Takut Ketinggalan atau Takut Tidak Dianggap?

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Di era digital seperti sekarang, kehidupan masyarakat tidak bisa dilepaskan dari media sosial. Berbagai platform seperti Instagram dan TikTok membuat informasi, tren, hingga aktivitas orang lain dapat diakses hanya dalam hitungan detik. Kondisi ini melahirkan sebuah fenomena yang semakin sering dialami, terutama oleh Generasi Z, yaitu (Fear of Missing Out) atau yang lebih dikenal dengan istilah FOMO. Fenomena ini memunculkan pertanyaan menarik: apakah seseorang sebenarnya takut ketinggalan informasi, atau justru takut tidak dianggap keberadaannya oleh lingkungan sosial?

Menurut Andrew K. Przybylski, FOMO merupakan kondisi psikologis ketika seseorang merasa cemas karena menganggap orang lain sedang memperoleh pengalaman yang lebih menarik daripada dirinya. Perasaan tersebut mendorong seseorang untuk terus mengikuti aktivitas orang lain agar tidak merasa tertinggal. Kehadiran media sosial semakin memperkuat kondisi ini karena sebagian besar pengguna cenderung membagikan momen terbaik dalam hidup mereka, sehingga menimbulkan kesan bahwa kehidupan orang lain selalu lebih menyenangkan.

Dalam kehidupan sehari-hari, FOMO tidak lagi hanya menjadi perasaan sesaat, tetapi sudah berkembang menjadi bagian dari budaya digital. Generasi Z dikenal sebagai kelompok yang tumbuh bersama internet dan teknologi sehingga memiliki kebiasaan untuk selalu terhubung dengan dunia digital. Mereka rutin memantau media sosial, mengikuti tren yang sedang viral, dan berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan pergaulannya agar tetap merasa menjadi bagian dari kelompok sosial. Hal tersebut menunjukkan bahwa media digital memiliki pengaruh besar dalam membentuk cara berpikir, berperilaku, dan berkomunikasi masyarakat modern.

Pengaruh FOMO juga terlihat dari cara Generasi Z berkomunikasi. Mereka cenderung membalas pesan dengan cepat, aktif di berbagai platform media sosial, serta menggunakan bahasa gaul atau istilah yang sedang populer. Komunikasi tidak hanya digunakan untuk bertukar informasi, tetapi juga menjadi sarana untuk menunjukkan eksistensi diri. Melalui unggahan, komentar, maupun interaksi di media sosial, seseorang berusaha membangun identitas sekaligus mempertahankan keberadaannya di lingkungan digital.

Di sisi lain, FOMO memiliki dua dampak yang berbeda. Dampak positifnya terlihat dari meningkatnya koneksi sosial dan kemudahan memperoleh informasi. Dengan adanya media sosial, seseorang dapat memperluas jaringan pertemanan, mengikuti perkembangan terbaru, serta memperoleh berbagai informasi secara cepat dan real-time.

Namun, jika tidak disikapi dengan baik, FOMO juga dapat memberikan dampak negatif. Keinginan untuk selalu mengikuti perkembangan media sosial dapat memunculkan rasa cemas, ketergantungan terhadap internet, hingga berkurangnya interaksi secara langsung dengan orang-orang di sekitar. Akibatnya, seseorang lebih banyak menghabiskan waktu di dunia digital dibandingkan menjalani kehidupan nyata.

Penelitian yang dilakukan oleh Oberst dkk. (2017) menunjukkan bahwa tingkat FOMO yang tinggi berkaitan dengan penggunaan internet secara berlebihan. Semakin besar rasa takut seseorang untuk tertinggal, semakin tinggi pula kecenderungannya menghabiskan waktu di media sosial. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kesehatan mental, seperti meningkatnya kecemasan, serta menurunkan kualitas komunikasi interpersonal.

Fenomena ini menunjukkan bahwa FOMO telah menjadi bagian dari budaya komunikasi di era digital, khususnya bagi Generasi Z. Perkembangan teknologi memang memberikan banyak kemudahan, tetapi juga menghadirkan tantangan baru dalam menjaga keseimbangan antara kehidupan di dunia maya dan dunia nyata. Oleh karena itu, cara seseorang menyikapi FOMO menjadi faktor penting dalam menentukan apakah fenomena ini akan membawa manfaat atau justru menimbulkan dampak yang merugikan.

Kesimpulan

Pada dasarnya, FOMO bukan hanya sekadar rasa takut ketinggalan tren, tetapi juga mencerminkan perubahan budaya komunikasi di era digital. Perasaan tersebut sering kali muncul karena adanya keinginan untuk tetap diterima, diakui, dan merasa menjadi bagian dari lingkungan sosial. Jika digunakan secara bijak, media sosial dapat menjadi sarana untuk memperluas wawasan, memperoleh informasi, dan mempererat hubungan dengan orang lain. Sebaliknya, apabila penggunaan media sosial tidak dikendalikan, FOMO dapat berkembang menjadi kebiasaan yang memengaruhi kesehatan mental, hubungan sosial, serta kualitas kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, keseimbangan antara aktivitas di dunia digital dan interaksi di kehidupan nyata perlu dijaga agar manfaat teknologi dapat dirasakan tanpa mengorbankan kesejahteraan diri.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga Emas Antam Hari Ini 6 Juli 2026 Stagnan di Rp2.670.000 per Gram
• 13 jam lalukompas.tv
thumb
Muira Puama Manfaat Kesehatan dari Hutan Amazon Bukan Sekadar Afrodisiak
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
2 Perempuan Senggolan Kendaraan dan Cekcok di Jakbar, Berujung Diteriaki Maling
• 3 jam lalukompas.com
thumb
Tiga Menteri Prabowo Komit Bangun Peradaban Lewat Sains, Pendidikan, dan Kebudayaan
• 3 jam lalumedcom.id
thumb
Detik-detik Pengendara Ninja RR Hajar Pemotor lain di Jagakarsa, Alasannya Bikin Geleng Kepala
• 16 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.