Hiruk pikuk Jakarta Fair tak pernah surut. Senin (7/7/2026) yang notabene adalah hari kerja, Jiexpo Kemayoran tetap dipenuhi warga yang berkunjung ke Jakarta Fair 2026. Semakin sore menjelang malam, lalu-lalang manusia pun tambah ramai. Dari sekian lautan manusia, terdapat para sales promotion girl (SPG) dan sales promotion boy (SPB) yang sibuk menawarkan produk mereka.
Handika (19) dengan gesit mendatangi dua orang ibu-ibu yang berjalan sembari membawa belanjaan. Sambil membawa produk sabun cuci piring dan baju, Handika mencoba peruntungan dengan menyodorkan dua produk tersebut. Namun dengan cepat pula dua ibu-ibu itu menolak tawaran Handika sembari mengangkat tangannya.
Pengunjung menolak penawaran pramuniaga.
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Menawarkan produk kepada pengunjung.
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Menunggu target.
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Penolakan sudah menjadi makanan sehari-hari Handika semenjak menjadi SPB sejak hari pertama Jakarta Fair. Walaupun ditolak, ia tidak marah. Baginya ini merupakan pengalaman berharga semenjak ia lulus dari bangku SMK. Ini adalah kali pertama ia menjadi seorang SPB atau pramuniaga.
“Saya jurusan logistik di SMK. Cita-citanya ingin menjadi pengusaha, jadi harus mencoba dulu dari bawah seperti ini mas, hehe,” ucapnya.
Kendati terdengar optimis, nyatanya Handika sempat diterpa rasa malu sejak pertama kali menjadi SPB di Jakarta Fair. Ia menceritakan, dirinya lebih banyak diam dan menunggu orang mendatanginya daripada ia harus mendatangi pelanggan. Selama tiga hari rasa malunya itu mengendap. Namun seiring waktu Handika menjadi terbiasa dan lebih aktif menawarkan produknya kepada para pengunjung.
Walau terlihat mudah, Handika tetap harus dikejar target. Pada hari biasa ia harus menjual 80 produk kepada pelanggan. Sedangkan akhir pekan targetnya melonjak menjadi 110 paket. Target itu menjadi bonus bagi penghasilan Handika. Dalam sehari ia dibayar Rp 350.000 pada akhir pekan dan Rp 240.000 pada hari biasa.
SPB, Handika (19)
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
SPG, Agnes (22).
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
SPG, Vanessa.
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Dalam sehari ia bisa menghabiskan waktu sampai 11 jam di Jakarta Fair. Bahkan saat akhir pekan, jam kerjanya menjadi lebih bertambah hingga 15 jam. Ia pun harus pintar mengatur waktu istirahat, makan, dan berjualan. Meskipun berat ia tetap bersyukur mendapatkan pekerjaan di sela ia menunggu pendaftaran kuliah.
Pengalaman pertama menjadi pramuniaga pun dirasakan Vanessa (18). Sama halnya dengan Handika, Vanessa pun baru lulus dari SMA. Libur sekolah ini dimanfaatkannya untuk mencari tambahan uang jajan.
“Sebenarnya capek sih jadi SPG tapi seneng ada senengnya juga karena jadi nambah teman dan relasi juga,” ujarnya.
SPG di jenama yang ditawarkan Vanessa rata-rata berumur 18-20 tahun. Itu lah yang membuatnya banyak menambah teman. Alasan mereka untuk menjadi SPG pun beragam. Ada yang mencari tambahan penghasilan, menghabiskan libur sekolah, hingga mencari pengalaman.
Kehadiran SPG dan SPB di Jakarta Fair menjadi pemanis pameran multiproduk terbesar se Asia Tenggara ini. Keberadaannya menjadi ujung tombak agar para pengunjung mau mendatangi stan produk. Jadi, siapkan uang anda karena para pramuniaga siap memikat anda untuk berbelanja.





