Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PBNU, KH Imron Rosyadi Hamid atau Gus Imron, mengatakan hingga saat ini belum ada keputusan final mengenai mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU.
Menurutnya, saat ini terdapat dua opsi untuk mekanisme pemilihan. Salah satu opsi yakni menggunakan skema yang dipakai di Muktamar Lampung.
“Mekanisme pemilihan Ketua Umum akan dilakukan dengan 2 opsi di Muktamar,” ujar Gus Imron, saat dikonfirmasi, Senin (6/7).
“Tetap seperti Muktamar Lampung atau akan dipilih oleh Ahwa dan Rais Aam,” lanjutnya.
Gus Imron menjelaskan, kedua opsi tersebut akan ditawarkan ke peserta muktamar (muktamirin) karena menyangkut perubahan ketentuan dalam Anggaran Rumah Tangga (ART) PBNU.
“Kedua opsi akan ditawarkan ke muktamirin karena menyangkut perubahan ART,” ungkapnya.
Sebelumnya, ada sejumlah keputusan yang dilahirkan dari forum Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2026 di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
Sejumlah isu yang dibahas cukup hangat dalam Munas-Konbes kali ini, yakni soal perluasan peran Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). AHWA merupakan lembaga ad hoc yang dibentuk jelang muktamar untuk memilih Rais Aam.
AHWA selama ini merupakan forum yang diisi oleh para ulama top NU. Para ulama ini kemudian diberi kewenangan untuk memilih Rais Aam PBNU.
Namun, dalam rangkaian jelang Muktamar ke-35 ini, ada usulan perluasan peran AHWA.
Bila sebelumnya, AHWA hanya memilih Rais Aam, muncul usulan AHWA juga bisa ikut memilih Ketum PBNU.
Sekretaris Steering Committee (SC) Munas-Konbes NU 2026, Prof Mohammad Nuh mengatakan sejumlah masukan dari pengurus wilayah mengarah kepada penataan kembali sistem pemilihan di lingkungan NU. Jika selama ini Ahwa hanya bertugas memilih Rais Aam PBNU, kini muncul usulan agar lembaga tersebut juga dilibatkan dalam proses penentuan Ketua Umum PBNU.
“Termasuk yang banyak diusulkan oleh para pengurus wilayah, reformasi organisasi. Apa itu yang diusulkan? Kalau selama ini, Ahwa itu hanya memilih Rais Aam, maka sekarang ini banyak yang diusulkan, gimana kalau Ahwa ini di samping Rais Aam bersama Rais Aam memilih Ketum,” ujar Prof Nuh di Gedung PBNU, Jakarta, Sabtu (13/6) dikutip dari NU Online.





