juga meningkatkan tekanan politik terhadap Kremlin.
EtIndonesia.com Pada Sabtu (4 Juli), St. Petersburg dan sejumlah wilayah lain di Rusia kembali menjadi sasaran serangan intensif drone Ukraina.
Wali Kota St. Petersburg mengkonfirmasi bahwa kota terbesar kedua di Rusia dengan sekitar 6 juta penduduk itu sedang menghadapi serangan drone berskala besar. Menurutnya, sistem pertahanan udara Rusia berhasil mencegat hingga 72 drone di atas wilayah kota dan daerah sekitarnya.
Meski pemerintah Rusia belum mengungkap rincian kerusakan, media lokal melaporkan bahwa salah satu terminal minyak utama di kota tersebut terbakar setelah terkena serangan.
Serangan juga meluas ke wilayah lain.
Gubernur Oblast Leningrad menyatakan bahwa serangan turut mengenai Pelabuhan Vysotsk, yang terletak di Teluk Finlandia, sekitar 170 kilometer di barat laut St. Petersburg. Pelabuhan tersebut merupakan salah satu pusat penting Rusia untuk ekspor minyak, gandum, batu bara, dan gas alam cair (LNG).
Menanggapi operasi tersebut, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut gelombang serangan itu sebagai bentuk “sanksi jarak jauh” terhadap Rusia.
Menurut Zelenskyy, pasukan Ukraina tidak hanya berhasil melumpuhkan fasilitas minyak pelabuhan yang menjadi sumber pendapatan perang Rusia, tetapi juga menyerang target militer penting di Pulau Kronstadt, yang terletak di lepas pantai St. Petersburg.
Selain itu, Semenanjung Krimea, yang dianeksasi Rusia, juga dilaporkan menjadi sasaran serangan hebat.
Sementara itu, kota perbatasan Belgorod, yang selama ini berulang kali terdampak konflik, mengalami pemadaman listrik hampir total setelah dibombardir sepanjang malam pada Sabtu.
Pasukan drone Ukraina baru-baru ini menyatakan bahwa sejak awal tahun, jumlah serangan terhadap sasaran operasional dan strategis di wilayah Rusia telah meningkat 11,5 kali lipat.
Mereka mengklaim bahwa selama Juni saja, Ukraina telah menyerang 172 target militer dan fasilitas energi Rusia yang berada pada jarak 500 hingga 2.000 kilometer dari wilayah Ukraina.
Menurut laporan tersebut, Kyiv berupaya membawa dampak perang langsung ke wilayah Rusia, sehingga mematahkan narasi Presiden Vladimir Putin yang selama ini menggambarkan bahwa konflik tidak banyak mempengaruhi kehidupan masyarakat Rusia.
Namun demikian, Putin menunjukkan sikap yang relatif tenang terhadap serangan-serangan tersebut.
Ia menyatakan bahwa serangan Ukraina “bukan faktor yang menentukan”, dan menyebutnya sebagai upaya Kyiv mengalihkan perhatian dari kegagalannya di medan perang.
Pada Jumat (3 Juli), Putin mengunjungi markas besar militer Rusia yang memimpin operasi di Ukraina.
Dalam kesempatan itu, Rusia mengumumkan keberhasilan besar di garis depan. Moskow menyatakan bahwa setelah berminggu-minggu pertempuran sengit di kawasan perkotaan, pasukan Rusia telah sepenuhnya menguasai kota strategis Kostiantynivka di wilayah Donetsk.
Mengenakan seragam loreng, Putin mengatakan dalam pidato yang disiarkan televisi bahwa penguasaan kota yang merupakan pusat industri dan transportasi tersebut memiliki “arti strategis yang sangat penting”, serta menjadi langkah kunci untuk merebut pusat pertahanan utama Ukraina di wilayah timur.
Namun, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy membantah klaim tersebut.
Ia menegaskan bahwa Rusia belum menguasai kota itu, dan menyebut laporan kemenangan Rusia sebagai “kebohongan politik lainnya.”
Sumber : NTDTV.com





