Prospek Bank Lebih Menantang, Dua Saham Ini Tetap Dijagokan

idxchannel.com
14 jam lalu
Cover Berita

Prospek sektor perbankan Indonesia diperkirakan menghadapi tantangan yang lebih berat ke depan.

Prospek Bank Lebih Menantang, Dua Saham Ini Tetap Dijagokan. (Foto: Magnific)

IDXChannel – Prospek sektor perbankan Indonesia diperkirakan menghadapi tantangan yang lebih berat ke depan.

Analis Sucor Sekuritas Edward Lowis dan Karen Chow memangkas proyeksi laba, target harga, sekaligus menurunkan rekomendasi sejumlah saham bank setelah menilai tekanan terhadap margin bunga bersih (NIM) akan semakin besar.

Baca Juga:
Saham JELI dan JECX Bakal Debut Perdagangan di BEI Hari Ini

Dalam riset bertajuk A Tougher Cycle for Margins and Multiples yang diterbitkan pada 3 Juli 2026, Sucor Sekuritas menilai era suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama telah mengubah prospek industri perbankan.

Imbal hasil instrumen bebas risiko yang tetap tinggi, dipimpin oleh Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), mendorong kenaikan biaya pendanaan bank, terutama untuk dana institusi dan deposito bernilai besar.

Baca Juga:
Wall Street Ditutup Menghijau, Ditopang Saham-Saham AI

Di sisi lain, pelemahan rupiah dinilai meningkatkan risiko inflasi impor sekaligus membuka peluang kenaikan suku bunga kebijakan. Kondisi tersebut tidak hanya menekan daya beli masyarakat, tetapi juga berpotensi mengurangi kemampuan debitur dalam membayar pinjaman.

Sucor memperkirakan biaya dana (cost of funds) masih akan meningkat sepanjang 2026-2027, sementara penyesuaian bunga kredit berlangsung lebih lambat.

Baca Juga:
Empat Emiten Tebar Dividen Hari Ini, MYOR Bagikan Rp1,32 Triliun

Akibatnya, margin bunga bersih diperkirakan terus menyempit, terutama pada bank yang memiliki porsi dana murah (CASA) lebih rendah, ketergantungan tinggi terhadap deposito berjangka, serta portofolio kredit berbunga tetap yang besar.

Tekanan terhadap NIM menjadi alasan utama revisi proyeksi kinerja.

Sucor memangkas estimasi laba bank-bank besar dalam cakupannya sebesar 13 persen untuk 2026 dan 20 persen untuk 2027, dengan risiko penurunan yang dinilai semakin besar pada 2027 ketika repricing deposito telah berlangsung lebih penuh.

Sejalan dengan itu, proyeksi NIM juga diturunkan sebesar 21 basis poin untuk 2026 dan 38 basis poin pada 2027.

Sementara itu, proyeksi pertumbuhan kredit direvisi menjadi 5-7 persen pada 2026 dan 6-8 persen pada 2027, lebih rendah dibanding estimasi sebelumnya sebesar 8-10 persen.

Revisi tersebut mencerminkan kondisi likuiditas yang lebih ketat, permintaan kredit yang melambat, serta sikap perbankan yang lebih berhati-hati dalam menyalurkan pinjaman.

Sucor juga menaikkan asumsi biaya kredit karena bank diperkirakan memperkuat pencadangan untuk mengantisipasi potensi memburuknya kualitas aset.

Menurut Sucor, valuasi saham bank memang terlihat murah jika dilihat dari rasio price-to-book (PB) maupun price-to-earnings (PE). Namun, patokan valuasi yang wajar kini dinilai telah bergeser lebih rendah.

Sebelumnya, kenaikan valuasi sektor perbankan didukung oleh suku bunga rendah, turunnya biaya modal, serta prospek pertumbuhan laba yang lebih jelas.

Kini kondisi tersebut telah berbalik, sehingga Sucor memangkas target harga saham perbankan dalam cakupannya rata-rata 26 persen.

Revisi tersebut didasarkan pada kenaikan asumsi tingkat bebas risiko dalam model valuasi menjadi 7,5-8,0 persen, atau sekitar 120-160 basis poin lebih tinggi dibanding sebelumnya.

Perubahan itu turut meningkatkan biaya ekuitas sebesar 157-282 basis poin, sehingga ruang kenaikan valuasi saham bank dinilai semakin terbatas dalam waktu dekat.

Di tengah tekanan tersebut, Sucor menjadi lebih selektif dalam memilih saham perbankan.

“Kami menjadi lebih selektif terhadap sektor perbankan karena prospek pertumbuhan laba dalam jangka pendek dinilai tidak lagi semenarik sebelumnya. Kenaikan biaya pendanaan, perlambatan pertumbuhan kredit, serta meningkatnya risiko kredit diperkirakan akan membatasi pertumbuhan laba sekaligus mengurangi potensi kenaikan valuasi saham,” tulis analis Sucor.

Analis tetap menjagokan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebagai pilihan defensif berkat basis dana murah yang kuat, margin yang lebih resilien, serta kualitas aset yang solid.

Sementara itu, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) masih menjadi pilihan utama untuk pertumbuhan jangka panjang.

Sucor menilai posisi BRIS sebagai bank syariah terbesar di Indonesia dengan model bisnis berlisensi ganda, ditambah peluang ekspansi bisnis bullion banking, memberikan prospek pertumbuhan yang lebih menarik.

Sebaliknya, Sucor menurunkan rekomendasi BBRI, BMRI, BBNI, BBTN, dan BNGA menjadi hold. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Di Balik Ucapan Ulang Tahun Dasco untuk Nadiem Makarim...
• 13 jam lalukompas.com
thumb
Polri Tetapkan Eks Dirut PTPN XI sebagai Tersangka Kasus Dugaan Korupsi EPCC Pabrik Gula
• 3 jam laluidxchannel.com
thumb
Timnas Voli Putri Indonesia Masuk dalam Agenda Kedatangan Megawati Hangestri ke Korea Selatan
• 17 jam lalutvonenews.com
thumb
Dilaporkan ke Kejaksaan soal Baliho Ultah Jokowi, Wali Kota Solo: Saya Hormati Prosesnya
• 22 jam lalukompas.tv
thumb
Pendapatan Box Office Minions & Monsters Capai USD98 Juta di Luar Negeri
• 16 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.