Jakarta (ANTARA) – Maybank Foundation bersama ASEAN Foundation meluncurkan pelaksanaan program eMpowering Youths Across ASEAN (eYAA): Cohort 6 yang akan mengimplementasikan 10 proyek pengembangan masyarakat di delapan negara ASEAN. Di Indonesia, program ini menghadirkan dua inisiatif yang berfokus pada penguatan pendidikan dasar di Papua Barat Daya serta pelestarian tenun tradisional di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.
Peluncuran program diawali melalui Lokakarya Pengembangan Kapasitas Regional yang berlangsung pada 2–6 Juli 2026 di Universitas Chulalongkorn, Bangkok, Thailand. Sebanyak 110 Relawan Muda dari seluruh ASEAN mengikuti pelatihan sebelum diterjunkan ke lokasi proyek. Angkatan keenam ini juga menjadi yang pertama melibatkan Laos sebagai negara pelaksana, seiring bertambahnya Timor-Leste sebagai anggota ke-11 ASEAN.
Direktur Eksekutif ASEAN Foundation, Dr. Piti Srisangnam mengatakan, setiap proyek eYAA dirancang berdasarkan kebutuhan nyata yang diidentifikasi organisasi lokal sehingga relawan berperan sebagai mitra dalam menciptakan solusi yang berkelanjutan bagi masyarakat.
"eYAA membuktikan bahwa solusi yang paling berkelanjutan lahir dari kolaborasi dengan komunitas lokal. Relawan muda ASEAN tidak datang untuk mengajarkan, melainkan bekerja bersama masyarakat dalam menciptakan dampak yang dapat terus berkembang bahkan setelah program berakhir," ujarnya. Sejak 2018, Maybank Foundation menjadi mitra utama program dengan menyediakan hibah hingga 25.000 dolar AS untuk setiap tim proyek.
Di Indonesia, PT Lima Dua Edukasi menjalankan proyek "Accelero" di Sorong, Papua Barat Daya. Program ini menerapkan pendekatan Teaching at the Right Level (TaRL) melalui kegiatan belajar berbasis komunitas untuk meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa sekolah dasar. Sebanyak 500 siswa dan 50 fasilitator lokal akan terlibat dalam kegiatan pembelajaran, pendampingan, serta penguatan budaya membaca melalui penyediaan pojok baca dan keterlibatan orang tua. Perwakilan PT Lima Dua Edukasi mengatakan, "Kemampuan membaca dan berhitung adalah fondasi bagi setiap anak untuk berkembang. Melalui Accelero, kami ingin memastikan semakin banyak anak di Papua Barat Daya memperoleh kesempatan belajar yang sesuai dengan kebutuhan mereka, sehingga mereka dapat membangun masa depan dengan lebih percaya diri."
Sementara itu, PT Tenun Indonesia Sejahtera mengembangkan proyek "Sumba Weaving Museum" di Desa Watuhadang, Kabupaten Sumba Timur. Program ini mengembangkan galeri tenun menjadi museum interaktif yang mendokumentasikan proses pembuatan tenun ikat Sumba, sekaligus memperkuat pemasaran produk melalui paket wisata budaya, pelatihan pemasaran digital, serta peningkatan akses penjualan langsung bagi para penenun. Sebanyak 11 Relawan Muda ASEAN akan mendukung pengembangan pengalaman pengunjung dan promosi museum. Perwakilan PT Tenun Indonesia Sejahtera mengatakan, "Melestarikan tenun Sumba berarti menjaga identitas budaya sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Kami berharap museum ini menjadi ruang yang menghubungkan warisan budaya dengan generasi muda dan pasar yang lebih luas secara berkelanjutan."
Kepala Bagian Keberlanjutan Grup Maybank, Datuk Shahril Azuar Jimin, mengatakan eYAA menjadi wadah bagi generasi muda ASEAN untuk menghasilkan dampak sosial yang nyata melalui kolaborasi dengan komunitas lokal. Menurutnya, inisiatif tersebut sejalan dengan komitmen keberlanjutan Maybank dalam mendorong pemberdayaan masyarakat dan pembangunan yang inklusif. "Kami percaya investasi terbaik adalah investasi pada generasi muda. Melalui eYAA, para relawan tidak hanya memperoleh pengalaman kepemimpinan, tetapi juga menghadirkan solusi nyata yang memperkuat pendidikan, budaya, dan kesejahteraan masyarakat di berbagai negara ASEAN," katanya.
Sejak pertama kali diselenggarakan, eYAA telah melibatkan 482 relawan muda, melaksanakan 50 proyek komunitas, dan memberikan manfaat kepada lebih dari 114.000 orang di kawasan ASEAN. Penyelenggara berharap pelaksanaan Cohort 6 dapat memperkuat kolaborasi lintas negara sekaligus menghadirkan solusi berkelanjutan bagi pengembangan pendidikan, pelestarian budaya, lingkungan, dan pembangunan komunitas di kawasan.
Peluncuran program diawali melalui Lokakarya Pengembangan Kapasitas Regional yang berlangsung pada 2–6 Juli 2026 di Universitas Chulalongkorn, Bangkok, Thailand. Sebanyak 110 Relawan Muda dari seluruh ASEAN mengikuti pelatihan sebelum diterjunkan ke lokasi proyek. Angkatan keenam ini juga menjadi yang pertama melibatkan Laos sebagai negara pelaksana, seiring bertambahnya Timor-Leste sebagai anggota ke-11 ASEAN.
Direktur Eksekutif ASEAN Foundation, Dr. Piti Srisangnam mengatakan, setiap proyek eYAA dirancang berdasarkan kebutuhan nyata yang diidentifikasi organisasi lokal sehingga relawan berperan sebagai mitra dalam menciptakan solusi yang berkelanjutan bagi masyarakat.
"eYAA membuktikan bahwa solusi yang paling berkelanjutan lahir dari kolaborasi dengan komunitas lokal. Relawan muda ASEAN tidak datang untuk mengajarkan, melainkan bekerja bersama masyarakat dalam menciptakan dampak yang dapat terus berkembang bahkan setelah program berakhir," ujarnya. Sejak 2018, Maybank Foundation menjadi mitra utama program dengan menyediakan hibah hingga 25.000 dolar AS untuk setiap tim proyek.
Di Indonesia, PT Lima Dua Edukasi menjalankan proyek "Accelero" di Sorong, Papua Barat Daya. Program ini menerapkan pendekatan Teaching at the Right Level (TaRL) melalui kegiatan belajar berbasis komunitas untuk meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa sekolah dasar. Sebanyak 500 siswa dan 50 fasilitator lokal akan terlibat dalam kegiatan pembelajaran, pendampingan, serta penguatan budaya membaca melalui penyediaan pojok baca dan keterlibatan orang tua. Perwakilan PT Lima Dua Edukasi mengatakan, "Kemampuan membaca dan berhitung adalah fondasi bagi setiap anak untuk berkembang. Melalui Accelero, kami ingin memastikan semakin banyak anak di Papua Barat Daya memperoleh kesempatan belajar yang sesuai dengan kebutuhan mereka, sehingga mereka dapat membangun masa depan dengan lebih percaya diri."
Sementara itu, PT Tenun Indonesia Sejahtera mengembangkan proyek "Sumba Weaving Museum" di Desa Watuhadang, Kabupaten Sumba Timur. Program ini mengembangkan galeri tenun menjadi museum interaktif yang mendokumentasikan proses pembuatan tenun ikat Sumba, sekaligus memperkuat pemasaran produk melalui paket wisata budaya, pelatihan pemasaran digital, serta peningkatan akses penjualan langsung bagi para penenun. Sebanyak 11 Relawan Muda ASEAN akan mendukung pengembangan pengalaman pengunjung dan promosi museum. Perwakilan PT Tenun Indonesia Sejahtera mengatakan, "Melestarikan tenun Sumba berarti menjaga identitas budaya sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Kami berharap museum ini menjadi ruang yang menghubungkan warisan budaya dengan generasi muda dan pasar yang lebih luas secara berkelanjutan."
Kepala Bagian Keberlanjutan Grup Maybank, Datuk Shahril Azuar Jimin, mengatakan eYAA menjadi wadah bagi generasi muda ASEAN untuk menghasilkan dampak sosial yang nyata melalui kolaborasi dengan komunitas lokal. Menurutnya, inisiatif tersebut sejalan dengan komitmen keberlanjutan Maybank dalam mendorong pemberdayaan masyarakat dan pembangunan yang inklusif. "Kami percaya investasi terbaik adalah investasi pada generasi muda. Melalui eYAA, para relawan tidak hanya memperoleh pengalaman kepemimpinan, tetapi juga menghadirkan solusi nyata yang memperkuat pendidikan, budaya, dan kesejahteraan masyarakat di berbagai negara ASEAN," katanya.
Sejak pertama kali diselenggarakan, eYAA telah melibatkan 482 relawan muda, melaksanakan 50 proyek komunitas, dan memberikan manfaat kepada lebih dari 114.000 orang di kawasan ASEAN. Penyelenggara berharap pelaksanaan Cohort 6 dapat memperkuat kolaborasi lintas negara sekaligus menghadirkan solusi berkelanjutan bagi pengembangan pendidikan, pelestarian budaya, lingkungan, dan pembangunan komunitas di kawasan.





