Lari Kencang Tetangga Kita

metrotvnews.com
13 jam lalu
Cover Berita

Ada kabar baik dari Asia Tenggara yang sekaligus menjadi alarm bagi Indonesia. Bank Dunia resmi menaikkan status Vietnam dan Filipina menjadi negara berpendapatan menengah atas, 1 Juli lalu. Dengan demikian, kini lima negara ASEAN telah berada pada kelompok itu atau bahkan lebih tinggi, yakni Malaysia, Tailan, Indonesia, Vietnam, dan Filipina. Singapura dan Brunei masuk negara berpendapatan tinggi.

Indonesia memang tak perlu berkecil hati. Kita sudah lebih dulu masuk kelompok negara berpendapatan menengah atas. Namun, sejarah pembangunan tidak pernah memberikan penghargaan kepada siapa yang lebih dahulu tiba. Sejarah hanya mencatat siapa yang mampu terus berlari.
 

Baca Juga :

Jalan Terjal Iran

Penaikan status Vietnam dan Filipina bukanlah hadiah. Ia merupakan buah dari konsistensi membangun ekonomi. Vietnam berhasil menembus ambang batas Bank Dunia berkat model pertumbuhan berbasis ekspor. Selama dua tahun terakhir, ekspor mereka melonjak lebih dari 15%, sementara ekonomi mereka mampu tumbuh hingga 7%-8%. Pendapatan nasional bruto per kapita mereka pun meningkat rata-rata 10% setiap tahun dalam lima tahun terakhir.

Filipina menempuh jalan berbeda, tetapi hasilnya sama mengesankan. Pertumbuhan ekonomi rata-rata 5,8% selama lima tahun, lahir dari ekspansi yang relatif merata di berbagai sektor. Artinya, bukan satu industri yang sedang berjaya, melainkan struktur ekonomi yang semakin kukuh.

Keduanya memberikan pelajaran sederhana. Kenaikan tingkat pendapatan bukan semata hasil keberuntungan pasar global, melainkan juga buah reformasi ekonomi yang dijalankan secara konsisten.

Status baru itu tentu membawa keuntungan. Kepercayaan investor meningkat. Akses terhadap pasar modal semakin luas. Posisi tawar dalam perundingan ekonomi internasional ikut menguat. Dunia memandang negara berpendapatan menengah atas sebagai ekonomi yang lebih stabil dan lebih layak menjadi tujuan investasi.

Namun, status tersebut juga bukan tanpa konsekuensi. Pinjaman lunak dan berbagai fasilitas bantuan pembangunan akan berkurang. Sejumlah preferensi perdagangan bisa menghilang. Yang paling berbahaya ialah ancaman middle income trap, ketika sebuah negara gagal bertransformasi menuju ekonomi yang bertumpu pada inovasi, produktivitas, dan teknologi.


Ilustrasi. Foto: Freepik.com.

Indonesia semestinya memahami risiko itu lebih awal. Kita sudah lebih dulu berada di kelompok tersebut. Namun, justru ketika negara-negara tetangga sedang mempercepat langkah, Indonesia masih berkutat dengan sederet pekerjaan rumah yang belum selesai. Industrialisasi berjalan lambat, produktivitas manufaktur melemah, investasi bernilai tambah tinggi belum tumbuh optimal. Kualitas sumber daya manusia juga masih menghadapi tantangan besar.

Lebih mengkhawatirkan lagi, indikator manufaktur justru menunjukkan pelemahan. Padahal, pengalaman Vietnam membuktikan sektor industri berorientasi ekspor menjadi mesin utama kenaikan pendapatan masyarakat. Tidak ada negara yang mampu menjadi ekonomi maju hanya dengan mengandalkan konsumsi domestik dan ekspor bahan mentah.

Persaingan di ASEAN kini memasuki babak baru. Vietnam semakin agresif menarik investasi global. Filipina mulai menunjukkan transformasi ekonomi yang meyakinkan. Malaysia dan Tailan terus memperkuat daya saing industri mereka. Singapura tetap menjadi pusat ekonomi kawasan.

Dalam situasi seperti itu, Indonesia tidak cukup hanya berbangga karena pernah lebih dahulu naik kelas. Yang menentukan masa depan bukanlah posisi awal, melainkan kecepatan beradaptasi.

Bukan mustahil Vietnam akan melampaui Indonesia dalam sejumlah indikator ekonomi beberapa tahun mendatang apabila laju reformasinya tetap terjaga, sementara kita berjalan di tempat. Filipina pun memiliki peluang serupa jika mampu mempertahankan momentum pertumbuhannya.

Karena itu, penaikan status Vietnam dan Filipina semestinya dibaca sebagai cambuk, bukan sekadar kabar dari negeri tetangga. Indonesia membutuhkan reformasi yang lebih berani untuk memperkuat industri manufaktur, meningkatkan produktivitas tenaga kerja, mempercepat hilirisasi yang menghasilkan nilai tambah tinggi, memperkuat riset dan inovasi, serta menciptakan iklim investasi yang semakin kompetitif.

Di arena persaingan global, tidak ada podium yang disediakan untuk negara yang hanya puas menjadi pelopor. Yang bertahan ialah mereka yang terus bergerak lebih cepat daripada para pesaing mereka.

Indonesia sudah lebih dahulu naik level. Kini tantangannya jauh lebih besar, yakni memastikan tidak disalip mereka yang datang belakangan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hubungan Wali Kota dan Wawalkot Bandung Diduga Renggang, Wagub Jabar Merespons
• 6 jam lalujpnn.com
thumb
PM India Narendra Modi ke Indonesia, Sejumlah Mou Akan Diteken
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
Kuala Tanjung-Penang Port Segera Terhubung, Pertegas Sumut Hub Internasional
• 23 jam lalubisnis.com
thumb
PM Modi Tiba di DPR Buat Pidato, Disambut Prabowo-Gibran hingga Puan
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Prabowo Utus Muzani ke Pemakaman Khamenei, Bambang Pacul: Ketua MPR Tidak Bisa Diperintah Presiden
• 4 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.