Saatnya Ikan-ikan Kecil Jadi ”Besar”

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Spesies ikan kecil secara ilmiah terbukti kaya akan protein berkualitas tinggi, asam lemak omega-3, serta berbagai mikronutrien esensial lainnya. Jika dibanding ikan berukuran besar, spesies ini jauh lebih ramah lingkungan dan ekonomis.

Baru-baru ini Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN), IPB University, UGM, dan BRIN membuat penelitian tentang ikan kecil sebagai peluang untuk meningkatkan nutrisi dan keberlanjutan di Indonesia. Penelitian yang disusun pada 2026 ini mengurai dua masalah utama pengembangan ikan kecil di Indonesia.

Pertama adalah kurangnya kesadaran dan minat konsumen terhadap spesies ikan kecil. Kedua, fenomena kelangkaan pasokan ikan kecil yang konsisten di pasar.

Manajer Program GAIN Ibnu Budiman menjelaskan, minat masyarakat terhadap spesies ikan kecil yang kurang lantaran adanya hambatan preferensi budaya masyarakat yang cenderung lebih memilih ikan berukuran besar. Adapun persoalan pasokan terjadi karena keterbatasan akses pembudidaya terhadap ketersediaan benih berkualitas atau fingerlings.

Padahal, lanjut Ibnu, spesies ikan kecil memiliki kandungan nutrisi yang tidak kalah hebat dibandingkan ikan besar. Ikan kecil terbukti memiliki berbagai mikronutrien esensial seperti kalsium, zat besi, seng, vitamin A, dan vitamin B. Ikan-ikan kecil yang diteliti juga kaya akan protein berkualitas tinggi dan asam lemak omega-3 yang sangat penting untuk kesehatan otak serta penurunan risiko penyakit jantung.

Dalam penelitian, para peneliti menganalisis secara spesifik tujuh jenis ikan kecil air tawar, yaitu ikan wader (Cyprinidae), bilih (Mystacoleucus padangensis), uceng (Balitoridae), puyu (Anabas testudineus), sepat siam (Osphronemidae), seluang (Rasbora), dan nilem (Osteochilus vittatus). Dari tujuh jenis itu, peneliti menggunakan basis pengukuran kandungan nutrisi per 100 gram. Hasilnya, profil nutrisi dari setiap jenis ikan memiliki keunggulan karakteristik tersendiri.

”Seperti ikan uceng memiliki kandungan protein tertinggi di antara spesies yang diuji, yakni mencapai 18 gram lebih, sehingga bisa memenuhi 30-40 persen dari total kebutuhan harian tubuh,” ungkap Ibnu di Jakarta, Senin (6/7/2026).

Ibnu menambahkan, ikan puyu juga menonjol karena memiliki kandungan kalsium yang luar biasa tinggi, yakni lebih dari 300 miligram yang setara dengan pemenuhan 30 persen kebutuhan harian manusia untuk menjaga kesehatan tulang.

”Secara ekonomi, ikan nilem dan sepat siam relatif jauh lebih terjangkau di pasar. Jadi, ikan-ikan ini bisa jadi sumber protein hewani yang sangat krusial bagi rumah tangga,” ungkap Ibnu.

Ibnu menjelaskan, ikan-ikan kecil masih sangat terjangkau di pasar lokal dengan fluktuasi harga berkisar antara Rp 20.000 hingga Rp 45.000 per kilogram. Namun, jenis ikan wader dan bilih cenderung memiliki harga jual yang lebih mahal, yaitu berada pada kisaran Rp 40.000 hingga Rp 70.000 per kilogram.

”Tingginya harga ini dipicu oleh fenomena penangkapan berlebih di alam liar, tekanan degradasi lingkungan perairan, serta keterbatasan pasokan geografis. Maksudnya ada beberapa jenis ikan yang endemik seperti yang ditemukan di Sumatera Barat saja,” ungkap Ibnu.

Selain itu, kata Ibnu, penelitian yang dijalankan pada 2024 menunjukkan, ikan kecil memberikan kontribusi yang positif terhadap agenda keberlanjutan global. Berbeda dengan ikan ukuran besar, ikan kecil tidak membutuhkan pembuangan isi perut atau filet. Apalagi, proses filet itu umumnya membuang 15-30 persen massa pangan.

”Tidak ada pengurangan kehilangan pangan atau food waste dan food loss. Ikan kecil dimakan utuh, sehingga memastikan seluruh densitas nutrisi terserap utuh,” kata Ibnu.

Ikan kecil, tambah Ibnu, dapat berkembang biak dengan baik di dalam lingkungan budidaya yang padat sehingga hemat air dan pakan. Implementasi sistem budidaya terintegrasi seperti aquaponics dan IMTA (Integrated Multi-Trophic Aquaculture) terbukti mampu mendongkrak produktivitas sekaligus mengoptimalkan daur ulang nutrisi.

Budidaya spesies kecil, seperti nilem, wader, dan sepat, tidak bergantung pada pakan komersial berbahan tepung ikan tangkap liar yang eksploitatif. Karakteristik biologis hewan ini yang bersifat herbivora atau omnivora memungkinkan pemberian pakan lokal berbasis tanaman, seperti dedak padi, alga, daun singkong, serta sisa organik dapur.

Penebaran kembali

Dalam menjawab tantangan budidaya ikan kecil, pemerintah membuat program penebaran kembali (restocking) ikan kecil secara terukur. Program itu juga diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 19 Tahun 2021 tentang Penebaran Kembali dan Penangkapan Ikan Berbasis Budidaya.

Untuk mendukung itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama GAIN, Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB University, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara resmi meluncurkan Pedoman Teknis Restocking Ikan Kecil Berbasis Kajian Efektivitas Restocking: Pengelolaan Berkelanjutan Perikanan Darat.

Direktur Pengelolaan Sumber Daya Ikan KKP Syahril Abd Raup mengatakan, upaya pemulihan sumber daya ikan di perairan darat membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif dan berbasis data. ”Upaya rehabilitasi dan peningkatan sumber daya ikan serta lingkungannya perlu dilakukan, guna menjaga eksistensi dan stok ikan di habitat alaminya,” ujarnya dikutip dari siaran pers.

Baca JugaTarget Produksi Perikanan Indonesia pada 2026

Pedoman teknis ini, kata Syahril, merupakan rujukan praktis bagi pemerintah pusat dan daerah, pengelola perairan darat, akademisi, organisasi masyarakat sipil, hingga sektor swasta dalam merancang dan melaksanakan program restocking yang efektif dan berkelanjutan.

Kepala PKSPL IPB University Yonvitner menjelaskan, pihaknya membuat kajian dari percontohan restocking yang dilakukan di beberapa lokasi, seperti di Danau Singkarak, Sumatera Barat, dan Yogyakarta. Hasilnya, program restocking memberikan kontribusi positif, tetapi efektivitas biologisnya masih perlu ditingkatkan melalui integrasi dengan strategi pengelolaan lainnya.

Kajian ini, kata Yonvitner, menunjukkan pentingnya penerapan pendekatan berbasis ekologi dan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan manfaat program penebaran kembali ini. Selain mendukung konservasi spesies lokal, pendekatan tersebut juga dinilai mampu memberikan manfaat sosial dan ekonomi yang lebih baik bagi masyarakat sekitar.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki sumber daya perairan yang sangat melimpah. Sayangnya, tingkat konsumsi ikan per kapita masyarakat masih tergolong lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara tetangga.

Berdasarkan data FAO, konsumsi ikan Indonesia memang mengalami peningkatan yang cukup signifikan, yaitu dari 19,4 kg per kapita pada tahun 1999 menjadi 45,1 kg per kapita pada 2019. Sementara itu, catatan berskala nasional menunjukkan angka 41,3 kg per kapita pada 2021. Angka ini masih berada di bawah konsumsi Malaysia yang mencapai 52,2 kg per kapita.

”Kita perlu meningkatkan skala upaya kegiatan restocking untuk memulihkan populasi ikan kecil di Indonesia,” kata Yonvitner yang juga merupakan Ketua Tim Peneliti Restocking Ikan Bilih.

Dengan adanya penelitian dan program ini seharusnya ikan-ikan kecil bisa jadi favorit di meja makan sehingga memiliki peran besar untuk kebutuhan tubuh masyarakat.

Baca JugaPangan Laut Belum Terintegrasi Optimal dalam Sistem Pangan Nasional


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Resmikan Fasilitas Pertahanan, Panglima TNI Naikan Pangkat 23 Prajurit
• 23 jam laluliputan6.com
thumb
Gelar FGD, Badan Pengkajian MPR dan Pakar UGM Kaji Pertahanan dan Keamanan Negara
• 41 menit lalujpnn.com
thumb
Ibu Hamil Jadi Korban Konflik Papua, Keuskupan Timika Minta Pemerintah Evaluasi Pengerahan Pasukan
• 17 jam lalukompas.tv
thumb
Legenda Brasil Ronaldo Gundul Salahkan Carlo Ancelotti usai Selecao Tersingkir dari Piala Dunia 2026
• 17 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Momen Dubes RI untuk Iran Hadiri Prosesi Pemakaman Ali Khamenei
• 23 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.