Modal Rp 500.000, “Pemburu Rongsok” Raup Cuan dari Rumah Mewah di Menteng

kompas.com
12 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Di balik pagar tinggi dan rumah-rumah mewah kawasan Menteng, Jakarta Pusat, ada aktivitas yang nyaris tak terlihat yakni para pembeli barang bekas yang setiap hari menyusuri jalanan perumahan elite itu dengan gerobak kayu.

Suara mereka terdengar berulang di pagi hari, “Beli barang bekas…”, menjadi penanda rutinitas yang terus hidup di tengah kawasan yang identik dengan kemapanan.

Mereka bukan pemulung. Mereka datang dengan modal uang tunai, bahkan sebagian berasal dari pinjaman pengepul, untuk membeli barang-barang rumah tangga yang sudah tak terpakai lagi.

Modal itu tak besar, sekitar Rp 500.000 hingga Rp 1 juta. Namun dari jumlah kecil itu, tumbuh rantai ekonomi panjang yang menghubungkan warga, pembeli barang bekas, pengepul, hingga industri daur ulang.

Baca juga: Tak Punya Lapangan, Anak-anak Menteng Jaya Jakpus Gelar Liga Aspal di Jalan Kampung

Di salah satu titik, kawasan Kali Cideng, Menteng, Hardi (51) sudah dua dekade menjadi pengepul barang bekas.

Setiap sore hingga malam, halaman tempat usahanya berubah ramai oleh gerobak-gerobak pembeli barang bekas yang datang membawa hasil keliling mereka dari berbagai sudut kota.

Menurut Hardi, seluruh perputaran usaha ini bertumpu pada modal harian.

"Ada yang pakai modal sendiri, ada juga yang saya kasih modal. Setelah barang ditimbang, modalnya dipotong, sisanya jadi keuntungan mereka," ujar Hardi saat ditemui Kompas.com, Jumat (3/7/2026).

Besaran modal pun tidak seragam.

"Ada yang Rp 500.000, ada yang sampai Rp 1 juta kalau sudah lama kerja sama dan memang bisa dipercaya," katanya.

Skema ini membuat para pemburu barang bekas tetap bisa beroperasi meski tanpa modal besar di tangan.

Barang yang mereka kumpulkan kemudian disetor kembali ke pengepul untuk ditimbang sesuai jenis material.

Selisih hasil penjualan setelah dipotong modal menjadi keuntungan harian mereka.

Baca juga: Satu Dekade Menghidupkan Pagi di Taman Menteng Jakpus Lewat Basket

Dalam sehari, sekitar 20 hingga 30 orang datang menyetor barang ke tempat Hardi. Mereka berasal dari Menteng, Cikini, Gambir hingga Tanah Abang.

Jenis barangnya pun beragam antara lain besi, aluminium, tembaga, kuningan, kardus, botol plastik, kabel bekas, hingga perabot rumah tangga seperti pagar besi, rak, lampu gantung, bahkan lukisan dan hiasan dinding.

Namun tidak semua barang langsung berakhir sebagai rongsokan.

"Kalau masih layak dipakai ya dijual lagi. Yang sudah rusak baru dipilah berdasarkan jenis materialnya untuk dikirim ke pabrik daur ulang," kata Hardi.

Meski demikian, ia mengakui aktivitas ini mulai melambat.

"Lebih sepi dibanding beberapa tahun lalu. Barang dari rumah-rumah enggak sebanyak dulu. Sekarang banyak orang menjual sendiri lewat media sosial atau marketplace kalau barangnya masih bagus," ujarnya.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

KOMPAS.com/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Santo, pembeli barang bekas tengah membawa gerobak kayu yang digunakan untuk mengangkut barang bekas hasil berkeliling di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (3/7/2026).


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pratama Arhan Resmi Gabung ke Persija Jakarta
• 12 jam laluidxchannel.com
thumb
Vila Privat di Tengah Kota, Alternatif Baru Menginap di Yogyakarta
• 43 menit lalukumparan.com
thumb
Air Mata Neymar dan Isyarat Pensiun Usai Tumbang Melawan Norwegia
• 6 jam lalukatadata.co.id
thumb
Pemerintah Optimistis KEK Luar Jawa Makin Dilirik Investor Global
• 22 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Viral Pungutan Warga Pindah di Sememi Surabaya, DPRD Minta Pemkot Verifikasi
• 22 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.