JAKARTA, KOMPAS.com - Di balik pagar tinggi dan rumah-rumah mewah kawasan Menteng, Jakarta Pusat, ada aktivitas yang nyaris tak terlihat yakni para pembeli barang bekas yang setiap hari menyusuri jalanan perumahan elite itu dengan gerobak kayu.
Suara mereka terdengar berulang di pagi hari, “Beli barang bekas…”, menjadi penanda rutinitas yang terus hidup di tengah kawasan yang identik dengan kemapanan.
Mereka bukan pemulung. Mereka datang dengan modal uang tunai, bahkan sebagian berasal dari pinjaman pengepul, untuk membeli barang-barang rumah tangga yang sudah tak terpakai lagi.
Modal itu tak besar, sekitar Rp 500.000 hingga Rp 1 juta. Namun dari jumlah kecil itu, tumbuh rantai ekonomi panjang yang menghubungkan warga, pembeli barang bekas, pengepul, hingga industri daur ulang.
Baca juga: Tak Punya Lapangan, Anak-anak Menteng Jaya Jakpus Gelar Liga Aspal di Jalan Kampung
Di salah satu titik, kawasan Kali Cideng, Menteng, Hardi (51) sudah dua dekade menjadi pengepul barang bekas.
Setiap sore hingga malam, halaman tempat usahanya berubah ramai oleh gerobak-gerobak pembeli barang bekas yang datang membawa hasil keliling mereka dari berbagai sudut kota.
Menurut Hardi, seluruh perputaran usaha ini bertumpu pada modal harian.
"Ada yang pakai modal sendiri, ada juga yang saya kasih modal. Setelah barang ditimbang, modalnya dipotong, sisanya jadi keuntungan mereka," ujar Hardi saat ditemui Kompas.com, Jumat (3/7/2026).
Besaran modal pun tidak seragam.
"Ada yang Rp 500.000, ada yang sampai Rp 1 juta kalau sudah lama kerja sama dan memang bisa dipercaya," katanya.
Skema ini membuat para pemburu barang bekas tetap bisa beroperasi meski tanpa modal besar di tangan.
Barang yang mereka kumpulkan kemudian disetor kembali ke pengepul untuk ditimbang sesuai jenis material.
Selisih hasil penjualan setelah dipotong modal menjadi keuntungan harian mereka.
Baca juga: Satu Dekade Menghidupkan Pagi di Taman Menteng Jakpus Lewat Basket
Dalam sehari, sekitar 20 hingga 30 orang datang menyetor barang ke tempat Hardi. Mereka berasal dari Menteng, Cikini, Gambir hingga Tanah Abang.
Jenis barangnya pun beragam antara lain besi, aluminium, tembaga, kuningan, kardus, botol plastik, kabel bekas, hingga perabot rumah tangga seperti pagar besi, rak, lampu gantung, bahkan lukisan dan hiasan dinding.
Namun tidak semua barang langsung berakhir sebagai rongsokan.
"Kalau masih layak dipakai ya dijual lagi. Yang sudah rusak baru dipilah berdasarkan jenis materialnya untuk dikirim ke pabrik daur ulang," kata Hardi.
Meski demikian, ia mengakui aktivitas ini mulai melambat.
"Lebih sepi dibanding beberapa tahun lalu. Barang dari rumah-rumah enggak sebanyak dulu. Sekarang banyak orang menjual sendiri lewat media sosial atau marketplace kalau barangnya masih bagus," ujarnya.





