Bersikap Sopan kepada AI Tidak Sepenuhnya Gratis

kompas.id
10 jam lalu
Cover Berita

Dalam percakapan sehari-hari, bersikap sopan dengan mengatakan ”tolong” dan ”terima kasih” sejatinya tidak dipungut biaya. Namun, ketika berbicara pada alat kecerdasan artifisial atau akal imitasi (AI), ungkapan sederhana itu tidak sepenuhnya gratis. Ada harga di balik kesopanan itu.

Mengucapkan kata ”terima kasih” kepada teman, penjual sayur, pengendara ojek daring, hingga pelayan restoran adalah hal lazim. Begitu pula dengan ungkapan ”tolong” kepada rekan kerja atau siapa pun yang ingin dimintai bantuan. Semuanya merupakan hal wajar dalam keseharian.

Namun, bagaimana dengan bersikap sopan, setidaknya mengutarakan dua kata itu, kepada mesin percakapan (chatbot) berbasis AI atau perangkat cerdas lainnya? Jika pernah melakukannya, Anda tidak sendiri. Sejumlah survei merekam perilaku santun manusia terhadap teknologi itu.

Pada 2019, misalnya, lembaga riset yang berbasis di Amerika Serikat, Pew Research Center, melakukan survei terhadap pemilik pelantang suara pintar (smart speaker). Sebanyak 4.272 panelis dari perwakilan populasi yang dipilih acak memberikan respons atas survei daring itu.

Hasilnya, lebih dari separuh atau 54 persen responden di AS mengaku pernah mengucapkan kata ”tolong” saat berbicara pada perangkat mereka. Bahkan, satu dari lima orang menyatakan intens melakukannya. Perempuan cenderung lebih sering mengatakan ”tolong” dibanding laki-laki. 

Future, perusahaan multimedia yang berbasis di Inggris, juga menerbitkan survei tentang sikap sopan saat berbicara pada AI. Survei ini melibatkan lebih dari 1.000 pengguna AI di AS dan Inggris. Hasilnya, sekitar 70 persen pengguna bersikap sopan saat berinteraksi dengan chatbot.

Baca JugaMengapa ”Chatbot” AI Bisa Menjadi Teman bagi Manusia yang Kesepian?

Rinciannya, 55-59 persen pengguna di AS dan Inggris mengaku melakukan hal itu karena hanya ingin berbuat sesuatu yang baik. Menariknya, 12 persen lainnya bersikap sopan sebagai bentuk ”jaga-jaga” jika kelak robot mengambil alih dunia. Mereka khawatir jika hal itu benar-benar terjadi.

Sisanya, responden tidak bersikap sopan karena merasa mengucapkan kata ”tolong” atau ”terima kasih” menghabiskan waktu mereka. Lagi pula, mereka berinteraksi dengan mesin, bukan manusia. Chatbot hanyalah sistem perangkat lunak yang memproses data dan bahasa.

”Mereka tidak bisa merasa dihormati atau dihina. Mereka tidak duduk diam sambil berpikir, ’Hari ini Bernard bersikap baik, aku akan berusaha lebih keras’,” ujar Bernard Marr, penulis buku Generative AI in Practice dalam artikelnya di media Forbes, awal Juni 2026.

Menurut dia, semakin seseorang memperlakukan AI seperti manusia, semakin mudah bagi orang tersebut untuk menaruh kepercayaan berlebih dan menjalin ikatan emosional dengannya. ”Akhirnya, kita lupa bahwa jawaban dari AI itu bisa saja keliru,” tulis Bernard.

Harga token

Tidak hanya itu, di balik setiap kata pada chatbot AI, tersimpan biaya tertentu. Sebab, sistem AI memproses bahasa dengan cara memecahnya menjadi unit-unit kecil yang disebut token. Setiap token juga menjadi standar untuk mengukur dan menetapkan biaya penggunaan sistem AI.

”Satu ucapan ’tolong’ atau ’terima kasih’ mungkin tampak remeh. Namun, AI beroperasi dalam skala yang sangat masif. Ketika jutaan pengguna menambahkan kata-kata ekstra pada miliaran perintah teks (prompt), biaya kumulatifnya bisa menjadi sangat besar,” ujar Bernard.

Sebagai gambaran, untuk penggunaan 1 juta token, biayanya mulai dari 1 dolar AS hingga puluhan dolar AS, tergantung model AI. Adapun  1 juta token setara dengan sekitar 750.000 kata. Token tidak hanya dihitung saat Anda mengetik kata (input), tetapi juga saat chatbot menjawab (output). 

Persoalannya, saat Anda meng-input kata ”terima kasih”, sistem AI akan meresponnya dengan belasan bahkan puluhan kata, bergantung pada konteks prompt. Itu sebabnya, lanjut Bernard, terdapat biaya di balik kata, seperti ”terima kasih”. 

Bahkan, pada April tahun 2025, seorang warganet bertanya tentang hal itu di platform X. ”Saya penasaran berapa banyak uang yang sudah dihabiskan OpenAI untuk biaya listrik hanya karena orang-orang mengatakan ’tolong’ dan ’terima kasih’ kepada model AI mereka,” tulisnya. 

Baca JugaBiaya Token Turun, Pengeluaran Perusahaan untuk AI Melonjak

Sehari kemudian, Altman menanggapi unggahan tersebut dengan mengatakan, ”Puluhan juta dolar yang dihabiskan dengan baik. Siapa yang tahu”. Meski dengan nada bercanda, pernyataan bahwa token menelan biaya adalah sebuah fakta. 

Bahkan, biaya token diprediksi meningkat. ”Saya pikir, saat ini pengeluaran biaya untuk token pada semua (model AI) akan naik drastis,” ujar Chief Executive Officer International Business Machines Corporation Arvind Krishna dalam wawancara yang dihadiri Harian Kompas (Kompas.id), Selasa (2/6/2026) waktu New York, AS. 

Proyeksi itu tidak terlepas dari besarnya investasi yang dikeluarkan perusahaan AI untuk membangun pusat data dengan kapasitas 125 gigawatt dalam tiga tahun ke depan. Nilai investasinya diperkirakan 8 triliun dolar AS-12 triliun dolar AS. Di sisi lainnya, biaya komputasi, seperti unit pemrosesan grafis (GPU), juga meningkat.

Krishna memprediksi, perusahaan AI nantinya tidak memberikan tarif langganan tetap, tetapi mengukur biaya per token yang tentu lebih mahal. ”Transisi ini saya prediksi terjadi dalam 24 bulan. Sudah ada empat perusahaan yang mengumumkan hal itu secara tiba-tiba,” katanya.

Biaya energi

Setiap kata tidak hanya berimplikasi pada ongkos token, tetapi juga biaya energi. Tiga orang profesional di bidang AI, yakni Julien Delavande, Sasha Luccioni, dan Regis Pierrard, mencoba membuat simulasi untuk menghitung potensi biaya energi dari ucapan ”terima kasih”.

Hasilnya, pada 10.000 percakapan yang menggunakan model AI LLaMA 3-8B, satu respons terhadap ucapan ”terima kasih” pada perangkat pemrosesan sistem AI, seperti GPU Nvidia H100, membutuhkan sekitar 0,245 watt-jam (Wh). Angka itu dari konsumsi energi di GPU, CPU, dan memori utama (RAM).

Baca JugaFasilitas Pusat Data Tumbuh Pesat, Risiko Pasokan Listrik dan Air Mengintai

”Sebagai gambaran, jumlah energi tersebut setara dengan menyalakan lampu LED berdaya 5 watt selama lebih kurang tiga menit,” tulis Delavande dan tim dalam Hugging Face, platform komunitas yang membahas isu AI. Konsumsi energi ini mungkin tampak kecil, tetapi jika dikalikan jutaan interaksi setiap hari, jumlahnya bisa melonjak.

”Apabila setiap interaksi yang diakhiri dengan ungkapan sopan menghabiskan 1 hingga 5 Wh pada model-model berskala besar, akumulasi kebutuhan energinya dapat mencapai beberapa megawatt-jam (MWh) setiap hari. Jumlah itu setara dengan konsumsi listrik ratusan rumah,” tulis mereka. 

Persoalannya, pusat data AI tidak hanya membutuhkan listrik, tetapi juga air untuk pendingin server. International Energy Agency (IEA) bahkan memperkirakan kebutuhan listrik pusat data di seluruh dunia dapat meningkat hingga dua kali lipat sebelum akhir dekade seiring melonjaknya penggunaan AI.

Interaksi manusia

Meskipun penggunaan kata ”tolong” dan ”terima kasih” pada AI membutuhkan biaya token dan energi, bersikap sopan untuk AI tetap memberikan manfaat. Salah satunya, cara manusia berinteraksi dengan AI dapat memengaruhi cara mereka memperlakukan sesama manusia. 

”Kita membangun norma dan pola perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Dengan terus berinteraksi secara sopan dengan sesuatu, kita mungkin perlahan menjadi pribadi yang lebih terbiasa bersikap santun,” ujar Jaime Banks, peneliti hubungan manusia dan AI di Syracuse University, seperti dikutip The New York Times, beberapa waktu lalu. 

Dengan terus berinteraksi secara sopan dengan sesuatu, kita mungkin perlahan menjadi pribadi yang lebih terbiasa bersikap santun.

Sherry Turkle, peneliti hubungan manusia dan teknologi dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), mengingatkan, fenomena cara manusia memperlakukan benda dan pengaruhnya terhadap perilaku kita sendiri bukan kali ini saja terjadi. Beberapa dekade lalu, hal serupa juga berlangsung. 

Ia mencontohkan fenomena Tamagotchi pada 1990-an. Mainan digital berbentuk hewan peliharaan itu harus diberi makan dan dirawat secara rutin. Jika diabaikan, Tamagotchi akan ”mati” dan banyak anak benar-benar merasa kehilangan. Dalam kasus AI, Turkle menilai, AI ”cukup hidup” untuk diperlakukan dengan sopan.

”Jika kita sudah berbicara akrab dengan obyek dan menganggapnya sosok penting, maka obyek itu sudah cukup layak untuk diperlakukan dengan sopan,” ucapnya. 

Pada akhirnya, mengucapkan ”tolong” dan ”terima kasih” kepada AI mungkin tidak akan mengubah chatbot menjadi lebih pintar. Namun, hal itu mengingatkan bahwa di balik setiap percakapan digital terdapat biaya komputasi hingga energi. Sebaliknya, dapat menjaga manusia tetap menjadi manusia. 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Penumpang dari Luar Negeri Bisa Daftar IMEI di Pelabuhan Tunon Taka
• 14 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Agensi Umumkan KARD Akan Dibubarkan Usai Rilis Album & Tur Konser Terakhir
• 22 jam lalucumicumi.com
thumb
Jelang Duel Portugal Vs Spanyol, Gavi Puji Cristiano Ronaldo: Dia yang Terbaik dalam Sejarah
• 14 jam laluviva.co.id
thumb
Indonesia-Singapura lakukan negosiasi harga ekspor listrik hijau
• 3 jam laluantaranews.com
thumb
Dua Flyover Baru di Muara Enim Disiapkan, PTBA Perkuat Keselamatan Perlintasan Kereta
• 2 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.