Bisnis.com, JAKARTA — Saham emiten produsen makanan dan minuman berbasis kelapa dengan merek INACO, PT Niramas Utama Tbk. (JELI) menyentuh auto reject atas atau ARA sebesar 25% ke level Rp1.125 per lembar pada saat pembukaan perdagangan perdana pukul 09.05 WIB.
Dalam Penawaran Umum Perdana Saham (Initial Public Offering/IPO), Perseroan menawarkan sebanyak 266.000.000 saham baru atau setara dengan 21,01% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.
Harga penawaran ditetapkan sebesar Rp900 per saham, yang merupakan batas bawah dari kisaran harga penawaran awal sebesar Rp900–Rp1.120 per saham sebagaimana tercantum dalam prospektus.
Melalui penawaran umum perdana saham JELI, perseroan berhasil menghimpun dana sebesar Rp239,4 miliar sebelum dikurangi biaya emisi Tingginya minat investor terhadap IPO Perseroan tercermin dari kelebihan permintaan yang mencapai 273,37 kali pada porsi pooling, dengan partisipasi sebanyak 630.491 pemesan.
Direktur JELI Adhi S. Lukman, menyampaikan bahwa dana hasil penawaran umum perdana saham akan digunakan untuk mendukung strategi pertumbuhan perseroan dengan alokasi untuk empat tujuan utama.
Porsi terbesar sekitar 56,70% akan disertakan sebagai modal kepada PT NPS selaku perusahaan anak untuk belanja modal, guna meningkatkan kapasitas produksi gummy candy dan produk jelly dalam mendukung permintaan domestik dan ekspor kategori yang menjadi katalis pertumbuhan baru bagi perseroan pasca IPO.
Sekitar 10,04% akan digunakan untuk belanja modal, berupa pembelian mesin dan peralatan produksi, mencakup peningkatan kapasitas gudang serta efisiensi logistik.
Sebesar 10,90% diarahkan untuk pembayaran sebagian utang jangka pendek. Sisanya sekitar 22,36% akan digunakan untuk modal kerja guna mendukung kelancaran operasional dan pertumbuhan usaha.
Berdasarkan laporan keuangan tahun buku 2025, perseroan membukukan penjualan sebesar Rp753,05 miliar.
Meskipun penjualan mengalami penyesuaian sebesar 6,02% pada tahun 2024 dan kembali turun 4,49% pada tahun 2025, perseroan berhasil meningkatkan profitabilitas dengan mencatat pertumbuhan laba tahun berjalan sebesar 592,50% pada tahun 2024 dan kembali meningkat 235,50% pada tahun 2025.
Pencapaian tersebut didukung oleh efisiensi operasional, optimalisasi biaya bahan baku, serta strategi pengembangan portofolio produk dengan margin yang lebih tinggi, yang mencerminkan semakin kuatnya kinerja operasional dan fundamental bisnis perseroan.
Selama lebih dari tiga dekade, perseroan akan memperkuat bisnisnya di industri makanan dan minuman berbasis kelapa dengan dukungan fasilitas produksi di Bekasi, Pontianak, Pandaan, dan Sukabumi.
Sejauh ini, JELI telah memperluas jangkauan pasar ke berbagai negara, termasuk Australia, Kanada, Singapura, dan Amerika Serikat, sebagai bagian dari strategi ekspansi global.
Selain pertumbuhan bisnis, perseroan juga berkomitmen terhadap keberlanjutan melalui pemberdayaan petani lokal sebagai pemasok bahan baku serta penciptaan lapangan kerja di berbagai wilayah operasional.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





