Selama lebih dari dua dekade, Homo floresiensis dikenal sebagai teka-teki dalam sejarah evolusi manusia. Dengan tinggi hanya sekitar satu meter dan otak seukuran simpanse, spesies yang dijuluki "hobbit" ini dianggap memiliki kemampuan yang jauh melampaui ukuran tubuhnya. Mereka diduga mampu berburu gajah kerdil dan mengendalikan api, dua perilaku yang selama ini diasosiasikan dengan manusia purba yang lebih maju.
Namun, penelitian terbaru yang terbit di jurnal Science Advances pada 3 Juli 2026 justru menggoyahkan anggapan tersebut. Analisis baru terhadap ribuan fosil dari Liang Bua, Manggarai, Nusa Tenggara Timur menunjukkan bahwa Homo floresiensis kemungkinan bukan pemburu ulung, melainkan pemakan bangkai yang memanfaatkan sisa-sisa santapan komodo.
Temuan itu bukan sekadar mengubah cara pandang terhadap "hobbit" Flores. Ia juga membuka kembali perdebatan tentang bagaimana sebenarnya kemampuan kognitif dan asal-usul salah satu kerabat manusia paling misterius ini.
Penelitian dipimpin oleh paleoantropolog E. Grace Veatch bersama tim dari Smithsonian National Museum of Natural History. Nico Alamsyah, Thomas Sutikna dan Jatmika dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, turut menulis laporan ini.
Dalam kajian ini, para peneliti menganalisis lebih dari 3.100 fragmen tulang Stegodon, gajah kerdil purba penghuni Flores, serta hampir 7.000 tulang hewan pengerat yang ditemukan di Liang Bua.
Selama ini, tulang-tulang Stegodon yang ditemukan bersama alat batu dianggap sebagai bukti bahwa homo floresiensis mampu berburu hewan besar. Namun Veatch menilai kesimpulan tersebut belum pernah benar-benar diuji melalui analisis tafonomi, yakni ilmu yang mempelajari apa yang terjadi pada tulang setelah hewan mati.
Untuk menjawabnya, tim melakukan eksperimen yang tidak biasa. Mereka pergi ke Kebun Binatang Atlanta dan mengamati seekor komodo bernama "Rinca" melahap bangkai kambing. Setelah komodo selesai makan, setiap bekas gigitan dipindai menggunakan pemindai tiga dimensi beresolusi tinggi, lalu dibandingkan dengan jejak pada fosil Stegodon dari Liang Bua.
Hasilnya menunjukkan pola yang nyaris identik. Bekas gigitan komodo terkonsentrasi pada bagian tubuh yang paling banyak mengandung daging, persis seperti pola yang ditemukan pada fosil Stegodon. Sebaliknya, bekas sayatan alat batu buatan homo floresiensis justru lebih banyak ditemukan pada tulang rusuk, kaki, dan bagian tubuh lain yang hanya menyisakan sedikit daging.
Dalam makalahnya, Veatch dan tim menyimpulkan, "Komodo kemungkinan memperoleh akses pertama terhadap bangkai-bangkai tersebut, sehingga hanya menyisakan bagian-bagian yang kurang bernilai bagi Homo floresiensis untuk dimanfaatkan."
Temuan tersebut menggambarkan strategi bertahan hidup yang sangat berbeda dari bayangan sebelumnya. Alih-alih menjatuhkan Stegodon sendiri, homo floresiensis kemungkinan menunggu komodo selesai makan, lalu mengambil sisa daging dan sumsum tulang yang masih dapat dimanfaatkan.
Strategi seperti itu sebenarnya bukan sesuatu yang asing dalam evolusi manusia. Banyak kelompok pemburu-peramu awal diketahui memanfaatkan bangkai yang ditinggalkan predator besar ketika kesempatan muncul. Yang membedakan, di Flores predator puncaknya adalah komodo, kadal terbesar di dunia yang hingga kini masih hidup di Indonesia.
Penelitian ini juga menguji kembali salah satu klaim paling terkenal tentang homo floresiensis mengenai kemampuan mengendalikan api.
Selama bertahun-tahun, beberapa tulang berwarna hitam dari Liang Bua dianggap sebagai bukti pembakaran, sehingga muncul dugaan bahwa hobbit Flores telah memasak makanan. Namun analisis terbaru memberikan hasil berbeda.
Sebagian besar perubahan warna pada tulang ternyata berasal dari proses mineralisasi alami selama puluhan ribu tahun, bukan akibat terbakar. Dari ribuan tulang yang diperiksa, hanya satu fragmen yang benar-benar menunjukkan bekas api, tetapi berasal dari lapisan tanah yang lebih muda dan kemungkinan berkaitan dengan kedatangan manusia modern.
"Selain itu, tidak ada tanda penggunaan api secara sengaja pada lapisan yang berkaitan dengan Homo floresiensis," tulis tim peneliti.
Temuan ini bukan berarti homo floresiensis adalah spesies yang "bodoh". Mereka tetap mampu membuat alat batu, mengolah bangkai, dan bertahan hidup
Temuan ini bukan berarti homo floresiensis adalah spesies yang "bodoh". Mereka tetap mampu membuat alat batu, mengolah bangkai, dan bertahan hidup selama puluhan ribu tahun di pulau yang dihuni komodo, tikus raksasa, serta berbagai satwa endemik lain. Bertahan di lingkungan seperti Flores membutuhkan kemampuan beradaptasi yang tinggi.
Namun menurut Veatch, bukti terbaru menunjukkan perilaku mereka mungkin tidak sekompleks yang selama ini dibayangkan. "Homo floresiensis awalnya digambarkan memiliki perilaku yang relatif maju berdasarkan dugaan penggunaan api dan perburuan hewan besar," kata Veatch, dalam keterangan pers.
"Bukti yang ada sekarang menunjukkan bahwa repertoar perilaku mereka kemungkinan tidak seberagam atau sefleksibel manusia modern maupun Neanderthal," ucapnya.
Ironisnya, semakin banyak yang diketahui tentang Homo floresiensis, semakin besar pula misteri yang muncul. Selama ini sebagian ilmuwan menganggap mereka merupakan keturunan homo erectus yang mengalami penyusutan tubuh akibat isolasi di pulau (island dwarfism). Namun jika ternyata mereka tidak pernah berburu hewan besar maupun menguasai api, hubungan evolusioner itu menjadi semakin dipertanyakan.
Menurut para penulis, perilaku yang lebih sederhana ini dapat mengisyaratkan bahwa leluhur homo floresiensis mungkin berasal dari garis evolusi yang lebih kuno daripada yang selama ini diperkirakan. Meski demikian, mereka menegaskan bahwa penelitian ini belum cukup untuk menyimpulkan asal-usul spesies tersebut.
Para peneliti juga mengingatkan bahwa temuan ini bukan berarti homo floresiensis sama sekali tidak pernah berburu atau menggunakan api. Penelitian hanya menunjukkan bahwa di Liang Bua belum ditemukan bukti kuat yang mendukung dua perilaku tersebut. Sangat mungkin mereka menggunakan api di lokasi lain atau sesekali memperoleh bangkai Stegodon sebelum komodo datang.
Yang jelas, studi ini mengingatkan bahwa evolusi manusia tidak selalu berjalan menuju perilaku yang semakin kompleks. Dalam kondisi tertentu, kemampuan bertahan hidup justru bergantung pada strategi yang sederhana tetapi efektif, yaitu mengetahui kapan harus mengambil risiko, dan kapan memanfaatkan peluang.
Di Flores, puluhan ribu tahun lalu, keberhasilan homo floresiensis mungkin bukan ditentukan oleh kemampuan menaklukkan gajah kerdil. Akan tetapi, ditentukan oleh kecerdasan membaca waktu, menunggu hingga komodo selesai menyantap mangsanya, lalu memanfaatkan sisa yang masih cukup untuk mempertahankan hidup.
Temuan terbaru ini menjadi semakin menarik jika dibaca bersama penelitian lain yang terbit setahun sebelumnya di jurnal. Jika studi baru menjelaskan bagaimana homo floresiensis kemungkinan memperoleh daging, penelitian paleoklimat itu membantu menjawab pertanyaan berikutnya, mengapa mereka akhirnya punah?
Tim yang dipimpin paleoklimatolog Michael K. Gagan dari University of Wollongong, bersama peneliti Indonesia seperti Mika Rizki Puspaningrum dari Institut Teknologi Bandung dan Hamdi Rifai dari Universitas Negeri Padang, merekonstruksi iklim Flores menggunakan stalagmit dari Gua Liang Luar, hanya sekitar 700 meter dari Liang Bua.
Lapisan demi lapisan mineral di stalagmit merekam perubahan curah hujan selama puluhan ribu tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa sekitar 61.000 tahun lalu, Flores memasuki periode kekeringan panjang yang berlangsung hingga sekitar 47.000 tahun lalu. Curah hujan musim panas menurun drastis, sementara musim kemarau menjadi semakin panjang.
Perubahan itu mengubah seluruh lanskap ekologis Flores. Sungai-sungai kecil yang menjadi sumber air mulai menyusut. Padang rumput mengering. Populasi Stegodon florensis insularis, gajah kerdil yang menjadi herbivora terbesar di pulau itu, ikut merosot dan kemungkinan bermigrasi ke daerah yang lebih basah.
Bagi Homo floresiensis, perubahan itu bisa menjadi bencana. Jika benar mereka lebih sering memperoleh daging dari bangkai Stegodon yang telah dimakan komodo, seperti ditunjukkan penelitian terbaru di Science Advances, maka hilangnya Stegodon berarti bukan sekadar berkurangnya mangsa, tetapi juga lenyapnya sumber makanan utama mereka.
"Garis waktu yang disempurnakan menunjukkan bahwa sekitar 90 persen sisa Stegodon berasal dari periode 76.000–61.000 tahun lalu, ketika kondisi iklim masih ideal. Namun setelah iklim menjadi jauh lebih kering, kedua spesies itu hampir menghilang secara bersamaan," tulis Gagan dan koleganya.
Dengan kata lain, strategi bertahan hidup homo floresiensis mungkin bekerja selama ribuan tahun ketika ekosistem masih menyediakan bangkai Stegodon. Tetapi ketika perubahan iklim menghilangkan herbivora besar itu dari Liang Bua, strategi tersebut ikut kehilangan pijakan.
Para peneliti menduga tekanan itu masih diperparah oleh letusan gunung api yang meninggalkan lapisan abu tebal sekitar 50.000 tahun lalu. Pada periode yang hampir bersamaan, bukti arkeologi menunjukkan homo sapiens mulai hadir di kawasan Wallacea dalam perjalanan menuju Papua dan Australia.
Belum ada bukti bahwa manusia modern pernah bertemu langsung dengan homo floresiensis. Namun jika hobbit Flores terpaksa meninggalkan lembah Liang Bua untuk mencari sumber air dan makanan baru, kemungkinan perjumpaan itu tidak lagi mustahil.
Apakah mereka kalah bersaing? Terpapar penyakit baru? Atau sekadar menjadi korban perubahan iklim yang berlangsung terlalu cepat?
Kepunahan homo floresiensis kemungkinan bukan disebabkan oleh satu peristiwa tunggal, melainkan rangkaian tekanan yang saling berkaitan.
Jawabannya masih menjadi misteri. Namun dua penelitian yang terbit berturut-turut ini mulai menyusun potongan-potongan babak terakhir evolusi manusia hobbit. Mereka menunjukkan bahwa kepunahan homo floresiensis kemungkinan bukan disebabkan oleh satu peristiwa tunggal, melainkan rangkaian tekanan yang saling berkaitan. Strategi mencari makan yang terbatas, hilangnya Stegodon akibat kekeringan berkepanjangan, kemungkinan letusan gunung api, dan mungkin pula kedatangan manusia modern.
Kisah homo floresiensis akhirnya menjadi lebih dari sekadar cerita tentang manusia bertubuh kecil di sebuah pulau terpencil. Ia adalah pengingat bahwa dalam sejarah evolusi, kelangsungan hidup tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan atau kemampuan membuat alat, tetapi juga oleh rapuhnya keseimbangan antara makhluk hidup, iklim, dan lingkungan.
Ketika iklim berubah dan rantai makanan runtuh, bahkan salah satu kerabat manusia yang mampu bertahan selama ratusan ribu tahun pun akhirnya mencapai babak terakhir evolusinya.





