Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkuat tata kelola kolaborasi para mitra guna mendukung realisasi program revitalisasi satuan pendidikan bagi 200 ribu sekolah, melalui gerakan Partisipasi Semesta Pendidikan Bermutu (PSPB).
Sekretaris Jenderal (Sesjen) Kemendikdasmen Suharti di Jakarta, Selasa mengatakan besarnya jumlah sekolah yang masih membutuhkan revitalisasi memerlukan penguatan gotong royong dari berbagai pihak karena tidak cukup apabila hanya mengandalkan APBN semata.
Karena itu, pihaknya meluncurkan gerakan Partisipasi Semesta Pendidikan Bermutu (PSPB) yang tidak hanya membuka ruang kolaborasi bagi dunia usaha, filantropi, organisasi masyarakat, komunitas, hingga individu, namun juga memperkuat tata kelola kolaborasinya, guna mendukung berbagai kebutuhan sekolah.
“Kebutuhan pembangunan pendidikan jauh melampaui kemampuan pemerintah jika hanya mengandalkan anggaran negara,” kata Sesjen Suharti.
Selain memperluas akses pendidikan, ia menambahkan Pemerintah juga tengah berupaya meningkatkan kualitas pembelajaran, termasuk menyediakan lingkungan belajar yang layak bagi jutaan peserta didik di seluruh Indonesia.
"Faktanya masih lebih dari 200 ribu sekolah yang rusak dan membutuhkan penanganan sehingga anak-anak bisa sekolah secara aman dan nyaman," kata Suharti.
Menurut dia, persoalan pendidikan tidak berhenti pada pembangunan ruang kelas karena sekolah juga membutuhkan dukungan dalam bentuk peningkatan kapasitas guru, penyediaan bahan ajar digital, penguatan platform pembelajaran, hingga infrastruktur digital yang memadai.
"Kebutuhan pendidikan masih sangat luas. Butuh pendampingan dan pelatihan bagi guru, penyediaan bahan ajar digital, penguatan platform digital, hingga infrastruktur pendidikan," ujarnya.
Karena itu, gerakan PSPB juga akan memberikan dukungan prioritas lain, seperti digitalisasi pembelajaran, pemberian beasiswa, pelatihan guru, hingga penanganan anak tidak sekolah, demikian Suharti.
Baca juga: Kemendikdasmen perkuat penyelesaian isu prioritas lewat gerakan PSPB
Baca juga: Kemendikdasmen aktivasi PSPB perkuat tata kelola kolaborasi pendidikan
Sekretaris Jenderal (Sesjen) Kemendikdasmen Suharti di Jakarta, Selasa mengatakan besarnya jumlah sekolah yang masih membutuhkan revitalisasi memerlukan penguatan gotong royong dari berbagai pihak karena tidak cukup apabila hanya mengandalkan APBN semata.
Karena itu, pihaknya meluncurkan gerakan Partisipasi Semesta Pendidikan Bermutu (PSPB) yang tidak hanya membuka ruang kolaborasi bagi dunia usaha, filantropi, organisasi masyarakat, komunitas, hingga individu, namun juga memperkuat tata kelola kolaborasinya, guna mendukung berbagai kebutuhan sekolah.
“Kebutuhan pembangunan pendidikan jauh melampaui kemampuan pemerintah jika hanya mengandalkan anggaran negara,” kata Sesjen Suharti.
Selain memperluas akses pendidikan, ia menambahkan Pemerintah juga tengah berupaya meningkatkan kualitas pembelajaran, termasuk menyediakan lingkungan belajar yang layak bagi jutaan peserta didik di seluruh Indonesia.
"Faktanya masih lebih dari 200 ribu sekolah yang rusak dan membutuhkan penanganan sehingga anak-anak bisa sekolah secara aman dan nyaman," kata Suharti.
Menurut dia, persoalan pendidikan tidak berhenti pada pembangunan ruang kelas karena sekolah juga membutuhkan dukungan dalam bentuk peningkatan kapasitas guru, penyediaan bahan ajar digital, penguatan platform pembelajaran, hingga infrastruktur digital yang memadai.
"Kebutuhan pendidikan masih sangat luas. Butuh pendampingan dan pelatihan bagi guru, penyediaan bahan ajar digital, penguatan platform digital, hingga infrastruktur pendidikan," ujarnya.
Karena itu, gerakan PSPB juga akan memberikan dukungan prioritas lain, seperti digitalisasi pembelajaran, pemberian beasiswa, pelatihan guru, hingga penanganan anak tidak sekolah, demikian Suharti.
Baca juga: Kemendikdasmen perkuat penyelesaian isu prioritas lewat gerakan PSPB
Baca juga: Kemendikdasmen aktivasi PSPB perkuat tata kelola kolaborasi pendidikan





