Bedah Mitos Vs Fakta di Balik Endometriosis, Ini Kata dr. Ngabila Salama

cumicumi.com
2 jam lalu
Cover Berita
































Banyak yang mengira perempuan dengan endometriosis mengalami kondisi tersebut akibat perilaku seksualnya. Ada yang mengaitkan karena sering berganti pasangan, terlalu aktif secara seksual, atau alasan lain yang berbagai macam. Anggapan ini ternyata keliru, dan dr. Ngabila Salama menegaskan bahwa endometriosis sama sekali tidak berkaitan dengan perilaku seksual seseorang.

 

Mitos: Endometriosis Disebabkan oleh Perilaku Seksual


Ketika dimintari keterangan secara langsung soal keterkaitan endometriosis dengan perilaku seksual, jawaban dr. Ngabila tegas menjawab bahwa kedua hal itu tidak berkaitan.


"Tidak, tidak. Sama sekali tidak." Ucap dr. Ngabila ketika menghadiri acara podcast Special Interview, yang tayang di kanal Youtube Cumicumi



Faktanya, penyebab endometriosis lebih banyak dipicu oleh faktor genetik, ketidakseimbangan hormon estrogen, stres tingkat tinggi, serta gaya hidup seperti pola makan dan konsumsi alkohol, bukan oleh aktivitas seksual maupun jumlah pasangan yang pernah dimiliki seseorang. Mirisnya, anggapan dan komentar miring yang mengaitkan endometriosis dengan "gaya hidup seksual" perempuan sering kali justru menambah beban stigma yang tidak seharusnya ditanggung penderita.

 

Mitos: Kalau Sudah Endometriosis, Peluang Punya Anak Hilang

 

Hal itu juga diluruskan oleh dr. Ngabila, dan menurutnya, perempuan dengan endometriosis yang ingin tetap memiliki keturunan tidak perlu berkecil hati. Kuncinya adalah deteksi dini dan penanganan oleh ahlinya.

 

"Tentunya dideteksi dini dulu, ditangani oleh ahlinya. Pasti nanti ada obat-obatan hormon juga untuk menekan. Jika diperlukan, dilakukan kuret, ya kan, sampai dia cukup bagus, ya, akan dilakukan perencanaan kehamilannya itu sendiri" jelasnya.

 

Mitos: Kalau Masih Haid Rutin, Berarti Pasti Subur

 

Tak hanya membantah mitos negatif, dr. Ngabila juga menyoroti sederet hal, yang banyak diyakini sebagai hal baik di masyarakat. Contohnya, sebagian orang mengira selama haid masih berjalan rutin, kesuburan otomatis baik-baik saja, termasuk pada penderita endometriosis. Faktanya, tidak sesederhana itu. Menurut dr. Ngabila, kondisi rahim perlu "dinormalkan" terlebih dahulu sebelum program kehamilan bisa direncanakan. Sebab siklus sel telur pada dasarnya mengikuti siklus haid.


"Dia bisa diprediksi siklus haid-nya, siklus sel telurnya itu kan mengikuti siklus haid. Orang tidak haid ya berarti dia tidak subur. Tapi kalau endometriosis kan dia haid terus," jelasnya.


Hanya saja, "kondisi anatomi lingkungannya yang tidak mendukung kehamilan" itulah yang perlu dipersiapkan dengan baik.


"Itu harus dipersiapkan dengan baik, kondisi daripada endometriumnya," tambahnya.


Jangan Tunda Pemeriksaan


dr. Ngabila mengingatkan, semakin cepat endometriosis terdeteksi dan ditangani, semakin besar peluang perempuan untuk tetap bisa merencanakan kehamilan dengan baik. Ia menyarankan agar nyeri haid yang sudah mengganggu aktivitas sehari-hari dan tidak membaik dengan obat pereda nyeri biasa segera diperiksakan.


"Kalau ini nyerinya hebat, tidak membaik dengan obat yang biasa kita bisa beli di pasaran, itu harus hati-hati. Biasanya ke dokter kandungan, di-USG dulu. USG-nya bisa melalui perut, bisa juga melalui transvaginal," jelasnya.



Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Produksi Melimpah, Wortel Karo Didistribusikan ke Seluruh Indonesia | KOMPAS SIANG
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
DPR ke Dunia Internasional: Indonesia Aman, Insiden Penembakan Pilot AMA Bukan Gambaran Situasi Nasional
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Delegasi UBSI Masuk Top 5 Best Speaker di Global Youth Congress 2026 Thailand
• 13 jam lalurepublika.co.id
thumb
Hasil Meksiko vs Inggris: Kane dan Bellingham Bawa Inggris ke Babak Delapan Besar
• 13 jam lalumedcom.id
thumb
Konser BTS Dilarang Digelar di Stadion Nasional, Ratusan ARMY Demo di Depan Istana Presiden
• 2 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.