Banda Aceh (ANTARA) - UIN Ar-Raniry Banda Aceh mengusulkan penambahan kuota penerima dan kenaikan komponen biaya hidup Program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah kepada Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
"Program KIP Kuliah telah memberikan kontribusi signifikan dalam memperluas akses pendidikan tinggi bagi mahasiswa dari keluarga prasejahtera di UIN Ar-Raniry," kata Wakil Rektor III UIN Ar-Raniry Prof Mursyid Djawas di Banda Aceh, Senin
Usulan tersebut disampaikan dalam kegiatan pemantauan dan evaluasi implementasi KIP Kuliah yang berlangsung di ruang rapat rektor UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.
Ia menyebutkan, sepanjang periode 2020–2025 sebanyak 2.805 mahasiswa telah menerima beasiswa KIP Kuliah. Sementara penerima yang masih aktif terdiri atas 400 mahasiswa angkatan 2022, 600 mahasiswa angkatan 2023, 550 mahasiswa angkatan 2024, dan 400 mahasiswa angkatan 2025.
Menurutnya, jumlah penerima beasiswa masih belum sebanding dengan tingginya kebutuhan mahasiswa yang memenuhi persyaratan.
Baca juga: UIN Ar-Raniry bekali 400 mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah
Ia mengatakan, selama ini KIP Kuliah telah membuka kesempatan bagi banyak mahasiswa dari keluarga kurang mampu untuk melanjutkan pendidikan tinggi.
"Kami berharap kuota penerima dapat ditingkatkan agar lebih banyak mahasiswa yang memperoleh manfaat dari program ini," katanya.
Kampus menilai besaran bantuan tersebut perlu disesuaikan dengan kebutuhan riil mahasiswa selama menempuh pendidikan.
UIN Ar-Raniry juga mengusulkan agar anak dari aparatur sipil negara (ASN), anggota TNI, maupun Polri yang berasal dari keluarga berpenghasilan rendah tetap dapat mengakses KIP Kuliah sepanjang memenuhi kriteria ekonomi yang ditetapkan pemerintah.
Menurut Prof Mursyid, peningkatan jumlah penerima perlu diiringi dengan penguatan pembinaan melalui program peningkatan kemampuan bahasa, pengembangan soft skill, serta monitoring akademik secara berkelanjutan agar penerima beasiswa mampu menyelesaikan studi tepat waktu dan memiliki daya saing setelah lulus.
Baca juga: Rektor: KIP Kuliah skema pengentasan kemiskinan berbasis pendidikan
Ketua Tim Supervising dan Evaluator Direktorat PTI Bappenas Hanifah Umi Haryati mengatakan evaluasi nasional masih menemukan sejumlah tantangan dalam implementasi KIP Kuliah, di antaranya masih terdapat inclusion error, yakni penerima yang secara ekonomi tidak lagi memenuhi kriteria, serta exclusion error, yaitu mahasiswa yang layak menerima bantuan tetapi belum terakomodasi.
"Program KIP Kuliah telah memberikan kontribusi signifikan dalam memperluas akses pendidikan tinggi bagi mahasiswa dari keluarga prasejahtera di UIN Ar-Raniry," kata Wakil Rektor III UIN Ar-Raniry Prof Mursyid Djawas di Banda Aceh, Senin
Usulan tersebut disampaikan dalam kegiatan pemantauan dan evaluasi implementasi KIP Kuliah yang berlangsung di ruang rapat rektor UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.
Ia menyebutkan, sepanjang periode 2020–2025 sebanyak 2.805 mahasiswa telah menerima beasiswa KIP Kuliah. Sementara penerima yang masih aktif terdiri atas 400 mahasiswa angkatan 2022, 600 mahasiswa angkatan 2023, 550 mahasiswa angkatan 2024, dan 400 mahasiswa angkatan 2025.
Menurutnya, jumlah penerima beasiswa masih belum sebanding dengan tingginya kebutuhan mahasiswa yang memenuhi persyaratan.
Baca juga: UIN Ar-Raniry bekali 400 mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah
Ia mengatakan, selama ini KIP Kuliah telah membuka kesempatan bagi banyak mahasiswa dari keluarga kurang mampu untuk melanjutkan pendidikan tinggi.
"Kami berharap kuota penerima dapat ditingkatkan agar lebih banyak mahasiswa yang memperoleh manfaat dari program ini," katanya.
Kampus menilai besaran bantuan tersebut perlu disesuaikan dengan kebutuhan riil mahasiswa selama menempuh pendidikan.
UIN Ar-Raniry juga mengusulkan agar anak dari aparatur sipil negara (ASN), anggota TNI, maupun Polri yang berasal dari keluarga berpenghasilan rendah tetap dapat mengakses KIP Kuliah sepanjang memenuhi kriteria ekonomi yang ditetapkan pemerintah.
Menurut Prof Mursyid, peningkatan jumlah penerima perlu diiringi dengan penguatan pembinaan melalui program peningkatan kemampuan bahasa, pengembangan soft skill, serta monitoring akademik secara berkelanjutan agar penerima beasiswa mampu menyelesaikan studi tepat waktu dan memiliki daya saing setelah lulus.
Baca juga: Rektor: KIP Kuliah skema pengentasan kemiskinan berbasis pendidikan
Ketua Tim Supervising dan Evaluator Direktorat PTI Bappenas Hanifah Umi Haryati mengatakan evaluasi nasional masih menemukan sejumlah tantangan dalam implementasi KIP Kuliah, di antaranya masih terdapat inclusion error, yakni penerima yang secara ekonomi tidak lagi memenuhi kriteria, serta exclusion error, yaitu mahasiswa yang layak menerima bantuan tetapi belum terakomodasi.





