PURBALINGGA, iNews.id - Ribuan petani di Desa Serang, lereng Gunung Slamet, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, menggelar tradisi perang tomat sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah. Tradisi tahunan ini juga menjadi ajang mempererat silaturahmi antarmasyarakat.
Ribuan peserta dari berbagai daerah di Purbalingga dan sekitarnya memadati lokasi untuk mengikuti perang tomat. Sebelum acara dimulai, para peserta meneriakkan yel-yel guna membangkitkan semangat kelompok masing-masing.
Demi melindungi diri dari lemparan tomat, para peserta mengenakan berbagai perlengkapan pelindung, seperti mantel, helm, plastik, hingga tameng kayu. Setelah bunyi kentongan terdengar sebagai tanda dimulainya acara, ribuan tomat langsung beterbangan ke segala arah.
Lebih dari seribu petani yang terbagi dalam puluhan kelompok mengikuti tradisi tersebut. Setiap kelompok terdiri atas 70 hingga 100 orang yang saling melempar tomat selama kegiatan berlangsung.
Baca Juga:Anggota KKB Penembak Karyawan Freeport Terancam Hukuman Mati, Ini IdentitasnyaPanitia menyiapkan tiga kuintal tomat sebagai amunisi dalam perang tomat. Tomat yang digunakan merupakan buah busuk yang sudah tidak layak konsumsi dan biasanya hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
Suasana berlangsung meriah dengan sorak-sorai peserta dan penonton yang memenuhi area persawahan. Tidak hanya petani dewasa, anggota keluarga dari berbagai usia juga ikut ambil bagian dalam tradisi tersebut.
Salah seorang peserta, Husein mengaku senang dapat mengikuti perang tomat karena selain menghibur, kegiatan itu menjadi bentuk rasa syukur atas hasil panen yang baik.
"Yang ikut kan banyak, jadi kita tidak tahu mana teman dan lawan. Kita asal lempar serang saja," kata Husein di lokasi.
Kepala Desa Serang, Sugito mengatakan, tradisi perang tomat rutin digelar untuk menjaga kebersamaan dan mempererat hubungan antarpetani di wilayah tersebut.
Tradisi perang tomat berlangsung selama dua jam tanpa mengenal pemenang maupun pihak yang kalah. Seluruh peserta mengikuti kegiatan tersebut sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan atas panen melimpah sekaligus memperkuat tali silaturahmi.
"Perang itu tidak menimbulkan emosi, ada senda gurau tapi serius. Setelah perang itu peserta saling bermaafan," ujar Sugito.
Baca Juga:Anggota KKB Penembak Karyawan Freeport Ditangkap di Pasar Kago Ilaga PuncakPada 2026, tradisi perang tomat kembali digelar bersamaan dengan penyelenggaraan Festival Gunung Slamet ke-9 yang menjadi agenda budaya tahunan di kawasan lereng Gunung Slamet.
#jateng




