Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi VI DPR RI Ida Nurlaela mengusulkan agar PT Perkebunan Nusantara (PTPN) mempertimbangkan pengembangan bioetanol berbasis sorgum sebagai alternatif hilirisasi pangan dan energi, selain dari komoditas singkong dan jagung.
“Kami, di daerah Jawa Barat, banyak lahan yang mungkin tidak produktif, bisa dikembangkan di antaranya adalah dari sorgum. Barangkali ini menjadi suatu masukan untuk PTPN,” kata Ida dalam agenda Rapat Dengar Pendapat PTPN III beserta Subholding dengan Komisi VI DPR RI, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin.
Menurutnya, tanaman sorgum memiliki potensi yang dapat dikembangkan dengan karakter lahan yang kering, panas, dan berlokasi di dataran rendah dengan ketinggian di bawah 400 meter di atas permukaan laut, seperti di wilayah Pangandaran dan sejumlah daerah di Jawa Barat.
Ia menjelaskan bahwa berdasarkan hasil riset akademik, pengolahan bioetanol dari sorgum juga menghasilkan produk turunan yang bernilai ekonomi.
Limbah produksi biji sorgum dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik, sementara ampas hasil ekstraksi nira berpotensi digunakan sebagai biomassa untuk kebutuhan co-firing batu bara di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
Karena itu, ia mendorong PTPN, khususnya melalui PalmCo, untuk mengkaji pemanfaatan sorgum sebagai bahan baku bioetanol.
Selain mendukung diversifikasi bahan baku energi terbarukan, pengembangan sorgum dinilai dapat mengoptimalkan pemanfaatan lahan-lahan kurang produktif tanpa mengganggu komoditas pangan utama.
“Barangkali PTPN punya keinginan untuk melakukan proses ini, tidak hanya berpihak untuk bioetanol itu kepada pangan singkong ataupun jagung, tentang sorgum salah satu bahan yang bisa digunakan untuk bioetanol dan ada lahannya juga cukup bisa digunakan untuk lahan yang tidak produktif,” kata Ida pula.
PTPN dalam hilirisasi pangan dan energi untuk pembangunan industri selama ini menggunakan sawit, tebu, singkong, dan jagung untuk menghasilkan bioetanol. Namun masih ada permasalahan pabrik gula yang tidak memadai dan petani tebu yang masih kesulitan untuk menjual tebu, sehingga terjadi penumpukan stok gula.
Usulan ini diharapkan menjadi alternatif diversifikasi bahan pengolahan bioetanol yang lebih memberikan dampak ekonomi pada komoditas lain, seperti sorgum yang bisa dikembangkan di daerah Jawa Barat.
Baca juga: Kementan salurkan 737 ribu bibit kelapa dukung hilirisasi di Gorontalo
Baca juga: Mentan dorong BUMN pangan jadi motor hilirisasi pertanian nasional
“Kami, di daerah Jawa Barat, banyak lahan yang mungkin tidak produktif, bisa dikembangkan di antaranya adalah dari sorgum. Barangkali ini menjadi suatu masukan untuk PTPN,” kata Ida dalam agenda Rapat Dengar Pendapat PTPN III beserta Subholding dengan Komisi VI DPR RI, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin.
Menurutnya, tanaman sorgum memiliki potensi yang dapat dikembangkan dengan karakter lahan yang kering, panas, dan berlokasi di dataran rendah dengan ketinggian di bawah 400 meter di atas permukaan laut, seperti di wilayah Pangandaran dan sejumlah daerah di Jawa Barat.
Ia menjelaskan bahwa berdasarkan hasil riset akademik, pengolahan bioetanol dari sorgum juga menghasilkan produk turunan yang bernilai ekonomi.
Limbah produksi biji sorgum dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik, sementara ampas hasil ekstraksi nira berpotensi digunakan sebagai biomassa untuk kebutuhan co-firing batu bara di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
Karena itu, ia mendorong PTPN, khususnya melalui PalmCo, untuk mengkaji pemanfaatan sorgum sebagai bahan baku bioetanol.
Selain mendukung diversifikasi bahan baku energi terbarukan, pengembangan sorgum dinilai dapat mengoptimalkan pemanfaatan lahan-lahan kurang produktif tanpa mengganggu komoditas pangan utama.
“Barangkali PTPN punya keinginan untuk melakukan proses ini, tidak hanya berpihak untuk bioetanol itu kepada pangan singkong ataupun jagung, tentang sorgum salah satu bahan yang bisa digunakan untuk bioetanol dan ada lahannya juga cukup bisa digunakan untuk lahan yang tidak produktif,” kata Ida pula.
PTPN dalam hilirisasi pangan dan energi untuk pembangunan industri selama ini menggunakan sawit, tebu, singkong, dan jagung untuk menghasilkan bioetanol. Namun masih ada permasalahan pabrik gula yang tidak memadai dan petani tebu yang masih kesulitan untuk menjual tebu, sehingga terjadi penumpukan stok gula.
Usulan ini diharapkan menjadi alternatif diversifikasi bahan pengolahan bioetanol yang lebih memberikan dampak ekonomi pada komoditas lain, seperti sorgum yang bisa dikembangkan di daerah Jawa Barat.
Baca juga: Kementan salurkan 737 ribu bibit kelapa dukung hilirisasi di Gorontalo
Baca juga: Mentan dorong BUMN pangan jadi motor hilirisasi pertanian nasional





