Pertandingan memasuki menit ke-61, saat Folarin Balogun menginjak ankle kanan pemain bertahan Bosnia-Herzegovina Tarik Muharemović dari belakang.
Tarik mengerang kesakitan. Wasit Raphael Claus asal Brasil mengecek langsung tayangan ulanh video di tepi lapangan berdasarkan saran Video Assistant Referee (VAR): Juan Soto dari Venezuela.
Hasilnya: kartu merah untuk Balogun. Dia dianggap melakukan pelanggaran serius.
Sebelumnya pada menit 45, Balogun mencetak gol untuk Amerika Serikar dalam pertandingan Babak 32 Besar Piala Dunia 2026, di San Francisco Bay Area Stadium (Levi’s Stadium) di Santa Clara, California, 2 Juli 2026.
Bermain dengan sepuluh orang, Amerilka Serikat justru memperbesar keunggulan melalui Malik Tillman pada menit ke-82. Kemenangan 2-0 sudah cukup membawa tuan rumah ke babak selanjutnya. Namun Balogun tidak bisa bermain melawan Belgia di Babak 16 Besar. Seharusnya demikian jika mengacu Rule of The Game FIFA sendiri.
Namun apa yang seharusnya sering kali berbanding terbalik dengan senyatanya. FIFA menangguhkan hukuman untuk Balogun, sehingga bisa turun ke lapangan melawan Belgia, 6 Juli 2026 waktu setempat atau 7 Juli 2026 dini hari WIB.
Dalih yang dipakai adalah Pasal 27 Kode Disiplin FIFA yang memberikan kewenangan kepada badan peradilan FIFA untuk memveto keputusan wasit dan menangguhkan pelaksanaan sanksi disiplin baik sepenuhnya maupun sebagian, dan menempatkan Balogun dalam masa percobaan satu tahun.
“Jika Folarin Balogun kembali melakukan pelanggaran dengan sifat dan tingkat keparahan serupa selama masa percobaan, penangguhan tersebut akan dicabut dan sanksi akan diberlakukan, tanpa mengurangi kemungkinan dijatuhkannya sanksi tambahan atas pelanggaran baru tersebut,” demikian pernyataan resmi FIFA.
Penangguhan hukuman seperti ini sebenarnya bukan sekali ini saja terjadi. FIFA memangkas sanksi larangan bermain dalam tiga pertandingan menjadi satu pertandingan untuk Cristiano Ronaldo yang dikeluarkan dari lapangan saat melawan Republik Irlandia dalam laga kualifikasi Piala Dunia, November 2025.
Setelah menjalani hukuman saat melawan Armenia dalam pertandingan kualifikasi, Ronaldo bisa memperkuat Portugal dalam pertandingan Grup K melawan Republik Demokratik Kongo dan Uzbekistan. Dalam dua pertandingan itu, dia mencetak tiga gol, dua gol di antaranya ke gawang Uzbekistan.
Namun respons publik terhadap dua keputusan FIFA ini berbeda. Kemarahan ditujukan kepada FIFA yang menangguhkan hukuman untuk Balogun, terutama setelah Presiden AS Donaldi Trump merayakannya di akun media sosial Truh.
“Thank you to Fifa for doing what was right, and reversing a great injustice!” tulis Trump.
Trump menilai FIFA telah melakukan hal yang benar dan membalikkan ketidakadilan yang hebat. Namun bagi publik sepak bola, keputusan FIFA semakin menunjukkan rusaknya legitimasi moral Piala Dunia kali ini. Keputusan itu tidak bisa diterima, karena tim sepak bola Amerika Serikat tidak pernah mengajukan banding resmi terhadap kartu merah tersebut.
Justru, menurut laporan situs USA Today, keputusan itu muncul setelah Trump menelepon Presiden FIFA Gianni Infantino. ‘Seorang pejabat AS, yang membahas pembicaraan telepon Trump dengan Infantino dengan syarat anonimitas, mengatakan bahwa presiden ingin “lebih memahami” mengapa Balogun menerima kartu merah dan skorsing,’ demikian laporan reporter Joey Garrison.
Bahkan, menurut sumber tersebut, ‘pemerintahan Trump juga memberikan bukti tambahan untuk mendukung kemungkinan pengajuan banding atas kartu merah Balogun, meskipun banding tersebut tidak pernah diajukan secara resmi’.
Kasus ‘Folarin Balogun’ juga menghancurkan proses evolusi aturan permainan yang berjalan selama berabad-abad sejak orang-orang Inggris membuat kodifikasi aturan sepak bola di Sheffield pada 1858. Penggunaan VAR dan sejumlah perangkat teknologi untuk membuat keputusan yang akurat di lapangan (yang sering dikritik menghilangkan aspek manusiawi sepak bola), pada akhirnya tidak berguna di hadapan politik.
Ini akan menjadi preseden buruk, bahwa jargon untuk memisahkan intervensi politik dari sepak bola hanyalah omong kosong. Anda cukup bernama Amerika Serikat dan Donald Trump untuk meringkus dan menerabas semua aturan. FIFA tengah membahayakan masa depan dunia sepak bola.
Namun bagi Infantino, moralitas hanya prioritas kesekian. Sejak awal dia memang menempatkan diri sebagai penjilat Trump yang militan. Pria bekepala plontos asal Swiss itu menghadiahkan “FIFA Peace Prize – Football Unites the World” kepada Trump pada acara pengundian Piala Dunia 2026 di Washington DC, 5 Desember 2025.
Trump menerima penghargaan FIFA Peace Prize serta medali peringatan, tepat sehari setelah menyambut para pemimpin Republik Demokratik Kongo dan Rwanda untuk menandatangani perjanjian damai yang bersejarah. FIFA menyatakan: ‘Trump memainkan peran kunci dalam mewujudkan gencatan senjata dan mendorong perdamaian antara Israel dan Palestina, serta secara aktif berupaya mengakhiri berbagai konflik lainnya’.
Tiga bulan kemudian, 28 Februari 2026, atau 104 hari sebelum kick-off Piala Dunia Trump bersama Israel melancarkan Operation Lion’s Roar yang menargetkan pangkalan militer, fasilitas pertahanan, dan struktur kepemimpinan tertinggi Iran, dan menewaskan 3.468 warga sipil di sana.
Tak hanya menjatuhkan bom, Amerika Serikat juga mempersulit tim nasional Iran untuk bertanding. Selain menolak visa belasan anggota delegasi Iran, termasuk staf administrasi, ofisial, dan Presiden Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) Mehdi Taj dengan alasan keamanan, pemerintahan Trump juga melarang timnas Iran menginap.
Timnas Iran akhirnya terpaksa menginap di Tijuana, Meksiko, dan baru bisa berangkat ke lokasi pertandingan di Amerika Serikat pada Hari-H dan langsung kembali ke Meksiko setelah pertandingan usai. Menteri Olahraga Iran, Ahmad Donyamali, mengecam keras kebijakan pemerintahan Trump dan menganggapnya diskriminatif.
Namun Iran bukan satu-satunya korban kebijakan diskriminatif Trump. Wasit Somalia, Omar Abdulkadir Artan, gagal menjalankan tugas setelah ditolak pemerintah AS karena dituduh berhubungan dengan kelompok perlawanan Al-Shabaab,
Infantino tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi kebijakan AS untuk dua kasus tersebut. “Sungguh disayangkan apa yang menimpa Omar. Namun, kita tidak bisa mengendalikan segalanya. Kita berusaha, kita berdiskusi, dan kita akan angkat bicara,” kata Infantino.
Piala Dunia 2026 menunjukkan dengan terang-benderang standar ganda yang ditetapkan FIFA. FIFA membatalkan penyelenggaraan Piala Dunia U20 di Indonesia, hanya karena penolakan terhadap Israel yang menggunakan olahraga untuk mencuci nama baik mereka atas penindasan di Palestina.
Sementara di Amerika, Iran dibiarkan tetap dalam kondisi tidak ideal dalam tiga pertandingan Grup G. “Ini Piala Dunia yang kacau, sebuah bencana. Ini tidak adil. Siapa yang mau membantu kami? Jika mereka ingin kami keluar, ya sudah; mari kita keluar saja,” kata Kapten Iran Mehdi Taremi.
Iran memang akhirnya keluar dari turnamen ini dengan kepala tegak. Sementara kita berharap, Belgia (atau tim lain) mengakhiri perjalanan tim nasional Amerika Serikat sebelum partai puncak.
Timnas Amerika Serikat memang tidak mencampuri urusan FIFA. Namun mereka menikmati keuntungan dari keputusan tersebut. Maka mengakhiri perjalanan timnas AS di Piala Dunia sama halnya dengan mengakhiri hal-hal menjijikkan yang dilakukan FIFA, dan menutup celah kemungkinan kejayaan mereka dipolitisasi untuk membilas semua kebusukan Trump. [wir/aje]




