Bisnis.com, JAKARTA — Anak usaha PT PLN (Persero), PLN Nusantara Power atau PLN NP mencatatkan produksi energi listrik sebesar 66.919 gigawatt hour (GWh) sepanjang 2025.
Perusahaan juga berhasil menekan biaya pokok produksi (BPP) pembangkit hingga 11,4% melalui optimalisasi bauran energi (energy mix).
Direktur Utama PLN Nusantara Power Ruly Firmansyah mengatakan, perseroan tidak hanya berfokus meningkatkan produksi listrik, tetapi juga memastikan proses pembangkitan berjalan lebih efisien dan berkelanjutan.
“PLN NP tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi energi listrik, tetapi juga memastikan bahwa listrik yang dihasilkan berasal dari proses yang semakin efisien, lebih bersih, dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” ujarnya dikutip dari keterangan resmi, Selasa (7/7/2026).
Dari sisi operasional, PLN NP juga mencatatkan peningkatan keandalan pembangkit. Hal itu tercermin dari capaian indikator equivalent forced outage rate (EFOR) pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang melampaui target perusahaan.
Kinerja tersebut menunjukkan meningkatnya kesiapan unit pembangkit dalam mendukung pasokan listrik nasional yang stabil dan andal.
Baca Juga
- Produksi Energi Hijau PLN Nusantara Power Tembus 245 GWh Kuartal I/2026
- Intip Strategi PLN Kejar Target Pembangunan PLTS 100 GW
- Penjualan Listrik PLN Indonesia Power Tembus 82,17 TWh
Perseroan juga melanjutkan program Green and Lean sebagai bagian dari agenda transformasi PLN Group. Pada 2025, program pengurangan emisi karbon mencapai 1,46% atau setara dengan 110% dari target tahunan.
Capaian tersebut menjadi bagian dari komitmen PLN NP dalam mendukung transisi energi melalui pengelolaan pembangkitan yang lebih ramah lingkungan.
Wakil Direktur Utama PT PLN (Persero) Yusuf Didi Setiarto menilai kinerja PLN NP memberikan kontribusi penting terhadap efisiensi dan keandalan operasional PLN Group.
“Hal ini menunjukkan kontribusi nyata PLN NP dalam mendukung keandalan pasokan listrik nasional, efisiensi perusahaan, dan sejalan dengan program pemerintah, khususnya dalam optimalisasi biaya di lingkungan PLN Group,” katanya.
Selain bisnis utama ketenagalistrikan, PLN NP mencatat pendapatan beyond kWh sebesar Rp1,1 triliun atau mencapai 160% dari target Rp688 miliar.
Pendapatan tersebut berasal dari sejumlah lini usaha di luar penjualan tenaga listrik, termasuk proyek internasional di Malaysia, Bangladesh, dan Timor Leste. Kinerja tersebut mencerminkan semakin besarnya kontribusi bisnis nonkelistrikan terhadap pendapatan perusahaan.
Di bidang tata kelola, PLN NP meraih skor tertinggi dalam penilaian Maturity Level Good Corporate Governance (GCG) di lingkungan PLN Group. Ruly mengatakan, tata kelola yang kuat menjadi fondasi penting bagi pengembangan bisnis dan perluasan kolaborasi strategis perusahaan ke depan.
“Dengan fondasi governance yang kuat, PLN NP siap memperluas kolaborasi, memperkuat kemitraan strategis, dan mendukung peta jalan transisi energi Indonesia,” ujarnya.
Sejalan dengan upaya memperkuat pasokan listrik nasional, PLN NP juga mengembangkan portofolio pembangkit baru dengan total kapasitas 696,9 megawatt yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Pengembangan tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan sekaligus mengantisipasi pertumbuhan kebutuhan energi nasional pada masa mendatang.





