Bisnis.com, JAKARTA — Ancaman El Niño mulai mengubah prospek industri sawit global. Di satu sisi, potensi penurunan produksi diperkirakan menopang harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) hingga 2027.
Namun, kenaikan harga tersebut belum tentu sepenuhnya menjadi kabar baik karena hasil panen juga diperkirakan menyusut sehingga pendapatan produsen, terutama petani, tetap menghadapi ketidakpastian.
National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) memperkirakan peluang terjadinya El Niño yang sangat kuat mencapai 63% pada periode November 2026 hingga Januari 2027. Jika proyeksi tersebut terjadi, peristiwa kali ini berpotensi menjadi salah satu El Niño terkuat yang pernah tercatat.
Di dalam negeri, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia terjadi pada Juli–September 2026.
Kondisi ini harus mulai diantisipasi seluruh lapisan masyarakat untuk memastikan ketersediaan air, kondisi kesehatan, serta kebutuhan multisektor yang terdampak dapat terkendali.
BIMB Securities memperkirakan harga rata-rata CPO mencapai sekitar RM4.400 per ton sepanjang 2026 dan meningkat menjadi RM4.500 per ton pada 2027. Kenaikan tersebut didorong ekspektasi pasar terhadap pasokan minyak sawit yang semakin terbatas akibat dampak cuaca ekstrem.
Baca Juga
- El Nino Ancam Industri Sawit
- Ilmuwan Ingatkan Ancaman Mega El Nino di Depan Mata
- Alarm Penurunan Panen CPO dan Ancaman El Nino
Analis Riset Ekuitas BIMB Securities Saffa Amanina Mohd Anwar menilai dampak terhadap pendapatan perusahaan perkebunan pada tahun ini masih relatif positif karena produksi tandan buah segar (TBS) diperkirakan tetap ditopang siklus panen musiman.
Namun, kondisi tersebut diperkirakan berubah mulai tahun depan. Menurutnya, apabila kekeringan semakin intensif pada paruh kedua tahun ini, dampak terhadap produksi mulai terlihat pada akhir 2026.
Sementara itu, penurunan hasil panen yang lebih nyata diperkirakan terjadi sepanjang 2027 akibat efek biologis tanaman sawit yang memang membutuhkan waktu sebelum menunjukkan penurunan produktivitas.
Kepala Riset CIMB Securities Ivy Ng juga memperkirakan produksi CPO Malaysia turun sekitar 2% hingga 3% tahun ini menjadi sekitar 19,7 juta hingga 19,9 juta ton.
Sementara itu, konsultan perkebunan M.R. Chandran memperkirakan produksi Indonesia berada pada kisaran 50,5 juta hingga 51 juta ton, lebih rendah dibandingkan realisasi 2025 yang mencapai sekitar 51,7 juta ton.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono mengakui potensi penurunan produksi akibat El Nino cukup besar.
"Kalau benar terjadi El Niño, produksi akan turun akibat keterlambatan panen. Produksi akan turun lebih tajam tahun depan karena pemupukan tidak dapat dilakukan saat terjadi El Nino dan juga karena tanaman stres," ujarnya kepada Bisnis, Senin (6/7/2026).
Menurut Eddy, berkurangnya produksi kemungkinan akan mendorong harga CPO naik, terlebih apabila pasokan minyak nabati lain juga mengalami gangguan.
Meski demikian, harga CPO tetap dipengaruhi perkembangan harga minyak bumi dan kondisi geopolitik global.
"Harga minyak sawit juga masih akan mengikuti harga minyak bumi. Kalau naik maka harga minyak sawit juga naik, kalau turun juga demikian," katanya.
Dia menambahkan apabila harga CPO mengalami penurunan, dampaknya terhadap petani plasma relatif lebih kecil karena harga tandan buah segar dievaluasi secara berkala melalui mekanisme yang melibatkan pemerintah daerah, perusahaan, dan koperasi.
Tak Jamin Kesejahteraan PetaniDi sisi petani, potensi kenaikan harga justru disambut dengan sikap hati-hati. Kepala Sekretariat Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (FORTASBI) Rukaiyah Rafik mengatakan kenaikan harga CPO memang berpotensi meningkatkan harga jual TBS.
Namun, keuntungan tersebut belum tentu sepenuhnya dirasakan apabila produksi ikut menurun akibat kekeringan.
"Kenaikan harga CPO pada dasarnya merupakan kabar baik bagi petani karena berpotensi meningkatkan harga jual TBS. Namun, petani juga menyadari bahwa El Niño dapat menurunkan produksi. Jadi, kenaikan harga belum tentu sepenuhnya memberikan keuntungan jika volume panen ikut berkurang," ujarnya.
Menurut Rukaiyah, kenaikan harga CPO juga tidak selalu langsung diteruskan menjadi kenaikan harga TBS di tingkat petani.
Harga TBS masih dipengaruhi berbagai faktor seperti mekanisme penetapan harga di masing-masing daerah, kualitas buah, panjangnya rantai pasok, proses sortasi di pabrik, hingga posisi tawar petani swadaya yang masih relatif lemah.
Karena itu, manfaat kenaikan harga internasional sering kali tidak langsung dirasakan petani.
FORTASBI juga mengingatkan bahwa ancaman El Niño bukan hanya berupa penurunan produksi buah sawit.
Kondisi cuaca yang lebih kering dapat mengganggu pembentukan bunga dan buah, menghambat penyerapan unsur hara dari pupuk, hingga meningkatkan risiko kebakaran terutama pada lahan gambut.
Akibatnya, dampak terhadap produksi dapat berlangsung beberapa bulan setelah periode El Niño berakhir.
Untuk mengurangi risiko tersebut, pemerintah dinilai perlu memperkuat pendampingan kepada petani melalui penerapan praktik budidaya yang adaptif terhadap perubahan iklim, seperti konservasi tanah dan air, penggunaan pupuk organik, mulsa, peningkatan bahan organik tanah, hingga penerapan pertanian regeneratif.
Selain itu, akses pembiayaan, penyuluhan, serta informasi iklim juga perlu diperkuat agar petani dapat melakukan langkah antisipasi lebih dini.
Di sisi lain, implementasi mandatori biodiesel B50 diperkirakan tetap memberikan dukungan terhadap harga CPO melalui peningkatan permintaan domestik.
Meski demikian, FORTASBI menilai manfaat tersebut baru akan benar-benar dirasakan apabila pemerintah juga memperbaiki tata niaga sawit dan mekanisme penetapan harga TBS sehingga kenaikan harga CPO dapat mengalir hingga ke tingkat petani swadaya.
Dengan demikian, El Niño menghadirkan dua wajah bagi industri sawit. Harga yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan nilai jual CPO, tetapi ancaman penurunan produksi membuat keberhasilan industri tidak lagi hanya ditentukan oleh pergerakan harga, melainkan juga kemampuan menjaga produktivitas kebun di tengah cuaca ekstrem.





