Eksekutif Asia-Pasifik Berkumpul di Bali Bahas Dampak Geopolitik dan AI terhadap Bisnis

bisnis.com
6 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, MANGUPURA — Para eksekutif, pemimpin bisnis, serta mitra dan penasihat di bidang akuntansi, perpajakan, audit, dan hukum dari berbagai negara di kawasan Asia-Pasifik berkumpul di Bali untuk membahas tantangan dunia usaha di tengah ketidakpastian global dan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Pembahasan tersebut berlangsung dalam Asia Pacific Practice & Business Leadership Retreat yang digelar pada 6–7 Juli 2026 di Merusaka Hotel, Bali.

Para peserta berasal dari China, Taiwan, Filipina, Vietnam, Indonesia, Malaysia, Singapura, Belanda, Belgia, Thailand, dan Nepal.

Asia Pacific Regional Director at TGS Mikail Jaman mengatakan forum selama dua hari tersebut membahas berbagai isu global, termasuk konflik Amerika Serikat-Iran, serta dampaknya terhadap dunia usaha di masing-masing negara peserta.

Menurut dia, kegiatan tersebut bertujuan memberi ruang bagi para pemimpin bisnis untuk sejenak melepaskan diri dari tekanan operasional sehari-hari, bertukar wawasan strategis, dan memperoleh perspektif baru melalui diskusi antarsejawat serta refleksi bersama.

"Jadi setiap peserta memberikan pandangannya terhadap situasi global, kemudian seperti apa di negara masing-masing peserta, apakah terdampak secara ekonomi, terus bagaimana reaksi pemerintah, kebijakan apa yang diambil. Kemudian bagaimana reaksi industri negara tersebut, langkah apa yang mereka lakukan. Itu yang kami kumpulkan di acara selama dua hari," ujar Jaman kepada Bisnis.

Baca Juga

  • Mensesneg: Perlu Koordinasi Antar K/L Jaga Kinerja Ekonomi di Tengah Dinamika Geopolitik
  • Messe Berlin: Diversifikasi Jadi Tameng Industri Pariwisata Hadapi Gejolak Geopolitik
  • MWC Shanghai 2026: Cina dan Asia Pasifik Pimpin Pasar Monetisasi AI Telco Global

Selain membahas situasi global, para peserta juga mendiskusikan pengaruh AI terhadap dunia kerja dan operasional perusahaan. Menurut Jaman, AI mampu meningkatkan efisiensi kerja sehingga perusahaan yang tidak mengadopsinya berisiko tertinggal dari para pesaing. Namun, di sisi lain, perkembangan teknologi tersebut juga berpotensi mengurangi kebutuhan tenaga kerja pada profesi tertentu.

Meski demikian, Jaman menilai AI tidak akan sepenuhnya menggantikan peran manusia, terutama dalam pekerjaan yang mengandalkan negosiasi, pengambilan keputusan, serta hubungan antarmanusia (human connection).

"AI memang canggih secara logika, akan tetapi tidak bisa menggantikan hubungan sesama manusia, termasuk soal deal bisnis," katanya.

Dia berharap leadership retreat yang dipandu para mentor profesional tersebut dapat membantu para pemimpin bisnis mengambil keputusan secara lebih cepat dan tepat dalam menghadapi dinamika dunia usaha yang terus berubah.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Geger Menhut dan Persoalan Lahan Kuansing dalam Sorotan Senayan
• 14 jam laludetik.com
thumb
Polda Jateng Dalami Dugaan Penyalahgunaan Narkoba Oknum Anggota Polres Tegal Kota
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Banggar DPR Sebut Efisiensi MBG Berpotensi Turunkan Defisit APBN 2026
• 46 menit lalukumparan.com
thumb
Kanit Reskrim Polsek Kuta Ditangkap Propam Polda Bali Seusai Jalani Tes Urine Dadakan
• 26 menit lalujpnn.com
thumb
Charles Leclerc Kembali Percaya Diri Usai Juara di F1 GP Inggris 2026
• 16 menit lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.